Persoalan itu disampaikan Bupati saat memanggil Plt Direktur RSUD Datu Sanggul bersama Kepala IGD ke ruangannya, ditemani Tenaga Ahli, Staf Khusus, Aspem Kesra, serta Kepala Dinas Kesehatan untuk meminta penjelasan mengenai berbagai aduan yang berkembang di masyarakat.
Menurut H Yamani, sejumlah laporan yang diterimanya berkaitan dengan lamanya waktu tunggu pasien di IGD hingga berjam-jam, serta proses penerimaan pasien yang dinilai kurang baik oleh keluarga pasien.
“Ada masyarakat yang mengadu kepada saya. Mereka datang sekitar pukul delapan pagi, tetapi sampai pukul satu siang masih berada di IGD. Selain itu ada juga keluhan terkait penerimaan pasien yang dianggap kurang bagus,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).
H Yamani menegaskan selama ini dirinya tidak pernah menuntut hal yang berlebihan kepada jajaran rumah sakit. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan manajemen maupun tenaga kesehatan, ia hanya meminta RSUD Datu Sanggul mampu menjadi rumah sakit yang membanggakan bagi masyarakat Kabupaten Tapin.
“Saya tidak muluk-muluk. Setiap kali memberikan sambutan atau bertemu pihak rumah sakit, yang saya minta hanya satu, rumah sakit ini bisa menjadi kebanggaan masyarakat Tapin,” katanya.
Banyaknya aduan yang masuk, menurutnya, menjadi sinyal adanya penurunan kualitas pelayanan, khususnya pada unit IGD. Karena itu, ia meminta penjelasan secara terbuka dari pihak manajemen rumah sakit mengenai kondisi yang terjadi di lapangan.
“Kalau keluhan seperti ini terus muncul, berarti ada yang harus dibenahi. Saya ingin mendengar langsung dari Direktur Rumah Sakit dan Kepala IGD bagaimana sebenarnya penanganan pasien selama ini,” tegasnya.
Padahal, lanjut Bupati, Pemerintah Kabupaten Tapin selama ini telah berupaya memenuhi berbagai kebutuhan yang diajukan pihak rumah sakit, baik fasilitas maupun usulan yang berkaitan dengan peningkatan layanan kesehatan.
“Segala fasilitas dan usulan yang diminta dokter sudah kita penuhi dan kabulkan. Tetapi ternyata sampai saat ini masih muncul penurunan pelayanan. Ini yang menjadi perhatian kami,” katanya.
Ia memahami bahwa melayani masyarakat, terutama di sektor kesehatan, bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan tenaga yang cukup, kesabaran, serta kemampuan berkomunikasi yang baik kepada pasien dan keluarganya.
“Yang penting keluarga pasien mendapatkan penjelasan yang masuk akal. Kadang masyarakat hanya ingin tahu kondisi sebenarnya dan mengapa harus menunggu,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui bahwa mayoritas keluhan yang diterimanya selama ini hanya berkaitan dengan pelayanan di IGD. Sementara untuk pelayanan rawat inap dan ruang perawatan, justru banyak warga yang menyampaikan apresiasi kepada tenaga kesehatan.
“Kalau di ruangan, saya justru sering menerima ucapan terima kasih dari masyarakat. Yang sering menjadi sorotan memang di IGD,” katanya.
Bupati juga tidak menutup kemungkinan dilakukan evaluasi menyeluruh apabila ditemukan persoalan yang berkaitan dengan sumber daya manusia maupun sistem pelayanan.
“Kalau memang SDM yang ada tidak bisa menyesuaikan kebutuhan pelayanan, tentu bisa dilakukan evaluasi secara menyeluruh,” tegasnya
H Yamani pun mempersilakan langkah tersebut dilakukan selama bertujuan memperbaiki pelayanan kepada masyarakat.
“Kalau memang perlu merekrut SDM baru untuk meningkatkan pelayanan, silakan saja. Yang penting jangan sampai ada sumber masalah yang terus berulang di situ,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Bupati berharap seluruh pihak dapat duduk bersama mencari solusi terbaik agar pelayanan kesehatan di RSUD Datu Sanggul kembali optimal dan mampu memenuhi harapan masyarakat.
“Untuk permasalahan ini, saya serahkan kepada semua pihak untuk mencari solusi terbaik. Yang terpenting masyarakat mendapatkan pelayanan yang baik dan merasa terlayani,” pungkasnya.
Editor : Arif Subekti