Awan hitam semakin sering terlihat di langit Kalsel. Tidak hanya menghasilkan hujan, juga sambaran petir. Waspada, sudah ada korbannya.
*****
BANJARBARU – Belakangan ini, masyarakat sedang dihebohkan dengan kabar tentang dua peristiwa sambaran petir yang menelan korban jiwa. Kedua kasus tersebut, terjadi di tempat terpisah, namun di waktu yang hampir berdekatan.
Pertama, kejadian nahas yang menimpa seorang laki-laki paruh baya bernama Sakimin (57). Petani yang berasal dari Desa Takuti, Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar tewas tersambar petir pada Selasa (1/10) lalu.
Saat itu, Sakimin ditemukan warga dalam posisi terlentang di bawah pohon di Kelurahan Sungai Tiung Kecamatan Cempaka, Banjarbaru. Kemeja merah yang dikenakannya tampak rusak seperti bekas terbakar.
Kemudian terlihat jelas sobekan pada bagian celana sisi kanan, dan kaki kanan korban juga terlihat gosong, dan sebagian kulitnya terkelupas. Sementara bagian sebelah kiri kaki maupun celana korban tampak masih utuh.
Berdasarkan, hasil olah TKP dari Tim Inafis Polres Banjarbaru dan pemeriksaan medis RSD Idaman, Sakimin diduga kuat tewas akibat tersambar petir ketika sedang berteduh di bawah pohon.
Sambaran petir tidak langsung mengarah ke bagian tubuh, melainkan ke gawai korban yang berada di saku celana sebelah kanan.
"Sambaran petir mengakibatkan gawai korban meledak, hingga mengenai alat vital korban dan akhirnya menyebabkan korban meninggal dunia," ungkap Kasi Humas Polres Banjarbaru, AKP Syahruji.
Sebelum itu, petir diduga terlebih dulu mengenai bagian kepala dan telinga korban sebelah kanan. "Ada tanda hitam bekas luka bakar berbentuk kotak di bagian paha kanan korban, menyerupai bentuk gawai. Diduga korban meletakkan gawai itu di saku celana kanannya," ungkap Syahruji.
Kasus kedua, sambaran petir yang dialami petani cabai bernama Ahyar pada Rabu (2/10) sore. Petani yang tercatat sebagai warga Desa Panggung Baru, Kecamatan Pelaihari ini tewas tersambar petir ketika beraktivitas di kebun tempatnya bekerja di Desa Bentok, Kecamatan Bati-Bati, Tanah Laut.
Dalam video yang beredar di medsos, terlihat bahwa Ahyar terlihat tergeletak kaku dengan kondisi pakaian yang robek. Warga yang mengetahui kejadian ini langsung melaporkannya kepada aparat kepolisian setempat, dan korban pun ditutupi warga dengan kain serta dilindungi dengan terpal untuk melindungi tubuh korban dari derasnya hujan.
Kepala Desa Bentok, Syarwani menyebut bahwa peristiwa nahas itu terjadi di wilayah RT 10 Dusun 2. Tepatnya di area kebun belakang pabrik briket. “Informasinya korban memang baru dua hari bekerja di lokasi itu,” ujarnya singkat.
Kedua peristiwa sambaran petir tersebut salah satu dampak dari fenomena cuaca ekstrem setiap memasuki musim pancaroba, atau peralihan musim dari kemarau ke hujan.
Analis Iklim dari Stasiun Klimatologi (Staklim) Kelas I Banjarbaru, Arif Rahman menjelaskan bahwa saat ini wilayah Kalsel masih dalam masa transisi menuju musim penghujan (pancaroba).
Berdasarkan prediksi, awal musim hujan di Kalsel diperkirakan paling awal akan terjadi pada akhir September 2024, dimulai dari wilayah Tabalong, khususnya di Kecamatan Bintang Ara bagian utara, dan Muara Uya bagian utara.
Selanjutnya, sebagian besar wilayah Kalsel (sekitar 90,5%) diperkirakan akan memasuki musim hujan pada bulan Oktober 2024, dengan wilayah yang terakhir kali memasuki musim hujan yaitu sekitar 6,4% wilayah di bagian selatan Kotabaru (Pulau Laut dan Sebuku) pada bulan November 2024.
Di fase transisi cuaca Kalsel ini bukan berarti aman dari sambaran petir. Fenomena ini memang salah satu bahaya utama.
Bahaya ini, menurut Arif, akan semakin meningkat pada musim hujan, khususnya saat terjadi badai petir. Saat itu, risiko tersambar petir meningkat signifikan.
Di wilayah seperti Kalsel, petir sering terjadi saat hujan deras disertai dengan awan kumulonimbus. Dikenal sebagai awan penghasil petir. “Kondisi cuaca ekstrem ini lebih sering terjadi pada masa transisi (pancaroba), yaitu dari musim kemarau ke musim hujan, serta sebaliknya,” beber Arif.
Sambaran petir tetap bisa terjadi sepanjang musim hujan. Biasanya berlangsung dari Oktober hingga April di wilayah Kalsel.
Arif mengingatkan ada sejumlah faktor yang menyebabkan seseorang bisa tersambar petir. Pertama, berada di ruang terbuka, seperti lapangan, sawah, pantai, atau taman ketika terjadi badai petir. Dalam kondisi seperti ini, manusia menjadi objek yang lebih tinggi dari tanah di sekitarnya, sehingga lebih mungkin tersambar.
Kedua, dekat dengan objek tinggi. Petir cenderung menyambar objek yang lebih tinggi, seperti pohon, tiang listrik, menara, atau bangunan tanpa penangkal petir. Jika seseorang berlindung di bawah objek-objek ini selama badai petir, risikonya meningkat.
Ketiga, bersentuhan dengan benda logam. Logam adalah penghantar listrik yang sangat kuat. Orang yang memegang benda logam seperti payung, alat berkebun, atau berada di dekat pagar besi, antena, atau tiang listrik lebih berisiko tersambar petir.
Keempat, dekat dengan air. Air juga merupakan penghantar listrik yang sangat baik. Berenang, memancing, atau berada di dekat sungai, danau, atau pantai selama hujan petir sangat berbahaya karena petir dapat menyambar air, dan menghantarkan listrik kepada orang yang berada di sekitarnya.
Kelima, menggunakan perangkat elektronik. Menggunakan perangkat elektronik seperti ponsel yang terhubung ke pengisi daya, atau menonton televisi saat badai petir juga berpotensi berbahaya, terutama jika bangunan tidak dilengkapi dengan sistem penangkal petir yang memadai.
Langkah-Langkah Menghindari Tersambar Petir
1. Hindari berada di ruang terbuka selama terjadi badai petir. Jika mendengar gemuruh atau melihat kilatan petir, sebaiknya segera masuk ke dalam bangunan yang aman.
2. Jangan berlindung di bawah pohon atau objek tinggi lainnya seperti tiang listrik atau menara, karena objek tinggi lebih mungkin disambar petir.
3. Hindari kontak dengan benda logam selama badai petir. Jangan memegang alat-alat logam, seperti payung, alat berkebun, atau sepeda, dan hindari menyentuh pagar atau tiang logam.
4. Jangan berada di dekat atau di dalam air saat hujan petir. Hindari berenang, memancing, atau berdiri di tepi sungai, danau, atau pantai selama cuaca buruk.
5. Jika di dalam kendaraan, tetap di dalam dengan jendela tertutup. Kendaraan bisa menjadi tempat yang relatif aman selama badai petir karena efek pelindung dari kerangka logamnya.
6. Jangan gunakan perangkat elektronik yang terhubung dengan sumber listrik seperti ponsel yang sedang diisi daya atau alat elektronik lainnya, karena ini dapat meningkatkan risiko terkena aliran listrik dari petir yang menyambar jaringan listrik.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief