RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Amuntai - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Antasari akhirnya menyampaikan permohonan maaf dan keprihatinan, atas kejadian puluhan siswa SMKN 1 Amuntai yang mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (23/4).
Kepala SPPG Antasari, Syifa Kamelia, menegaskan pihaknya menghormati proses pemeriksaan yang kini dilakukan instansi terkait untuk memastikan penyebab insiden tersebut.
“Dengan penuh rasa hormat dan kepedulian, kami menyampaikan keprihatinan atas kondisi para siswa dan sebagian warga yang sempat mengalami gangguan kesehatan. Kami juga memohon maaf atas keresahan yang timbul,” ujarnya, Jumat (24/4).
Investigasi Penyebab Gangguan Kesehatan
SPPG Antasari memastikan seluruh tahapan pengolahan makanan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, penyimpanan, hingga distribusi, telah mengikuti standar kebersihan dan keamanan pangan.
Meski demikian, Syifa menegaskan pihaknya tidak menutup diri terhadap evaluasi. SPPG siap bekerja sama dengan sekolah, Dinas Kesehatan, BPOM, serta pihak terkait lainnya.
“Kami siap mendukung seluruh proses evaluasi dan perbaikan agar ke depan pelayanan program MBG bisa berjalan lebih aman dan optimal,” tegasnya.
Operasional Dihentikan Sementara
Sebagai langkah antisipatif, aktivitas di SPPG Antasari saat ini dihentikan sementara. Penghentian operasional dilakukan hingga ada rekomendasi resmi dari pihak berwenang.
Insiden ini juga mendapat perhatian dari Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kalimantan Selatan yang telah turun langsung ke lokasi untuk memastikan penanganan berjalan sesuai prosedur.
Perkuat Pengawasan Internal
SPPG Antasari menyatakan akan menjadikan kejadian ini sebagai bahan evaluasi menyeluruh. Pengawasan internal akan diperketat, terutama pada kualitas bahan baku, distribusi makanan, dan sistem pengendalian mutu.
Pihak SPPG berharap masyarakat tetap memberikan dukungan agar proses pemulihan berjalan lancar. Mereka juga menekankan komitmen untuk memastikan program pemenuhan gizi bagi siswa dapat berlanjut dengan standar keamanan yang lebih baik. (*)
Editor : M. Ramli Arisno