KANDANGAN – Budaya duduk santai sambil menyeruput kopi dan berdiskusi sudah lama melekat di masyarakat Kandangan.
Tradisi itu tak luntur meski kini warung kopi bertransformasi menjadi kafe dan kedai modern.
Memasuki bulan Ramadan, aktivitas usaha kopi tetap berjalan.
Meski jam operasional terbatas, banyak kafe dan kedai di Kandangan masih ramai dikunjungi, terutama pada malam hari.
Salah satunya Tecco.Id, kedai kopi bergaya klasik yang menjadi tempat favorit warga.
Pemiliknya, Ifan, mengakui antusiasme pelanggan tetap tinggi meski jam buka dipersingkat.
“Kami kan biasanya buka dari siang sampai jam 9 malam. Kalau bulan Ramadan ini, kami buka dari jam 9 sampai jam 1 malam. Tapi Alhamdulillah meskipun hanya buka sekitar 4 jam saja, tapi antusiasme pelanggan tetap sama seperti hari biasa,” ujarnya.
Ifan menyebut, pendapatan memang menurun karena waktu operasional lebih singkat.
Namun, ramainya pengunjung membuat usahanya tetap bertahan.
“Kalau dari segi pendapatan, memang lebih sedikit dari hari biasanya karena bukanya cuman sebentar. Tapi dengan tetap stabilnya antusiasme pelanggan ini yang selalu ramai, Alhamdulillah, usaha kami masih bisa bertahan,” ucapnya.
Salah satu pelanggan, Muhammad Sya'ban, mengaku nongkrong sambil ngopi sudah menjadi bagian dari rutinitasnya.
“Nongkrong sambil minum kopi itu bagi saya sudah menjadi rutinitas atau kebutuhan untuk mengisi waktu luang, ditambah suasananya yang enak saat malam hari di bulan Ramadan, membuat saya menjadi lebih rileks, setelah lelah bekerja saat siang hari,” ujarnya.
Budaya minum kopi yang kuat di masyarakat Hulu Sungai Selatan membuat kedai kopi selalu menjadi tujuan utama untuk bersantai dan berbincang. Suasana malam Ramadan justru menambah kesan syahdu saat menikmati secangkir kopi.
Editor : Eddy Hardiyanto