Meski curah hujan di Kalsel masih kategori normal, intensitasnya menuju puncak musim hujan tetap berpotensi memicu banjir bandang dan kiriman di wilayah hulu Pegunungan Meratus.
BANJARBARU – Memasuki bulan Desember, potensi banjir mulai mengintai sejumlah wilayah di Kalsel. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor mengingatkan bahwa intensitas hujan di wilayah Kalsel kini bergerak menuju fase puncak musim hujan.
Meski di bulan ini, intensitas hujan diprediksi berada pada kategori normal. Fungsional PMG Muda BMKG Stasiun Klimatologi Kalsel, Muhammad Arif Rahman menjelaskan, di Kalsel bagian barat, nilai normalnya berkisar 300–400 mm, sedangkan wilayah timur berada di kisaran 200–300 mm. Sementara itu, sebagian kecil wilayah selatan, terutama Tanah Laut, berpotensi menerima 400–500 mm per bulan. “Kondisi ekstrem umumnya jika curah hujan terjadi lebih dari 500 mm per bulan,” jelas Arif, Senin (1/12) malam.
Meski demikian, sejumlah potensi bencana hidrometeorologis seperti banjir bandang dan banjir kiriman tetap perlu diwaspadai. Terutama di wilayah hulu. Pasalnya, BMKG menyebut bahwa hujan lebat di wilayah hulu dapat memicu banjir bandang maupun banjir kiriman ke kawasan hilir.
Arif menuturkan, sejumlah kabupaten seperti Hulu Sungai Tengah (HST) dan Hulu Sungai Selatan (HSS) memiliki rekam jejak bencana serupa. Termasuk kejadian besar pada 2021 yang merusak banyak permukiman.
“Wilayah hulu, terutama yang berbatasan dengan Pegunungan Meratus, memiliki risiko banjir bandang yang harus diwaspadai. Sungai deras dan potensi longsor bisa menyumbat aliran sungai,” ingatnya.
Menurutnya, pemicunya hampir sama dengan bencana di Medan, Padang, atau Aceh. Yaitu curah hujan ekstrem yang berlangsung lama dan kerusakan lingkungan di area hulu seperti deforestasi dan alih fungsi lahan. Meski begitu, ia menambahkan bahwa kasus ekstrem di Sumatera beberapa waktu lalu dipicu oleh siklon tropis, yang merupakan fenomena yang umumnya tidak terjadi di Kalimantan.
Meski kategori normal, BMKG tetap meminta pemerintah daerah dan masyarakat untuk waspada dan meningkatkan mitigasi bencana. “Pantau selalu kondisi di hulu dan jangan abaikan peringatan dini. Mitigasi sederhana dapat mengurangi dampak bencana,” pesannya.
Lalu bagaimana dengan kesiapan di daerah? Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanah Bumbu memastikan, pihaknya sudah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim hujan yang berlangsung hingga Januari 2026. Termasuk potensi banjir di sejumlah wilayah.
Pemantauan dilakukan melalui sistem peringatan dini (early warning system/EWS) yang terpasang di tiga Daerah Aliran Sungai (DAS). Yakni di Batulicin, Kusan, dan Satui. Kepala Pelaksana BPBD Tanah Bumbu, Sulhadi, menyebut dari informasi BMKG, intensitas hujan di Tanah Bumbu mulai meningkat dan diperkirakan mencapai puncaknya dalam beberapa pekan ke depan. “Yang kami khawatirkan itu (puncaknya, red) di pertengahan Desember dan Januari,” ujarnya, Senin (1/12).
Sebagai langkah antisipasi, pihaknya akan menggelar apel kesiapsiagaan personel dan peralatan pada Kamis mendatang. Peningkatan curah hujan sebutnya akan terus dipantau, termasuk kemungkinan penetapan status siaga darurat apabila risiko banjir meningkat. “Untuk sekarang masih belum,” imbuhnya.
Sejumlah wilayah di Tanah Bumbu berada dalam kategori rawan banjir. Dari pemetaan pihaknya, ada di kawasan pegunungan dan sebaran tiga DAS besar. Hampir seluruh desa ini berpotensi terdampak jika intensitas hujan tinggi terjadi di bagian hulu.
Dia mengungkap seperti di DAS Batulicin. Wilayah rawan meliputi Desa Sela Selilau dan Karang Bintang di Kecamatan Karang Bintang, serta Desa Maju Makmur dan Maju Bersama di Kecamatan Batulicin. Sementara, di DAS Kusan, desa berpotensi banjir berada di Kecamatan Teluk Kepayang (Mangkalapi, Tibarau Panjang, Tapus), Kecamatan Kusan Hulu (Lasung, Anjir Baru, Rukam, Pacakan, Bakarangan), serta Kecamatan Kusan Tengah (Salimuran, Serdangan, Saring Sungai Binjai, Karya Bakti, Satiung).
Di DAS Satui, wilayah rawan berada di Desa Jombang, Sinar Bulan, Sungai Danau, Satui Timur, dan Satui Barat di Kecamatan Satui. Anak Sungai Satui, yakni Sungai Nibung di Kecamatan Angsana, juga berdampak pada Desa Karang Indah dan Angsana.
Sementara di Banua Anam, intensitas hujan mulai turun tinggi. Di Kabupaten Balangan curah hujan cenderung turun hampir setiap hari pada pekan ini. Meski belum mencapai kategori ekstrem. Kepala Pelaksana BPBD Balangan, Rahmi mengatakan, sebagian besar wilayah berada pada kisaran 100–150 milimeter per dasarian. Sedangkan kawasan hulu dan tengah mencapai 150–200 milimeter. “Hujan diperkirakan turun empat sampai enam hari dalam sepekan. Ini termasuk kategori tinggi, tapi belum ekstrem,” jelasnya, Senin (1/12).
Kondisi hujan yang berulang ini tetap berpotensi menimbulkan gangguan. BPBD mengingatkan adanya kemungkinan genangan, naiknya debit sungai, serta longsor lokal pada daerah perbukitan. “Kami imbau warga selalu memantau lingkungan, terutama mereka yang tinggal di bantaran sungai dan lereng Meratus,” pesannya.
Ia juga menanggapi kekhawatiran masyarakat setelah munculnya banjir bandang di Medan, Padang, dan Aceh. Menurutnya, Balangan memiliki potensi banjir serupa, namun dalam skala lokal. Faktor utamanya adalah kontur pegunungan Meratus dan banyaknya aliran sungai kecil yang cepat meluap ketika hujan turun terus-menerus. “Risiko itu ada, khususnya di wilayah hulu sungai dan lereng curam. Tidak sebesar kasus di daerah lain, tetapi tetap harus diwaspadai,” imbuhnya.
Pihaknya sudah memetakan sebagai wilayah rawan. Untuk potensi banjir bandang, terdapat di daerah Simpang Nadung, Kembang Kuning, dan Uyam (di Kecamatan Tebing Tinggi). Lalu Marindi, Putat Basiun, serta Bihara Hilir (Awayan), beberapa titik hulu di Halong, hingga kantong sungai kecil di Batumandi menjadi perhatian BPBD.
Sedangkan banjir besar dan genangan kiriman dari hulu berpotensi terjadi di Paringin, Paringin Selatan, Lampihong, dan Juai. “Mulai awal Desember sampai puncak musim hujan, daerah-daerah ini harus memperkuat kesiapsiagaan,” ujarnya.
Tak ingin terlambat, pihaknya sudah mengeluarkan sejumlah imbauan kepada warga. Masyarakat diminta mengamankan barang penting, memantau ketinggian air secara berkala, serta menghindari aktivitas di sungai, jembatan gantung, dan area rawan longsor saat hujan deras. “Jangan abaikan peringatan dini dari BMKG dan informasi SIGAB BPBD. Warga juga perlu menyiapkan tas siaga berisi dokumen penting, air minum, obat-obatan, dan senter,” tekannya.
Di HST, sejumlah wilayahnya memiliki kerentanan tinggi terhadap banjir, termasuk banjir bandang seperti yang pernah terjadi di Kecamatan Hantakan. Bahkan beberapa desa terdampak parah, seperti di Desa Alat, kemudian meluas ke desa-desa lain seperti Hantakan, Murung B, Bulayak, Batu Tunggal, Pasting, dan Kindingan.
“Selain tim reaksi cepat, kami menyiapkan armada roda dua, roda empat, perahu karet, serta perlengkapan rescue lainnya yang dibutuhkan saat terjadi banjir,” ujar Kepala Pelaksana BPBD HST, Ahmad Apandi, Senin (1/12).
Pihaknya mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di bantaran sungai dan zona rawan agar meningkatkan kewaspadaan. Yang paling penting sebutnya tetap tenang dan jangan panik. “Pantau informasi prakiraan cuaca BMKG dan kondisi debit sungai melalui radio komunikasi, amankan barang elektronik, ketahui titik evakuasi, dan simpan nomor penting seperti BPBD, Damkar, TNI-Polri, tenaga kesehatan, dan aparat desa,” pesannya.
Editor : Muhammad Rizky