Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Nurtanio Pringgoadisuryo Lahir di Kandangan Tahun 1923, Menurut Sejarawan Begini Situasi Kandangan Saat Itu

Salahudin Radar Banjarmasin • Senin, 29 Juli 2024 | 09:32 WIB
Nurtanio Pringgoadisuryo Lahir di Kandangan Tahun 1923, Menurut Sejarawan Begini Situasi Kandangan Saat Itu
Nurtanio Pringgoadisuryo Lahir di Kandangan Tahun 1923, Menurut Sejarawan Begini Situasi Kandangan Saat Itu

BANJARMASIN - Meski lahir di Kandangan, Hulu Sungai Selatan (HSS), catatan lengkap mengenai sosok Marsekal Pertama TNI Nurtanio Pringgoadisuryo sungguh minim. Terutama misteri tentang perjalanan hidupnya saat berada di Kandangan.

Sejarawan Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin, Mursalin mengakui hal tersebut. "Hampir tidak ada catatan yang jelas mengenai peran Nurtanio di Kandangan. Perannya lebih banyak dicatat saat berada di Semarang, dan provinsi lain di Pulau Jawa," ungkapnya.

Berdasarkan data yang ia kumpulkan, sosok Nurtanio disinyalir lahir dari keluarga dengan kecukupan finansial. Seperti seorang pengusaha hasil bumi. Baik berupa hasil pertanian maupun perkebunan yang saat itu ada di daerah Kandangan.

Bila mengacu dari sistem pendidikan yang ditempuh Nurtanio, salah satunya ketika masuk di Europese Lagere School (ELS), ini dibangun Belanda. Menurut Mursalin, hanya segelintir orang atau orang mampu saja bisa masuk sekolah tersebut.

"Maka mustahil Nurtanio bisa masuk ke situ, apabila bukan berasal dari orang mampu," ujarnya.

"Minimal kelas pengusaha. Dan hanya golongan priyayi lah yang punya ketertarikan membaca," tekannya.

ELS sebenarnya juga berdiri di Banjarmasin. Lokasinya kini menjadi tempat berdirinya Kantor Bank Mandiri di Jalan Lambung Mangkurat, Banjarmasin Tengah.

Alasan mengapa Nurtanio justru memilih ELS yang ada di Semarang, menurut Mursalin, boleh jadi lantaran Kandangan hanya sebagai tempat orang tuanya bertugas atau bekerja sementara waktu.

"Ketika memasuki usia sekolah, mereka lalu memilih kembali ke Semarang," yakinnya.

Dari data yang dimiliki, Mursalin berasumsi bahwa ketertarikan Nurtanio tentang dunia teknik boleh jadi pula berawal dari pengalamannya ketika hidup di Kandangan. "Ada kemungkinan saat itu, Nurtanio melihat orang-orang Tionghoa yang pandai memperbaiki sepeda dan permesinan lainnya saat itu. Sehingga muncul ketertarikannya dengan dunia teknik," jelasnya.

"Karena dari data yang ada, ketertarikannya dengan perteknikan ini dipupuk dengan subur ketika ia memasuki usia sekolah," tambahnya.

Mursalin membeberkan bahwa pada 1923, jika mengacu pada tahun kelahiran Nurtanio, saat itu Kandangan merupakan pusat pengembangan pembangunan di Banua Lima. Selain Kota Banjarmasin, daerah tersebut adalah satu-satunya daerah di Hulu Sungai yang perkembangan ekonominya cukup pesat. Termasuk peredaran informasi.

"Ini menandakan bahwa peran Kandangan begitu sentral. Biasanya daerah sentral ini memang banyak orang-orang pendatang," ujarnya.

Sebagai perbandingan, Mursalin menuturkan tentang kisah seorang pejuang kemerdekaan dari etnis Tionghoa bernama Lie Kie Ming (asal Provinsi Fujian). Ketika datang ke Kalimantan, Lie Kie Ming justru langsung bermukim di Kandangan mengikuti sang kakak.

Keahlian Lie Kie Ming di bidang persenjataan militer tidak terlepas dari keahlian keluarganya dalam memperbaiki sepeda dan mesin. "Lie Kie Ming menjadi tentara, dan berjuang pada era revolusi fisik sebagai perakit senjata berkat keahliannya itu," jelasnya.

Terakhir, tentang arti dari nama Nurtanio sendiri yang berarti cahaya (nur) dan bertanilah (tani o). Ia berasumsi bahwa nama tersebut mungkin menggambarkan harapan orang tuanya untuk melanjutkan usaha tani. "Ini memang sebatas analisis pribadi. Namun penjelasan ini tetap bersandar dengan data yang ada sebagai perbandingan," ingat Mursalin.

Soal kehidupan Nurtanio di Kandangan juga diutarakan pemerhati budaya HSS, Aliman Syahrani. Ia mengatakan, tidak diketahui pasti berapa lama Nurtanio berada di Kandangan. "Apakah sampai dewasa, atau hanya sebagai tempat lahir saja. Tapi diperkirakan sebentar saja di Kandangan," ujarnya.

Saat di Kandangan, Aliman juga tidak mengetahui di mana tempat tinggalnya. Namun bila mengacu catatan bahwa orang tuanya bekerja di Kandangan, maka ia berasumsi kemungkinan tempat tinggalnya tidak jauh dari wilayah Kota Kandangan.

Editor: Wahyu Ramadhan

Editor : Arief
#Tokoh #Indepth #hulu sungai selatan #Sejarah