BANJARBARU – Kawasan Guntung Manggis Ujung di Banjarbaru kerap dilanda banjir saat hujan berintensitas tinggi dan berlangsung lama.
Luapan air bahkan sering menggenangi rumah-rumah warga.
Pada banjir besar tahun 2025 lalu, jebolnya tanggul milik PT Galuh Cempaka sempat diduga memperparah genangan.
Dugaan tersebut ramai diperbincangkan di masyarakat dan media sosial.
Menanggapi hal itu, External PT Galuh Cempaka, Nunung Harianto menegaskan bahwa aktivitas pertambangan perusahaan tidak menjadi penyebab banjir di permukiman warga.
Kepada Radar Banjarmasin, Nunung membantah anggapan bahwa jebolnya tanggul tambang memperparah genangan di luar kawasan perusahaan.
“Secara topografi, lokasi kami berada di area yang lebih rendah. Jadi justru menjadi tempat tampungan air dari wilayah sekitar,” jelasnya.
Menurutnya, secara alami air akan mengalir ke dataran yang lebih rendah. Karena itu, tudingan bahwa PT Galuh Cempaka menjadi penyebab banjir di wilayah lain dinilai tidak tepat.
“Kalau disebut kami menyebabkan banjir di luar, itu terbalik. Justru kami yang menampung air,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, saat hujan deras melanda, tanggul tambang sempat jebol karena tidak mampu menahan kiriman air dari berbagai arah yang masuk ke area perusahaan.
Akibatnya, kawasan tambang yang sebelumnya telah dikeringkan kembali terendam, sehingga menimbulkan kerugian bagi perusahaan.
“Kalau air tidak masuk ke area kami, kemungkinan genangan di luar bisa lebih lama surut. Kemarin tidak sampai dua hari sudah surut karena air masuk ke lokasi tambang,” katanya.
Untuk mencegah kejadian serupa, perusahaan kini memperkuat sistem pengamanan tanggul dan pengelolaan aliran air.
Selain itu, pembukaan tambang aktif juga dilakukan secara terbatas, mengingat sebagian besar wilayah berada di kawasan rawa dengan karakter tanah lembek dan berisiko tinggi.
“Sistemnya buka sedikit, ambil, lalu ditutup kembali. Dengan begitu dampak lingkungan bisa dikurangi,” pungkasnya.
Editor : Eddy Hardiyanto