Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Terendam Banjir, Satu-satunya SD di Sungai Gampa Banjarmasin Terpaksa Diliburkan

Maulana Radar Banjarmasin • Jumat, 9 Januari 2026 | 15:22 WIB

TERENDAM: Satu-satunya Sekolah Dasar di Sungai Gampa terendam banjir. Aktivitas belajar mengajar terpaksa dihentikan. (Foto: Maulana/Radar Banjarmasin)
TERENDAM: Satu-satunya Sekolah Dasar di Sungai Gampa terendam banjir. Aktivitas belajar mengajar terpaksa dihentikan. (Foto: Maulana/Radar Banjarmasin)
BANJARMASIN-Banjir yang melanda Perkampungan Sungai Gampa, RT 22 Kelurahan Sungai Jingah, Banjarmasin Utara, berdampak serius terhadap dunia pendidikan.

Satu-satunya Sekolah Dasar (SD) di daerah tersebut terpaksa menghentikan aktivitas belajar mengajar karena gedung sekolah ikut terendam.

Tak hanya halaman sekolah yang tergenang air setinggi lutut orang dewasa, air juga masuk ke dalam ruang kelas. Akibatnya, pihak sekolah meliburkan siswa sejak awal masuk sekolah usai libur semester.

Pantauan di lokasi, Jumat (9/1/2026), kondisi sekolah tampak sepi. Para dewan guru tidak dapat hadir karena akses menuju sekolah masih terendam banjir sejak beberapa hari terakhir.

Operator sekolah, Ragil (32), menyebutkan jumlah siswa di sekolah tersebut sebanyak 65 orang.

Menurutnya, banjir mulai menggenangi kawasan sekolah sejak Sabtu malam lalu dan hingga kini belum surut. Pihak sekolah pun mengusulkan agar halaman sekolah dapat ditinggikan, sehingga aktivitas belajar mengajar bisa tetap berlangsung saat banjir datang.

"Harapannya halaman sekolah bisa ditinggikan. Apalagi sebentar lagi akan menghadapi ujian dan masuk bulan Ramadan, jam belajar biasanya juga lebih singkat," ujarnya.

Sementara itu, salah seorang guru,Jum'ah (50), mengungkapkan bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) sulit diterapkan di wilayah tersebut. 

Pasalnya, sebagian besar warga tidak memiliki fasilitas yang memadai.

"Rata-rata orang tua siswa bekerja sebagai buruh. Banyak yang tidak memiliki ponsel pintar, dan meskipun ada, terkadang masalahnya tak memiliki pake internet," katanya.

Ia menilai kebijakan pembelajaran berbasis digital tidak sepenuhnya bisa diterapkan di daerah terpencil seperti Sungai Gampa.

"Pemerintah ingin semuanya serba digital, tapi perlu melihat kondisi dan kemampuan masyarakat. Kalau di sekolah tersedia perangkat seperti laptop mungkin masih bisa, tapi kalau belajar di rumah sangat sulit," pungkasnya.

Editor : Sutrisno
#Banjir #banjarmasin