Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Angkat Kearifan Lokal Kabupaten HSU, Film Dokumenter 'Peradaban di Atas Rawa' Diputar di Aula Idham Chalid

M Akbar Radar Banjarmasin • Sabtu, 8 November 2025 | 14:34 WIB
KEARIFAN LOKAL:Wabup HSU, Hero Setiawan bersama Kepala Balai Pelestarian Budaya Wilayah Kalselteng, Riris Purbasari (dua kanan) memulai pemutaran film dokumenter Peradaban di Atas Rawa.
KEARIFAN LOKAL:Wabup HSU, Hero Setiawan bersama Kepala Balai Pelestarian Budaya Wilayah Kalselteng, Riris Purbasari (dua kanan) memulai pemutaran film dokumenter Peradaban di Atas Rawa.

AMUNTAI – Balai Pelestarian Budaya Wilayah XIII Kalimantan Selatan dan Tengah (Kalselteng) menggelar pemutaran film dokumenter berjudul “Peradaban di Atas Rawa” di Aula Idham Chalid, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Sabtu (8/11/2025).

Kegiatan ini dihadiri Kepala Balai Pelestarian Budaya Wilayah XIII Kalselteng, Riris Purbasari dan Wakil Bupati Kabupaten HSU, Hero Setiawan mewakili Bupati HSU, H Sahrujani, pejabat daerah, pelaku budaya, akademisi, serta masyarakat setempat.

Selain pemutaran film dokumenter, kegiatan juga diisi Basuluh Banua 2025 yang merupakan seminar berskala regional tentang kebudayaan masyarakat di HSU yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten HSU.

Dalam kesempatan tersebut, dilakukan penyerahan buku tentang Kabupaten HSU, serta bunga Cempaka Abadi sebagai simbol persahabatan dan komitmen pelestarian budaya antara Balai Pelestarian Budaya Kalselteng dan Pemerintah Kabupaten HSU.

Film dokumenter “Peradaban di Atas Rawa” mengangkat kehidupan masyarakat Desa Tampakang, Kecamatan Paminggir yang mayoritas merupakan suku Banjar dan dikenal sebagai peternak kerbau rawa sekaligus nelayan tangkap.

Saat ini terdapat sekitar 50 peternak dengan total populasi mencapai 1.500 ekor kerbau rawa.

Salah satu peternak, H Fahri, pada film tersebut, menyampaikan bahwa beternak kerbau rawa sudah menjadi tradisi turun-temurun di keluarganya.

Selain sebagai sumber ekonomi, kerbau rawa juga memiliki nilai sosial dan budaya, terutama saat Maulid Nabi, Idulfitri, dan Iduladha, ketika warga bergotong royong melakukan pemotongan dan pengolahan daging secara bersama.

Budaya gotong royong dan solidaritas sosial masih lekat di kawasan ini. Kaum ibu juga aktif membuat kerajinan anyaman purun yang menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga.

Menurut sejumlah akademisi, masyarakat di kawasan rawa telah beradaptasi secara alami dengan lingkungan.

Meski belum ada kajian ilmiah mendalam tentang peradaban di atas rawa, di beberapa titik sempat ditemukan gerabah dan keramik kuno, namun jejak tersebut kini mulai hilang tergerus waktu.

Riris Purbasari mengatakan keberadaan rawa di wilayah ini merupakan contoh nyata bagaimana manusia dan alam dapat hidup berdampingan.

“Keberadaan rawa di wilayah Kabupaten HSU, khususnya di Kecamatan Paminggir, mampu membawa masyarakat beradaptasi dan membangun peradaban khas yang menyatu dengan alam. Ini menjadi kekayaan budaya yang patut kita jaga bersama,” ujarnya.

Sementara itu, Hero Setiawan menyampaikan apresiasi kepada Balai Pelestarian Budaya atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Pemutaran film ini penting untuk memperkenalkan identitas masyarakat HSU. Hidup di atas rawa bukan sekadar bertahan, tetapi juga menunjukkan nilai-nilai gotong royong, kerja keras, dan harmoni dengan lingkungan,” ucapnya mewakili Bupati HSU, H Sahrujani.

Hero berharap karya dokumenter ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai budaya lokal serta menjaga kelestarian lingkungan rawa yang menjadi ciri khas Kabupaten HSU.

Editor : Fauzan Ridhani
#Hero Setiawan #Amuntai #Kabupaten Hulu Sungai Utara #kalselteng #Balai Pelestarian Budaya