Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Perkuat Prinsip Kehati-hatian, Perbanas Pastikan Industri Perbankan Nasional Resilien Hadapi Gejolak Geopolitik Global

Muhammad Rizky • Jumat, 27 Maret 2026 | 18:37 WIB

Photo
Photo

Jakarta, 27 Maret 2026 — Industri perbankan nasional meningkatkan penguatan kerangka

manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian (prudential banking) di tengah meningkatnya

risiko global, dipicu eskalasi konflik Iran–Israel yang melibatkan Amerika Serikat dan

berpotensi menekan stabilitas harga komoditas strategis, khususnya minyak mentah.

Ketua Umum Perbanas yang juga Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk,

Hery Gunardi, menegaskan bahwa meskipun volatilitas eksternal meningkat, indikator

fundamental perbankan domestik masih berada pada level yang solid. Hal ini tercermin dari

pertumbuhan kredit yang tetap terjaga, likuiditas yang memadai, serta permodalan yang

kuat.

“Kami melihat risiko global meningkat, terutama melalui transmisi kenaikan harga energi

dan volatilitas pasar keuangan. Dalam konteks ini, perbankan akan semakin memperkuat

prinsip kehati-hatian melalui penguatan manajemen risiko dan kualitas aset,” ujar Hery.

Perbanas mencatat sejumlah langkah mitigasi telah dan terus diperkuat oleh industri

perbankan di Tanah Air. Beberapa langkah tersebut di antaranya melalui stress test sektoral

dan penguatan early warning system untuk mengantisipasi potensi penurunan kualitas

kredit. Adapun stress test sektoral dilakukan pada sektor-sektor yang sensitif terhadap

kenaikan biaya energi seperti transportasi, logistik, dan manufaktur.

Selain itu, lanjut Hery, perbankan juga meningkatkan disiplin penyaluran kredit melalui

pendekatan risk-based pricing, menjaga kecukupan likuiditas melalui optimalisasi rasio

liquidity coverage ratio (LCR) dan net stable funding ratio (NFSR), serta mengelola eksposur

nilai tukar secara lebih konservatif melalui strategi lindung nilai dan pengendalian posisi

devisa neto.

“Langkah-langkah ini penting untuk memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal

tanpa mengabaikan aspek stabilitas, khususnya di tengah ketidakpastian global yang masih

tinggi,” tambahnya.

Dengan bauran kebijakan tersebut, industri perbankan diharapkan tetap resilien dan

mampu menopang pertumbuhan ekonomi domestik, meskipun tekanan eksternal

berpotensi meningkat dalam jangka pendek hingga menengah.

Editor : Muhammad Rizky
#BBRI #BRI