RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Sempat terseok akibat minimnya pemasukan, Perusahaan Air Limbah Daerah (PALD) Banjarmasin kini mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Salah satu langkah cepat yang diambil adalah menggenjot jumlah pelanggan, khususnya dari segmen Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dari sekitar 80 unit SPPG yang ada, sebanyak 61 di antaranya telah menjalin kerja sama pengelolaan limbah dengan PALD.
Direktur Utama PALD Banjarmasin, Endani, menyebut capaian ini sebagai pijakan awal sejak dirinya memimpin. Ia juga menegaskan adanya dorongan langsung dari Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin HR, untuk mempercepat penambahan pelanggan.
“Yang sudah bergabung kita apresiasi. Sisanya akan terus kita kejar,” ujarnya.
Menurut Endani, SPPG menjadi pasar potensial karena aktivitasnya yang rutin menghasilkan limbah, sehingga kebutuhan layanan bersifat berkelanjutan. Selain itu, PALD juga membidik sektor lain seperti hotel, restoran, kafe (horeka), hingga dapur umum.
“Semua potensi kita garap, yang penting ada peningkatan pelanggan,” tegasnya.
Tak hanya ekspansi pasar, pembenahan internal juga mulai dilakukan. PALD kini menginventarisasi aset tidak bergerak seperti lahan kosong, WC berjalan, hingga genset untuk dimaksimalkan sebagai sumber pendapatan tambahan.
Meski mengakui kondisi perusahaan belum sepenuhnya pulih, Endani optimistis langkah bertahap ini akan membawa PALD kembali sehat.
“Targetnya jelas, PALD harus bangkit dan kembali memberi kontribusi bagi daerah. Kami juga sedang menyiapkan roadmap bisnis ke depan,” katanya.
Namun, langkah tersebut mendapat perhatian dari DPRD Kota Banjarmasin. Wakil Ketua Komisi II, Hendra (PKS), mengingatkan agar peningkatan pelanggan tidak mengorbankan kualitas layanan.
“Ini progres bagus, tapi jangan sampai pelanggan bertambah sementara kesiapan teknis belum optimal,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kesiapan sistem, mulai dari kapasitas pengolahan hingga standar operasional. Diversifikasi pelanggan juga dinilai krusial agar tidak bergantung pada satu segmen.
“SPPG bagus, tapi horeka dan permukiman padat juga punya potensi besar. Ini harus digarap serius dan berbasis data,” tambahnya.
Hendra juga menyoroti pentingnya pengelolaan aset sebagai sumber pendapatan jangka panjang, serta mendesak penyusunan roadmap bisnis yang terukur.
“Pengelolaan limbah bukan sekadar bisnis, tapi juga menyangkut lingkungan dan kesehatan publik,” pungkasnya.
Editor : Eddy Hardiyanto