Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ada Perbedaan Pendapat Soal Makam Fatimah Al-Banjari di Kabupaten Banjar, Lokasinya Di Desa Ini

M Fadlan Zakiri • Selasa, 22 Oktober 2024 | 08:12 WIB

 

BEDA PENDAPAT: Makam Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis di Jalan Keramat, Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura.
BEDA PENDAPAT: Makam Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis di Jalan Keramat, Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura.

Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, jadi tempat peristirahatan terakhir bagi Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis. Lokasinya berada di Jalan Keramat, tepat di samping Kantor Kepala Desa Tungkaran. Di sana terlihat berdiri sebuah bangunan beton atau kubah yang di dalamnya ada lima makam. Makam Datu Bajut, Syekh Abdul Wahab Bugis, Datu Bidur, H Musyait Wali, dan Datu Fatimah.

Datu Bajut dan Datu Bidur adalah istri-istri Datu Kelampayan. Datu Bajut berasal dari Desa Kampung Melayu, Martapura yang merupakan keturunan Tionghoa.

Sedangkan Datu Bidur dari Desa Dalam Pagar, Martapura, satu kampung dengan Datu Kelampayan.

Syekh Abdul Wahab Bugis adalah menantu Datu Kelampayan, dan H Musyait Wali adalah cucu Datu Kelampayan.

Terakhir, Datu Fatimah. Nama ini merupakan sebutan masyarakat Banjar untuk Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis.

Keempat nama ini tertulis jelas pada papan nama di depan gerbang makam yang juga menjadi makam muslimin atau makam warga setempat. Makam ini juga masuk dalam daftar destinasi wisata religi pertama di Kabupaten Banjar.

Namun, sempat terjadi perdebatan penulisan nama Datu Fatimah pada papan nama tersebut. Hal ini diungkapkan Sekretaris Desa (Sekdes) Tungkaran, Helmi.

“Saya lupa tanggal dan tahun tepatnya kapan, yang jelas tulisan Datu Fatimah di plang (papan nama) itu pernah ditutup lakban warga dan zuriat Datu Kelampayan di Desa Dalam Pagar,” ungkapnya.

Peristiwa ini terjadi karena perbedaan pendapat mengenai titik makam milik Datu Fatimah. Saat itu, kelompok yang mempermasalahkan, meyakini bahwa jasad cucu Datu Kelampayan pengarang Kitab Parukunan Jamaluddin ini bukan yang berada dalam kubah.

Sehingga mereka melakukan protes dengan menutup tulisan Datu Fatimah di plang papan informasi yang dibikin Dinas Pariwisata Kabupaten Banjar tersebut. “Kata mereka, makam Datu Fatimah yang benar ada di luar kubah,” ungkap Helmi.

Di sisi lain, ada juga masyarakat yang yakin bahwa salah satu makam yang berada dalam kubah itu adalah milik Datu Fatimah.

Meski tidak ada tulisan yang jelas, bentuk nisan dan tutur masyarakat zaman dulu dinilai cukup jadi landasan oleh kelompok ini. “Kelompok yang setuju (dengan titik makam yang sekarang) meyakini bahwa secara budaya anak dan ayah pasti dimakamkan berdekatan,” jelas Helmi.

Ketika ditanya mana yang benar, Helmi mengaku tidak berani menyebut kelompok mana paling tepat mengenai titik makam Datu Fatimah.

“Mengenai siapa yang benar, saya tidak berani menentukan, Wallahua’lam. Yang jelas dalam papan informasi yang dibikin Dinas (Disbudporapar Kabupaten Banjar) beliau dimakamkan di dalam kubah,” ujarnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Religi #Banjar #Ulama #makam #islam #Sejarah