Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mengingat Jumat Kelabu Banjarmasin Tanpa Suara

Wahyu Ramadhan • Kamis, 23 Mei 2024 | 10:14 WIB
TEATRIKAL: Aksi STB Uniska memperingati tragedi Jumat Kelabu di kawasan Pasar Sudimampir, Rabu (22/5).
TEATRIKAL: Aksi STB Uniska memperingati tragedi Jumat Kelabu di kawasan Pasar Sudimampir, Rabu (22/5).

Bukan maksud mengorek luka lama. Mereka hanya mengingatkan kita agar tragedi 23 Mei 1997 tidak berulang.

  ***
BANJARMASIN - Dari kawasan eks Mitra Plaza di Jalan Pangeran Antasari, barisan hitam itu berarak pelan menuju Jalan Pangeran Samudera, Banjarmasin Tengah.

Para perempuan itu mengenakan riasan serba hitam. Dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dengan coretan merah darah melingkari matanya.

Di pertigaan Pasar Sudimampir, tak jauh dari turunan Jembatan Antasari, mereka berdiri mematung.

Membentangkan spanduk bertuliskan, "Menolak Lupa Tragedi Jumat Kelabu, 23 Mei 1997."
Mereka lalu membentuk lingkaran. Pecah berpencar ketika mendengar pukulan gendang dari ember plastik.

Belari dan menjerit ketakutan. Mereka sibuk saling tunjuk, lalu terkapar.

Aksi teatrikal ini dibawakan 23 anggota Sanggar Titian Barantai (STB) Universitas Islam Kalimantan (Uniska) itu menyita perhatian masyarakat.

Meski tanpa dialog, penonton bisa menangkap pesan yang hendak disampaikan mahasiswa.

"Oh, ini mengenang tragedi Jumat Kelabu itu kan?" kata Bahrani, salah seorang warga yang mengabadikan momen itu dengan gawainya.

"Semoga tidak ada kerusuhan lagi di Banjarmasin," harap warga Kayutangi itu.

Photo
Photo

Itulah kerusuhan politik terbesar menjelang Reformasi.

Tim Pencari Fakta dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) mencatat 123 korban tewas, 179 hilang, dan 118 korban luka.

Kota Banjarmasin luluh lantak. Penjarahan dan pembakaran membuat perekonomian mundur. Ketua Umum STB Uniska Banjarmasin, M Riko Fakhrurozi mengatakan, aksi teatrikal ini merupakan upaya merawat ingatan.

Bahwa di Banjarmasin, pernah terjadi sebuah tragedi kelam. "Kita tidak ingin terulang, cukup sekali saja," ujarnya, Rabu (22/5).

Melalui aksi itu pula, mereka ingin mengingatkan tentang pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi.

Disinggung mengapa tak ada dialog atau penyataan sikap, ketua pelaksana Noor Khalifah menjawab, dalam sejarah Indonesia, tragedi ini masuk dalam wilayah abu-abu.

Pelaku utama, jumlah korban pasti, dan apa pemicu kerusuhan itu tidak pernah benar-benar terungkap.

"Jadi kami tampilkan hanya dengan gerakan," kata Khalifah.

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#teatrikal #jumat kelabu #banjarmasin #tragedi #mahasiswa #aksi