TAKISUNG - Warga pesisir Desa Takisung, Kecamatan Takisung, dihantui ancaman gelombang besar.
Sejumlah rumah yang berdiri di bibir pantai berada dalam kondisi rawan tersapu ombak akibat pasang besar air laut yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Gelombang tinggi mulai dirasakan warga sejak akhir Desember 2025 dan terus menunjukkan peningkatan, Selasa (6/1).
Kondisi ini memicu kecemasan, khususnya bagi warga yang rumahnya berada di jalur langsung terjangan ombak laut.
Pantauan di lapangan menunjukkan air laut telah menerjang bagian belakang sejumlah rumah warga.
Tak ingin risiko lebih besar, sejumlah warga memilih membongkar rumah mereka secara mandiri. Material bangunan dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
“Posisi belakang rumah sudah kena gelombang. Kalau dibiarkan, bisa ambruk,” ujar salah seorang warga.
Kepala Desa Takisung, Hadransyah menyebutkan, sedikitnya 11 rumah warga saat ini masuk kategori rawan terjangan gelombang laut, terdiri dari sembilan rumah di RT 14 dan tiga rumah di RT 11.
Menurutnya, tingginya risiko tersebut dipicu belum tersambungnya bangunan pemecah ombak (break water) di sepanjang pesisir belakang pemukiman warga. Berbeda di kawasan yang telah terlindungi break water yang relatif aman dari terjangan gelombang.
“Permukiman yang sudah ada break water kondisinya aman. Tapi yang belum tersambung ini sangat rawan,” kata Hadransyah.
Ia berharap pemerintah daerah segera melanjutkan pembangunan break water agar perlindungan pesisir lebih merata dan tidak ada lagi rumah warga yang terancam abrasi laut.
Sebagai informasi, pembangunan break water di kawasan pesisir Takisung telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanah Laut pada 2023. Namun, jarak antar pemecah ombak masih menyisakan celah puluhan meter yang kini menjadi titik rawan terjangan gelombang laut.
Editor : M Oscar Fraby