Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Jembatan Sungai Bakar Kian Turun, Distribusi Hasil Kebun Warga Ikut Terhambat

Norsalim Yahya • Rabu, 8 April 2026 | 14:24 WIB
KIAN MENURUN : Inilah kondisi jembatan di RT 5 Desa Sungai Bakar, Kecamatan Bajuin yang kondisinya terus mengalami penurunan kualitas. (Foto : Norsalim Yahya/Radar Banjarmasin)
KIAN MENURUN : Inilah kondisi jembatan di RT 5 Desa Sungai Bakar, Kecamatan Bajuin yang kondisinya terus mengalami penurunan kualitas. (Foto : Norsalim Yahya/Radar Banjarmasin)

 

BAJUIN - Kondisi jembatan box culvert di RT 5, Desa Sungai Bakar, Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanah Laut (Tala) terus mengalami penurunan kualitas. Struktur sepanjang sekitar 10 meter itu kini tampak semakin ambles, terutama di bagian tengah yang kian turun dan mengkhawatirkan.

Pantauan di lokasi, Rabu (8/4/2026), menunjukkan konstruksi jembatan mulai tidak stabil. Bagian bawah terlihat miring, sementara sisi kanan dan kiri hanya ditopang penahan sederhana tanpa cor permanen. Bekas lubang di tengah jembatan pun ditutup menggunakan material seadanya.

Situasi ini memaksa setiap kendaraan melintas dengan ekstra hati-hati. Pengendara roda empat bahkan harus merayap untuk menghindari bemper tersangkut pada bagian jembatan yang menurun. Kondisi tersebut memicu rasa waswas, baik bagi warga setempat maupun wisatawan yang melintas.

Padahal, jembatan ini merupakan akses utama menuju objek wisata Lembah Bajuin sekaligus jalur vital bagi aktivitas ekonomi masyarakat. Kerusakan yang terus terjadi mulai berdampak langsung pada mobilitas warga.

Kepala Dusun 1, Didiyani, mengatakan penurunan struktur jembatan semakin terasa dalam beberapa waktu terakhir. Ia menyebut kendaraan roda dua masih bisa melintas relatif mudah, namun kendaraan roda empat mulai terbatas.

 

“Kalau sepeda motor masih cukup mudah, tapi mobil hanya yang tertentu saja. Kalau mobil rendah, bempernya bisa menyangkut,” ujarnya.

Tak hanya itu, distribusi hasil kebun warga pun ikut terganggu. Warga, khususnya pemilik kebun sawit, terpaksa mengangkut hasil panen secara estafet menggunakan sepeda motor karena kendaraan angkutan berat tidak bisa melintas.

“Harapan kami jembatan ini segera diperbaiki. Selama belum diperbaiki, pembangunan di wilayah sini juga terhambat karena material tidak bisa masuk,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPRP Tala, H Syakhril Hadrianadi, memastikan perbaikan jembatan tersebut masuk rencana tahun ini. Saat ini, prosesnya masih dalam tahap administrasi dan penyesuaian anggaran.

Ia menjelaskan, anggaran sekitar Rp3 miliar telah disiapkan. Namun, desain konstruksi juga tengah ditinjau ulang dari rencana awal menggunakan girder menjadi lebih sederhana dengan memanfaatkan material dari jembatan sebelumnya.

“Kami masih melakukan penelaahan karena ada efisiensi anggaran dan banyaknya usulan pembangunan di PU. Tapi untuk jembatan ini tetap menjadi prioritas,” katanya.

Meski menggunakan konsep yang lebih sederhana, pihaknya memastikan kekuatan jembatan tetap diperhitungkan secara maksimal. 

Editor : Arif Subekti
#menurun #Tanah Laut #jembatan #kualitas air #Pelaihari