Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sejarah Kelam Kerusuhan Jumat Kelabu di Banjarmasin, Generasi Muda Bilang Begini

Sheilla Farazela • Jumat, 24 Mei 2024 | 08:55 WIB
MENDOAKAN: Mahasiswa ULM berziarah ke pemakaman massal korban tragedi Jumat Kelabu di TPU milik Pemko Banjarmasin di Landasan Ulin.
MENDOAKAN: Mahasiswa ULM berziarah ke pemakaman massal korban tragedi Jumat Kelabu di TPU milik Pemko Banjarmasin di Landasan Ulin.

BANJARBARU - Upaya menyegarkan ingatan tentang tragedi Jumat Kelabu memang harus dilakukan. Tak hanya untuk masyarakat di Kota Banjarmasin, cerita atau sejarah kelam yang menelan ratusan korban jiwa ini juga mesti dilakukan kepada generasi muda.

Dari sejumlah warga yang ditanya mengenai Jumat Kelabu, rata-rata mereka hanya mengetahui bahwa kejadian itu sebatas kasus pembunuhan massal di sebuah gedung bertingkat.

Seperti halnya yang diungkapkan Haikal. Remaja 18 tahun dari Banjarbaru ini baru mengetahui jika ada peristiwa memilukan yang terjadi saat masa kampanye pemilu di Kota Banjarmasin ketika berada di kelas XI. “Itupun tahunya cuma lewat Tiktok. Tidak pernah ada penjelasan dari guru maupun orang tua mengenai kejadian Jumat Kelabu,” ungkapnya.

Haikal hanya tahu tentang Jumat Kelabu adalah kejadian pembacokan antar kelompok masyarakat yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Jangankan penjelasan tentang kenapa peristiwa itu terjadi, tanggal dan lokasi kejadiannya juga tidak tahu persis. Apalagi jumlah korban,” ujarnya.

Haikal yakin jika ada guru yang menjelaskan tentang kejadian ini di sekolah, pasti para siswa akan antusias menyimaknya. “Walaupun tidak tinggal di Banjarmasin, bagi saya ini sejarah yang tidak boleh dilupakan. Tentu tujuannya supaya ke depan tidak lagi terjadi,” ucapnya.

Lain lagi dengan Sania Verawati. Perempuan 23 tahun ini ternyata baru saja mengetahui peristiwa kerusuhan dengan nama Jumat Kelabu itu di Kota Banjarmasin. Kerusuhan itu sepengetahuannya telah menyebabkan ratusan korban jiwa, hingga kerusakan pada sejumlah bangunan.

Berdasarkan cerita yang pernah didengarnya, jasad korban jiwa dalam Peristiwa Jumat Kelabu itu ditumpuk dalam satu wadah. "Tapi, sampai sekarang saya tidak tahu wadah apa yang dimaksud," katanya.

Warga Banjarbaru itu rupanya juga tidak mengetahui secara pasti, alasan maupun penyebab tragedi pada 23 Mei 1997 silam. Cerita Jumat Kelabu bahkan belum pernah sama sekali ia dengar, baik itu dari guru di sekolah, dosen, maupun orang tua.

Bahkan sebelumnya, Jumat Kelabu diketahui Sania hanyalah kasus pembunuhan. Bukan tragedi konflik. Ia baru tahu informasi itu dari rekan-rekannya di kampus. Jadi belum tahu detail kenapa bisa sampai rusuh. “Sepertinya masyarakat juga masih banyak yang belum tahu terkait Jumat Kelabu," ucapnya.

Berlatar rasa ingin tahu tentang Peristiwa Jumat Kelabu, Sania memberanikan diri ikut rombongan mahasiswa ULM, berziarah ke lokasi pemakaman para korban. Suasana pemakaman dihiasi sejumlah lukisan bawaan peziarah. Bagi Sania, ini menambah jelas bayangan kelam dan kesadisan yang telah dialami oleh para korban. "Tempatnya sepi sekali, terkesan angker. Sepanjang jalan, kanan kirinya hanya ada kuburan," jelasnya.

Meski sudah mendatangi pemakaman para korban, Sania merasa belum mendapatkan cukup banyak informasi. Ia berniat mencari saksi Jumat Kelabu. Tujuannya tidak lain hanya untuk mencari informasi dari sumber terpercaya. "Sekarang sambil mencari cari informasi, saya mau tanya langsung dengan saksi di Jumat Kelabu. Kabarnya bernama Mulyani," ungkapnya.

Menurut Sania, generasi muda khususnya di Kalsel perlu mengetahui cerita lengkap dari Peristiwa Jumat Kelabu. Ini sebagai pengingat bagi generasi muda. "Jangan sampai peristiwa serupa kembali terjadi, mengingat saat ini sudah masuk tahun politik. Semoga masyarakat tetap saling toleransi, meski memiliki perbedaan pendapat politik," sarannya.

Setiap Lewat Mitra Plaza Merinding

Masih membekas masa kelam tragedi 23 Mei 1997 di Banjarmasin di ingatan Yulian Manan yang kala itu bekerja di salah satu perusahaan BUMN di Banjarmasin. Yulian Manan dalam agenda Kuliah Rakyat di Studio Mini Perpustakaan Banjarbaru pada Kamis (23/5) sore, menceritakan bekerja sebagai salah satu engineering BUMN di Banjarmasin. Setiap kali melintas di kawasan Mitra Plaza Banjarmasin, acap kali bulu kuduknya merinding.

"Bayangkan saja, satu hari pascakejadian itu, saya sebagai engineering di PLN ditugaskan ke sana untuk menginventarisir kerugian PLN akibat kejadian chaos itu. Bau gosong, dan amis sudah jadi satu. Yang jelas sangat mengerikan," kenangnya.

Yulian memaparkan saat kejadian 23 Mei 1997 itu sedang diliburkan bekerja. Hari itu putaran terakhir masa kampanye yang diizinkan untuk berkonvoi. Saat itu ada pembagian kaos partai untuk seluruh karyawan, karena akan dilaksanakan pawai.

Setelah Salat Jumat, beredar informasi terjadi keributan di Jalan Hasanuddin HM Banjarmasin. “Saya dapat informasi dari salah satu tukang parkir, terjadi kerusuhan. Yang memakai atribut kuning akan diserang," ucapnya.

Yulian sebenarnya mendapat telepon dari kantor untuk tidak memasuki Kota Banjarmasin. "Saya yang kala itu naik motor ke arah dalam kota, melihat lah terjadi saling baku bacok. Ada juga beberapa wanita yang hanya memakai bra, karena baju yang dikenakannya dilepas lantaran termasuk atribut salah satu partai," kenangnya.

Salah satu dosen pengampu dalam Kuliah Rakyat, Hairansyah menilai ketika peristiwa itu terjadi seolah pengamanan tidak melakukan tindakan apapun. Ia sebagai wartawan kala itu turun ke lapangan, menyesuaikan dengan kondisi di sana. Dilarang memakai atribut berwarna kuning, ia ganti warna hijau. Hairansyah mencoba masuk ke suatu tempat.

Namun, di jembatan melihat sekelompok orang berpakaian hitam tanpa pengenal mengusir orang yang mau masuk. Sementara orang yang keluar juga tidak bisa. Jadi tertahan massa di dalamnya. “Malam itu lah menurut saya itu titik kelamnya," sebutnya.

Mendengar kisah menegangkan tersebut, Hafizahturahmah (17) dari MAN PK Martapura ikut prihatin atas kejadian tersebut. "Mendengar kisah salah satu saksi tadi, saya merasa sangat mengerikan. Ada peristiwa yang sangat membekas di hati masyarakat Banjarmasin, dan tak akan pernah terlupakan," ucapnya.

Hafizah pernah sekilas mengetahui peristiwa Jumat Kelabu dari orang tuanya. Namun, baru mengetahui mendetail kisah tersebut saat mengikuti pelaksanaan Kuliah Rakyat ini. "Kita sebagai generasi milenial jangan bersikap provokatif dan anarkis. Apalagi menjelang pilkada nanti, kita harus cerdas, tidak boleh melakukan suatu tindakan yang tidak rasional," sebutnya.

Salah satu mahasiswa JPOK ULM, Sulthan Akbar mengakui baru mengetahui peristiwa Jumat Kelabu saat mengikuti diskusi dalam kegiatan organisasi mahasiswa. "Pernah mendengar kisah tersebut dalam diskusi bareng BEM ULM. Juga pernah berkunjung ke makam massal, sangat mengerikan," harapnya.

Gara-gara peristiwa itu, puluhan tahun Banjarmasin mengalami kemunduran perekonomian. Untuk penyebabnya, Yulian tak bisa langsung menyimpulkan karena ada beragam pandangan. Siapa dalang di balik peristiwa itupun masih menjadi tanda tanya. “Namun dari perspektif saya mungkin pemicunya karena tidak ada rasa kepuasaan terhadap rezim kala itu. Bisa terlihat dari adanya perusakan atribut salah satu partai yang notabene adalah partai penguasa kala itu," tebaknya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#jumat kelabu #ULM #mahasiswa #Sejarah