Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Suara Sirine Meraung di Sungai Lulut Banjarmasin! Warga Kaget dan Langsung Keluar Rumah

Endang Syarifuddin • Kamis, 11 Desember 2025 | 13:40 WIB
BERBUNYI: Petugas BPBD Kota Banjarmasin bersama tim kelurahan dan BNPB mengecek sirine peringatan dini bencana di Kelurahan Sungai Lulut, Banjarmasin Timur.
BERBUNYI: Petugas BPBD Kota Banjarmasin bersama tim kelurahan dan BNPB mengecek sirine peringatan dini bencana di Kelurahan Sungai Lulut, Banjarmasin Timur.

BANJARMASIN — Suasana pagi di Kelurahan Sungai Lulut, Banjarmasin Timur, mendadak gempar saat sirine peringatan dini banjir meraung keras, Kamis (11/12/2026).

Warga yang kaget langsung keluar rumah.

Banyak yang mengira terjadi kebakaran.

Ternyata, BPBD Banjarmasin bersama BNPB sedang melakukan uji coba sistem peringatan dini banjir.

Uji coba dimulai dengan demonstrasi cara mengaktifkan sirine manual yang terpasang di tiang setinggi 12 meter di belakang kantor kelurahan.

Dari speaker, suara instruksi langsung menggema, memberi tahu warga soal status bencana.

“Ini uji coba sirine siaga bencana. Ada tiga status: siaga, waspada, dan awas,” jelas Hanafi, Analis Mitigasi Bencana BPBD Banjarmasin.

Status siaga berarti warga diminta meningkatkan kewaspadaan.

Waspada menunjukkan kondisi mulai mengkhawatirkan, dan warga harus bersiap.

Sementara awas merupakan tahap paling kritis—warga wajib bergerak menuju lokasi aman atau melakukan evakuasi.

Prosedur pembunyian sirine sudah baku.

Kendali utama berada di BPBD, namun sistem memiliki jalur cadangan.

“Kalau kendali pusat gagal, warga yang ditunjuk kelurahan bisa menekan tombol manual,” sambungnya.

Aktivasi juga bisa dilakukan secara daring dari kelurahan ataupun langsung dari Pusdalops BPBD.

Indikator status awas jelas: aktivitas warga terganggu dan ketinggian air mendekati 1,5 meter.

“Kalau mobilitas lumpuh, itu masuk awas,” tegas Hanafi.

Dari BNPB, Gerry Fais Pratama menambahkan bahwa standar nasional peringatan meliputi tiga tahap: waspada, siaga, dan awas.

Ia menilai keputusan warga setempat yang menjadikan status awas sebagai pemicu sirine adalah langkah tepat.

“Warga yang paling tahu kondisi lapangan. Pengalaman mereka menentukan waktu terbaik evakuasi,” ujarnya.

Jangkauan sirine mencapai radius 2 kilometer, cukup untuk menjangkau beberapa RT.

Informasi dari speaker dapat langsung diteruskan warga ke lingkungan terdekat.

Dengan uji coba ini, Sungai Lulut dinilai semakin siap menghadapi kondisi darurat melalui kombinasi teknologi, koordinasi, dan kesiapsiagaan masyarakat.

“Jadi jangan sepenuhnya bergantung pada alat. Sirine hanya mempercepat informasi. Kuncinya tetap pada kesiapsiagaan warga,” pesan Gerry.

Editor : Eddy Hardiyanto
#suara sirine #banjarmasin #Sungai Lulut