Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Cuaca Ekstrem Rawan Puso, Petani di Kabupaten Banjar Terancam Gagal Panen

M Fadlan Zakiri • Rabu, 17 September 2025 | 13:15 WIB

 

KENA BANJIR: Kondisi salah satu sawah milik petani di Kabupaten Banjar, yang rusak terkena banjir beberapa waktu lalu.
KENA BANJIR: Kondisi salah satu sawah milik petani di Kabupaten Banjar, yang rusak terkena banjir beberapa waktu lalu.

Ancaman gagal panen menghantui petani Kabupaten Banjar. Hujan sering turun membuat padi yang sudah memasuki masa panen terancam puso.

   *****

MARTAPURA – Perubahan iklim kian terasa di Banua. Petani Banjar menjerit. Hasil panen turun tajam. Biaya tanam tak lagi sebanding dengan gabah yang dipanen.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Banjar, Warsita mengakui bahwa ancaman gagal panel memang sedang menghantui para petani di Kabupaten Banjar. Sejumlah wilayah bahkan dinilai sebagai wilayah rawan gagal panen. Di antaranya di wilayah Martapura Timur, Martapura Barat, dan sebagian Martapura Kota.

Menurutnya, situasinya hampir menyerupai bencana tahun lalu. Bedanya, saat itu air datang usai petani selesai menanam. Kali ini, genangan air meningkat ketika sebagian padi sudah mulai berbuah. “Kalau hujan berkepanjangan, risiko puso makin besar. Karena itu, kalau padi sudah bisa dipanen, sebaiknya segera dipanen,” ujarnya, Senin (15/9) petang.

Warsita tak menampik bahwa kondisi ini terjadi karena faktor cuaca yang belakangan sangat sulit ditebak. Harusnya sekarang masih musim kemarau. Namun kenyataannya hujan deras terus mengguyur, hingga memicu genangan di sejumlah titik. “Prediksi musim tanam makin sulit, akibat perubahan iklim,” katanya.

Distan Banjar, lanjut Warsita, akan menurunkan tim bersama Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) jika banjir terus meluas. Tim ini bakal mencatat dampak kerugian yang dialami petani.

Untuk mengurangi risiko gagal panen, pemerintah menyiapkan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dan Optimalisasi Lahan (Oplah). “Optimalisasi lahan mencakup normalisasi saluran dan peninggian tanggul. Harapannya bisa menekan dampak banjir ke depan,” jelasnya.

Warsita mengakui kondisi ini membuat sebagian petani kehilangan semangat bertaninya. Bahkan ada yang memilih berhenti bertani, karena tak tahan dengan risiko kerugian berulang. “Kami terus mendorong agar petani tetap semangat dan memanfaatkan program bantuan dari pemerintah,” tukasnya.

Petani Merugi Akibat Cuaca dan Hama

Ancaman gagal panen di Kabupaten Banjar tidak bisa diremehkan. Sejumlah petani mulai merasakan dampaknya. Hasil panen mereka merosot drastis. Bahkan lebih dari separuh dibanding tahun sebelumnya.

Di Desa Pemurus, Kecamatan Aluh-Aluh, misalnya. Dari sekitar 500 hektare sawah yang mayoritas ditanami padi lokal jenis siam, hasil panennya turun tajam.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Karya Bersama, Saberan menyebut bahwa satu hektare sawah kini hanya mampu menghasilkan sekitar satu ton gabah. Padahal tahun lalu, bisa mencapai 2,5 ton, dan idealnya 3,5 ton. “Empat tahun terakhir terus menurun. Biaya tanam tidak sebanding lagi dengan hasil,” keluhnya.

Menurut Saberan, lahan pertanian di pesisir Pemurus memang sangat bergantung pada cuaca. “Kalau kemarau panjang, panen biasanya bagus. Tapi kalau kemarau basah, hasil turun. Tanah di sini butuh kondisi kering agar air laut bisa masuk dan menyuburkan lahan,” jelasnya.

Salah satu Ketua RT di desa tersebut, Ardiansyah menambahkan penurunan produksi dipicu cuaca tak menentu hingga serangan hama. “Pertumbuhan padi lambat. Saat keluar bulir banyak dimakan tikus dan burung,” ujarnya. Ia juga menyoroti penggunaan pestisida berlebihan yang ikut menurunkan kualitas gabah.

Keluhan serupa datang dari petani di Kecamatan Mataraman, Sugiman. Ia mengaku hasil panennya juga turun separuh lebih akibat pengaruh cuaca yang tak menentu saat ini. “Hujan yang masih turun bikin sulit memanen,” ungkapnya.

Kepala Bidang Pengendalian dan Penanggulangan Bencana (P2B) Distan Banjar, Imelda Rosanty menyatakan pihaknya sudah melakukan sejumlah intervensi. Di antaranya gerakan pengendalian hama tikus melalui kelompok tani dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP). “Mungkin hasilnya belum maksimal. Ke depan akan diintervensi dengan bibit unggul yang lebih tahan hama dan kondisi ekstrem akibat perubahan iklim,” harapnya.

Ancaman Gagal Panen di Kabupaten Banjar

- Wilayah rawan: Martapura Timur, Martapura Barat, sebagian Martapura Kota
- Penyebab utama: Banjir berkepanjangan, cuaca sulit diprediksi
- Hasil per hektare: hanya 1 ton (turun dari 2,5–3,5 ton)
- Faktor lain: Serangan hama tikus dan burung, penggunaan pestisida berlebihan

Program Pemerintah

- Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP)
- Optimalisasi Lahan (normalisasi saluran & peninggian tanggul)
- Rencana intervensi: Bibit unggul tahan hama & iklim ekstrem

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#pertanian #panen #cuaca #padi