RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Amuntai - Investigasi kasus keracunan massal yang menimpa 53 siswa SMKN 1 Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), terus berjalan. Loka POM Tabalong kini mendalami dugaan sumber kontaminasi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala BPOM Tabalong, Taufiqurrahman, mengatakan pihaknya telah meminta keterangan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Selain itu, sampel makanan diambil dari dua titik, yakni sisa makanan di dapur SPPG dan kotak makan yang dikonsumsi siswa.
Dugaan Bakteri Patogen
Berdasarkan gejala awal, sejumlah siswa mengalami sakit perut sekitar satu jam setelah menyantap makanan. Hal ini mengarah pada dugaan adanya bakteri patogen dalam makanan.
“Namun kepastiannya menunggu hasil uji laboratorium. Sampel sudah kami ambil tadi malam dan saat ini masih proses inokulasi. Hasilnya kemungkinan keluar satu hingga dua hari ke depan,” ujar Taufiqurrahman.
Rekomendasi dan Evaluasi SPPG
BPOM Tabalong juga telah memberikan sejumlah rekomendasi kepada pihak SPPG agar kejadian serupa tidak terulang. Koordinasi dilakukan bersama pengelola SPPG dan mitra terkait.
Di sisi lain, insiden ini mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten HSU. Sekretaris Daerah HSU, Adi Lesmana, turun langsung menjenguk siswa yang dirawat di rumah sakit.
Pemkab HSU, melalui Satgas MBG, berencana menggelar koordinasi dengan seluruh SPPG di daerah tersebut. Tercatat ada 17 SPPG yang akan dilibatkan dalam evaluasi menyeluruh.
“Kami juga menggandeng BPOM Tabalong untuk menyusun rekomendasi. Salah satunya, tiap SPPG diminta tidak memproduksi lebih dari 3.000 porsi per hari. Ini masih akan kami diskusikan,” ujar Adi Lesmana, Jumat (24/4/2026).
Sekolah Diminta Aktif Awasi
Selain itu, pihak sekolah diminta lebih aktif dalam mengawasi makanan yang diberikan kepada siswa. Evaluasi menyeluruh dinilai penting untuk memastikan keamanan konsumsi dalam program MBG.
“Perlu ada evaluasi setelah kejadian ini,” tegas Adi. (*)
Editor : M. Ramli Arisno