Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Digempur Thrifting dan E-Commerce, Potret Buram Pasar Konveksi Tradisional

Riyad Dafhi Rizki • Senin, 16 Desember 2024 | 11:46 WIB
NGANTUK: Pedagang di Pasar Baru Permai Banjarmasin menunggu kedatangan pembeli yang sangat sepi pada hari Minggu (15/12).
NGANTUK: Pedagang di Pasar Baru Permai Banjarmasin menunggu kedatangan pembeli yang sangat sepi pada hari Minggu (15/12).

Pedagang konveksi di pasar-pasar Banjarmasin bertumbangan. Mampukah Pemko Banjarmasin menyelamatkan penyumbang retribusi bagi daerah ini ?

       ***
Kegelapan menyelimuti lorong-lorong Pasar Baru Permai Banjarmasin, pada Minggu (15/12) siang. Lebih dari separuh kios tutup. Tersisa hanya pedagang yang bercengkerama satu sama lain. Tak ada keramaian, tak ada hiruk-pikuk tawar-menawar.

Di tengah kesunyian itu, seorang ibu dan anaknya mondar-mandir di antara kios. Setelah beberapa menit, mereka pergi tanpa membawa belanjaan. "Dulu, akhir pekan itu yang paling ramai. Sekarang, justru sebaliknya," ujar Dayat, seorang pedagang.

Para pedagang menyebutkan bahwa kemunculan Pasar Pagi—pasar dadakan yang menjual pakaian bekas (thrifting) di kawasan Pasar Lima yang hanya selemparan batu dari Pasar Baru Permai—turut memengaruhi sepinya pembeli.

Masyarakat yang cenderung lebih tertarik membeli pakaian bekas bermerek dibandingkan pakaian baru tanpa label. Akibatnya, daya saing pasar konveksi tradisional melemah.

Namun sepinya pasar ini tidak hanya terjadi di akhir pekan. Pada hari-hari biasa, kondisi pasar tak jauh berbeda. Sepinya pembeli semakin parah sejak pandemi Covid-19 yang membuat daya beli masyarakat menurun drastis.

Namun, bukan itu saja. Paling dirasakan pedagang adalah gempuran dari platform jual-beli online. "Masyarakat sekarang lebih suka belanja online," kata Dayat.

Persaingan menjadi tidak seimbang. Para distributor yang dulu hanya menjual barang grosir, kini ikut menjual eceran di platform online dengan harga jauh lebih murah. Iming-iming diskon, gratis ongkir, dan kemudahan bertransaksi membuat konsumen makin betah berbelanja dari rumah.

Bagi para pedagang konvensional, platform online adalah "arena tarung bebas" yang kian sulit dimenangkan. Bagi pedagang seperti Dayat, beradaptasi dengan teknologi bukan perkara mudah. "Pakai handphone cuma buat SMS dan telepon. Untuk jualan online? Tidak paham," katanya.

Setelah berdagang pakaian lebih dari 20 tahun, Udin Leha kini harus rela tidak bisa berjualan lagi. "Sekarang hanya menjagakan dagangan teman. Lumayan ketimbang berdiam di rumah," katanya.

Ia mengaku modalnya habis akibat penjualan yang menurun tajam. Kehabisan modal membuatnya tidak lagi mampu membeli barang untuk dijual.

"Bayangkan saja, dalam sehari kadang tidak terjual satu lembar pakaian pun. Kalaupun ada yang laku, uangnya habis untuk kebutuhan sehari-hari," katanya.

Bukan hanya itu, ia dan pedagang lainnya juga kesulitan untuk membayar sewa kios meski harga sewanya sudah jauh menurun.

"Dulu, sewa kios ini bisa mencapai Rp25 juta. Sekarang, Rp3 juta saja, tak ada yang mau," katanya dengan raut wajah kecewa.

Kondisi kumuh Pasar Baru Permai juga dinilai sebagai faktor yang memperburuk situasi. Kondisi pasar ini memang kian suram. Panas. Lantainya kotor. Di atas kepala, kabel listrik semrawut.
"Tapi retribusinya tetap ditarik," katanya.

Semestinya, kata Udin, Pemko Banjarmasin dapat lebih peduli dengan kondisi pasar, dan memberikan kelonggaran bagi pedagang yang kesulitan membayar retribusi. "Jangan cuma segel kios. Lihat dulu kondisi pasarnya seperti apa," cetusnya.

Menurutnya, tidak hanya menarik retribusi, pemko juga perlu memastikan kebersihan dan peremajaan pasar agar pengunjung tertarik untuk kembali berbelanja di sana.

"Tolong lah sarana dan prasarana pasarnya juga dibenahi. Jangan dibiarkan seperti ini. Kalau terus diabaikan pasti akan mati," katanya.

Pedagang lainnya, Ihsan (55) berharap Wali Kota Banjarmasin mau turun langsung melihat kondisi pasar. "Kalau cuma dinas yang lihat, mungkin sulit. Harapannya, wali kota sendiri yang turun ke sini. Biar tahu betapa sulitnya kami bertahan," tegas Ihsan.

Kondisi serupa juga terlihat di Pasar Sudimampir Banjarmasin. Salah satu pedagang yang telah puluhan tahun berdagang di sana, Imi menceritakan bahwa pasar ini dulu begitu ramai. Pembeli dari luar daerah pun datang ke sini. “Kita bisa jual satu lusin pakaian per warna. Sekarang, satu helai saja susah," ucap Imi dengan nada lirih.

Dulu, dari hasil berjualan pakaian, Imi bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga haji ke Tanah Suci. Namun, kini kondisi pasar sudah jauh berbeda. "Kalau dulu, pembeli selalu ada. Sekarang, satu hari bisa tidak ada yang datang sama sekali," keluhnya.

Grosir Tak Laku, Konsep Dagang Berubah

Imi terpaksa mengubah strategi berjualan. Jika dulu hanya menjual grosir—satu warna satu lusin—pembeli bisa membeli satuan sekarang.

"Zaman sudah beda, mau tidak mau harus ikut. Dulu kalau pembeli minta warna campur, tidak dilayani. Sekarang, siapa saja yang beli, langsung dilayani," katanya.

Kondisi sepinya sektor penjualan konveksi di pasar-pasar tradisional Banjarmasin, seperti Pasar Baru dan Pasar Sudimampir, ternyata telah diketahui oleh pihak Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Banjarmasin.

Kepala Disperdagin Banjarmasin, Ichrom Muftezar menjelaskan bahwa penurunan daya beli ini sebagian besar dipengaruhi oleh perubahan kebiasaan belanja masyarakat.

"Dulu, masyarakat harus datang langsung ke toko untuk berbelanja. Namun kini, mereka bisa membeli lewat platform e-commerce atau online," ujar Tezar.

Perubahan kebiasaan ini, menurutnya, bukan hanya terjadi di Banjarmasin. Tapi juga di seluruh Indonesia.

Untuk itu, pihaknya mengimbau para pedagang pasar tradisional agar beradaptasi dengan perkembangan zaman. "Jangan bertahan dengan pola perdagangan konvensional, ikuti tren saat ini. Manfaatkan platform yang ada, atau gunakan media sosial untuk mempromosikan produk," tambahnya.

Tezar juga menekankan bahwa dampak perubahan ini tidak hanya dirasakan oleh pasar di Banjarmasin, tetapi juga di tingkat nasional. Sebagai upaya untuk membantu pedagang konvensional, Disperdagin tengah mendorong pembentukan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar. Tujuannya agar pedagang pasar bisa bersaing dengan e-commerce yang semakin berkembang.

"Saat ini, kami sedang dalam proses seleksi untuk direksi dan dewan pengawas Perumda Pasar. Mudah-mudahan ini bisa segera terealisasi, sehingga pengelolaan pasar, baik dari sisi fisik maupun pedagangnya, bisa lebih baik," kata Tezar.

Tezar berharap dengan adanya Perumda Pasar, pedagang pasar Banjarmasin bisa memiliki platform e-commerce sendiri. Memungkinkan mereka untuk lebih mudah bersaing dengan toko online.

"Saat ini, Disperdagin tidak bisa membuat e-commerce sendiri. Tapi, Perumda Pasar diharapkan dapat melihat peluang ini, dan membangun platform digital bagi pedagang," jelasnya.

Tezar juga menekankan pentingnya sosialisasi yang masif agar masyarakat bisa mengetahui platform digital ini.

"Jika terealisasi, hal ini bisa meningkatkan kepercayaan pelanggan untuk berbelanja di pasar tradisional. Selain itu, ini juga bisa membuka lapangan pekerjaan baru, seperti pemberdayaan ojek pengkolan untuk mengantarkan barang kepada pembeli," katanya.

Selain itu, Disperdagin juga berencana untuk melakukan perbaikan dan peremajaan di beberapa pasar Banjarmasin untuk meningkatkan kenyamanan berbelanja.

"Pasar akan kami buat lebih bersih, nyaman, dan tidak kumuh. Kami akan pastikan tidak ada kebocoran atau genangan air," tuturnya.

Mengenai keluhan para pedagang terkait pembayaran retribusi di tengah penurunan penjualan, Tezar menegaskan bahwa pihaknya hanya melaksanakan aturan yang berlaku.

"Kami sudah menjalankan prosedur sesuai SOP. Namun, kami akan mempelajari lebih lanjut terkait retribusi yang tertunggak, karena banyak di antaranya sudah lama," pungkasnya.

Direktur Utama Perumda Pasar Baiman Banjarmasin, Muhammad Abdan Syakura berjanji akan mendorong digitalisasi bagi para pedagang di pasar konveksi. Para pedagang, katanya, akan diberikan pelatihan supaya bisa ikut bersaing di sektor jual-beli online.

"Nanti akan ada training soal e-commerce. Kami juga berencana menyiapkan space khusus sebagai percontohan yang pencahayaannya bagus sebagai tempat belajar bagi para pedagang," jelasnya.

Ia bilang, pihaknya juga masih mempelajari tentang cara peminjaman modal lunak bagi para pedagang. "Tapi terlebih dahulu kita analisis kendala mereka dalam berjualan ini apa saja," sebutnya.

Wakil Ketua Komisi 2 DPRD Banjarmasin, Hendra tidak memungkiri kondisi pasar konveksi tradisional di Banjarmasin semakin memprihatinkan. Ia berjanji akan segera membahas persoalan ini dengan Pemko Banjarmasin untuk mencari solusi.

"Pasar konvensional ini sangat terdampak oleh maraknya e-commerce seperti Tokopedia dan Shopee. Kondisi ekonomi saat ini juga berdampak, di mana daya beli masyarakat turun, hingga banyak yang terpaksa menggunakan tabungan," ujarnya.

Hendra menyebutkan, kebijakan fiskal dari pemerintah sangat diperlukan untuk membantu pedagang pasar konvensional ini. Menurutnya, langkah seperti penyegelan terhadap pedagang yang menunggak retribusi sebaiknya ditunda.

"Pedagang saja kesulitan buka toko, apalagi bayar retribusi. Kami mendorong agar ada keringanan retribusi sampai kondisi ekonomi membaik," tegasnya.

Selain itu, Hendra mendorong pedagang untuk mulai beradaptasi dengan dunia digital agar bisa bersaing.

"Kami berharap pedagang bisa mencoba digitalisasi, misalnya dengan pembayaran digital seperti QRIS atau bahkan membuka toko online, dan melakukan penjualan hybrid, baik offline maupun online," jelasnya.

Saat ditanya mengenai kemungkinan Pemko membuat platform e-commerce sendiri, Hendra mengungkapkan bahwa upaya tersebut pernah dicoba. Namun hasilnya kurang optimal.

Menurutnya, platform e-commerce sendiri itu lebih efektif bagi produk UMKM khas Banjar yang memiliki kekhasan tersendiri. Berbeda dengan produk umum seperti pakaian, efektivitasnya kurang terasa.

Hendra juga menyoroti masalah fasilitas di pasar, seperti kumuh, kotor, dan parkir yang dikeluhkan pedagang. "Sebenarnya, jika pedagang masih ditarik retribusi, maka sudah menjadi tanggung jawab Pemko untuk melakukan revitalisasi, termasuk perbaikan fasilitas," ujar Hendra.

Ia mengakui bahwa Pemko masih kurang dalam hal perbaikan pasar. Pendapatan dari retribusi pasar yang rendah selalu jadi alasan kendala perbaikan fasilitas tersebut.

Namun, ia berharap agar retribusi yang dipungut dari pedagang bisa kembali dalam bentuk pelayanan memadai. Bukan sekadar sebagai sumber pendapatan daerah. "Jangan sampai retribusi ditarik tanpa ada timbal balik yang nyata," tutup Hendra.

Beragam Kendala Pedagang Konveksi

- Ada penjual pakaian bekas (thrifting).
- Perubahan perilaku pembeli yang lebih memilih e-commerce seperti Shopee dan Tokopedia.
- Kondisi lorong-lorong di pasar gelap, kotor, dan rawan dengan kejahatan maupun premanisme.
- Retribusi terus ditarik, uang sewa toko harus selalu dibayar, sedangkan pelayanan yang kembali ke pedagang sangat minim seperti pelatihan maupun pembinaan dari pemerintah.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Indepth #banjarmasin #Teknologi #konveksi #Pasar #ecommerce