BAJUIN - Kepala Desa Sungai Bakar, Kecamatan Bajuin, Tanah Laut, Kalsel, Hadran menyampaikan keprihatinan atas kondisi Embung Bakar yang dibangun di wilayahnya.
Menurutnya, infrastruktur yang dibangun sejak 2022 itu belum menunjukkan manfaat signifikan, terutama dalam menghadapi bencana banjir.
"Embung ini dibangun dengan anggaran besar, tapi fungsinya masih dipertanyakan. Saat banjir besar kemarin, justru tidak terlihat dampak positif dari keberadaan embung tersebut," ujar Hadran Selasa (8/7/2025).
Ia menilai bahwa pembangunan embung seharusnya menjadi solusi untuk mengurangi dampak bencana, bukan justru menambah kekhawatiran warga. Namun, dalam praktiknya, embung tersebut belum berfungsi optimal.
"Pelaksanaannya belum maksimal. Saat banjir terjadi, tidak ada pengendalian air yang efektif. Kami bertanya-tanya, sebenarnya apa fungsi embung ini?," ujarnya.
Menurut Hadran, salah satu persoalan utama adalah tidak adanya mekanisme pengaturan air, seperti pintu buka-tutup ataupun alat pengukur debit air.
"Di sana tak ada alat pengukur ketinggian air maupun pintu buka-tutup. Akibatnya, air masuk sepenuhnya tanpa kontrol dan menyebabkan luapan saat hujan deras," jelasnya.
Ia mengungkapkan bahwa dalam banjir terakhir, sebanyak 12 rumah warga terdampak, bahkan satu di antaranya hanyut terseret arus.
"Warga selalu menjadi korban. Ada rumah yang roboh dan hanyut karena luapan air yang tidak bisa dikendalikan," ungkapnya.
Selain itu, Hadran juga menyayangkan belum adanya manfaat embung bagi sektor pertanian, yang seharusnya menjadi salah satu tujuan utama pembangunannya.
"Sampai sekarang belum ada manfaat untuk lahan pertanian. Air hanya terkumpul di sekitar embung, itu pun kadang kering. Diduga karena endapan tanah dari pegunungan yang mengisi ruang embung," tambahnya.
Rencana awal pemanfaatan embung sebagai sumber air baku untuk PDAM juga belum terealisasi. Meskipun pengelolaan kebersihan embung telah diserahkan kepada desa oleh Balai Wilayah Sungai (BWS), Hadran menilai pengawasan terutama saat banjir masih sangat kurang.
"Pengawasan memang ada, tapi hanya saat banjir. Manfaatnya belum terasa oleh masyarakat," ujarnya.
Hadran berharap ada evaluasi serius dari pihak berwenang terkait keberlanjutan dan optimalisasi fungsi embung di desanya.
"Kami meminta kejelasan, apakah embung ini bisa benar-benar membantu mengurangi banjir. Harus ada langkah nyata agar warga tidak terus-menerus menjadi korban," katanya.
Editor : Arif Subekti