Dari total 80 nama yang dikirim Kementerian Sosial sebagai data awal, hanya delapan penerima yang ditetapkan pemerintah desa.
Ketimpangan itu memicu kecurigaan serta desakan agar data dibuka secara transparan.
Baca Juga: Buka Tabungan Bank Kalsel ,Hadiah Langsung Voucher di Harjad HSS
Puluhan warga mendatangi kantor desa, Rabu (4/12/2025), menuntut kejelasan. Mereka menilai keputusan desa terlalu tertutup dan berbeda dengan desa sekitar yang memiliki jumlah penerima jauh lebih banyak.
“Yang kami tahu, ada 80 orang dalam data Kemensos. Kami hanya ingin tahu kenapa yang lolos cuma delapan,” ujar salah satu warga.
Sebagian warga bahkan menduga penetapan penerima didominasi orang-orang dekat perangkat desa.
Baca Juga: Buka Tabungan Bank Kalsel ,Hadiah Langsung Voucher di Harjad HSS
Situasi memanas ketika warga meminta daftar lengkap 80 nama tersebut ditunjukkan saat pertemuan, namun aparat desa disebut belum siap membuka data. Rekaman kericuhan pun viral di media sosial.
Camat Paringin Selatan, Riza Kurniawan, menegaskan pihak kecamatan telah meminta klarifikasi. Ia menyebut sebagian warga yang memprotes sebenarnya sudah masuk sebagai penerima BLT desa.
“Ini masalah miskomunikasi. Kalau sejak awal disampaikan jelas, mungkin situasinya tidak akan memanas,” ujarnya, Jumat (5/12). Ia memastikan pola komunikasi desa akan dievaluasi.
Baca Juga: Bank Kalsel Berikan Promo Voucher Belanja senilai Rp200 Ribu Untuk Tabungan Hadiah Langsung
Kepala Desa Murung Abuin, Ati Hartati, menjelaskan bahwa data dari Kemensos wajib diverifikasi ulang. Banyak nama gugur karena sudah menerima bantuan lain.
“Memang jumlah yang lolos sedikit karena desa melakukan verifikasi lebih ketat dibanding desa tetangga,” katanya.
Ia menambahkan, penolakan membuka daftar 80 nama pada rapat disebabkan pertimbangan administratif dari bidang kesejahteraan desa. (*)
Editor : M. Ramli Arisno