Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sultan Banjar: Lebih Baik Artefak Bersejarah itu Tetap di Belanda

Arief • Senin, 24 Juli 2023 | 10:47 WIB
Demang Lehman. | Foto: Barki.uma.ac.id
Demang Lehman. | Foto: Barki.uma.ac.id
Sultan Banjar Khairul Saleh justru tak setuju dengan rencana repatriasi. Menurutnya, lebih baik benda-benda bersejarah itu tetap berada di Belanda.

***


BANJARBARU - Belanda akan mengembalikan ratusan artefak ke Indonesia. Khairul Saleh ternyata tak sepakat dengan rencana itu. Sultan Banjar ini menilai, lebih baik benda-benda bersejarah itu tetap disimpan di Negara Kincir Angin.

Menurut Sultan, Belanda sengaja ingin mengembalikan sejumlah artefak budaya yang sebelumnya mereka jarah pada masa kolonial karena malu dengan generasi mudanya.

"Generasi muda mereka tidak tahu, negaranya dulu penjajah. Salah satu motivasi mereka mengembalikan artefak adalah ingin menghapus sejarah kelam itu. Jadi kita jangan terpancing," katanya kepada Radar Banjarmasin, Sabtu (22/7).

Apabila artefak masih disimpan di Belanda, maka generasi muda mereka tahu bagaimana kejamnya pendahulunya dengan rakyat Indonesia.

"Sehingga sejarah tidak hilang dan mereka bisa membayar kesalahan di masa lalu," ujar Wakil Ketua Komisi III DPR RI ini.

Kalau memang nantinya tetap dipulangkan, menurutnya Indonesia akan kerepotan menerimanya.

"Tengkorak Demang Lehman misalnya, kalau dikembalikan tidak mungkin dipajang di museum. Sesuai ajaran Islam, itu harus dikubur," ujar mantan Bupati Banjar itu.

"Kalau dikubur, maka sejarah kekejaman Belanda terhadap Demang Lehman bisa terhapus," tambahnya.

Tengkorak Demang Lehman merupakan salah satu bukti kekejaman Belanda saat Perang Banjar pada tahun 1864. "Ketika itu Demang Lehman digantung dan dipancung di Martapura, lalu kepalanya dibawa ke Belanda," ungkapnya.

Selain tengkorak Demang Lehman, Belanda juga menyimpan intan Sultan Adam seberat 37 karat di Rijk Museum Amsterdam. "Intan ini mereka rampas saat Perang Banjar," beber Sultan.

Menurutnya, intan Sultan Adam juga lebih baik tetap disimpan di Belanda. "Kalau dikembalikan, siapa yang menyimpan? Karena ini bukan milik pemerintah, tapi milik kerajaan dulu," ujarnya.

Supaya tidak kesulitan menyimpannya, ia ingin artefak milik Indonesia, khususnya dari Kesultanan Banjar tetap berada di Belanda.

"Sedangkan apabila ada catatan lain, khazanah, buku, atau kitab, mungkin bisa minta kopiannya saja," katanya.

Lalu artefak apa saja milik Kesultanan Banjar yang disimpan di Belanda?

Selain tengkorak Demang Lehman dan intan Sultan Adam, Khairul Saleh menyampaikan, Belanda juga menyimpan lukisan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari dan sejumlah keris pusaka.

"Kalau keris bisa saja dikembalikan. Tapi beberapa artefak lain lebih baik di Belanda saja," tutup politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu.

Photo
Photo


Diwartakan sebelumnya, Senin (10/7) di Leiden, delegasi Indonesia dan perwakilan pemerintah Belanda meneken penyerahan 472 artefak bersejarah.

Benda jarahan kolonial yang dipulangkan ke tanah air itu mencakup keris Klungkung, arca kerajaan Singhasari, koleksi seni Pita Maha, dan harta karun Ekspedisi Lombok 1894.

Repatriasi berarti pengembalian ke tanah asal, berasal dari kata re dan patria. Repatriasi sudah diupayakan sejak era Presiden Sukarno.

"Kepala Demang Bukan Pajangan"


PENELITI sejarah di Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kalsel, Wajidi Amberi berulang kali mengucap syukur.

Ia menganggap pemulangan 472 artefak dari Belanda ke Indonesia itu sebagai kabar gembira.

"Memang sudah selayaknya dikembalikan. Itu adalah identitas budaya dan sejarah kita di masa lampau," ujarnya kepada Radar Banjarmasin, Selasa (11/7).



Wajidi menegaskan, Belanda merampas dan menjarah. Jangan dianggap sebaliknya, Indonesia yang menyerahkannya secara cuma-cuma.

Berbicara tentang artefak yang berasal dari Kalsel, sejauh ini yang bisa disaksikan langsung hanya berupa koleksi arsip atau surat-surat atau penting.

Misalnya, surat perjanjian antara Kesultanan Banjar dengan Belanda. "Itu pun, hanya tiruan. Bukan surat-surat asli," tegasnya.

Kalau pun asli, hanya beberapa saja. Misalnya beberapa senjata yang kini disimpan Museum Nasional di Jakarta.

Selama bertahun-tahun, Pemprov Kalsel berharap Belanda mau mengembalikan tengkorak pahlawan Perang Banjar, Demang Lehman.

"Informasi yang saya terima, tidak hanya kepala Demang Lehman saja, tapi ada juga kepala Penghulu Rasyid," ungkapnya.

"Namun yang terdata sejauh ini dan menjadi katalog museum anatomi di Leiden itu cuma kepala Demang Lehman," tekannya.

Bagaimana bila ternyata bagian tubuh pahlawan Banjar itu dikembalikan? Wajidi menjawab, tentu tidak akan dipajang di museum.

"Kita perlakukan beliau sebagai pahlawan. Kita makamkan di tempat terhormat. Bukan dijadikan benda pajangan untuk museum. Apalagi tubuh manusia, yang harus diperlakukan secara layak," tekannya.

Tak habis sampai di situ, Wajidi juga menginginkan agar Belanda mengembalikan regalia Kesultanan Banjar.

Seperti yang diketahui, pada 1960 Kesultanan Banjar dihapus secara sepihak oleh Hindia Belanda.

"Salah satunya dengan membakar regalia kesultanan. Tapi saya meyakini, sebagian regalia itu disita kemudian dibawa ke Belanda," yakinnya.

Seperti apa persisnya regalia (tanda atau lambang penguasa) yang dimaksud, Wajidi mengaku belum mengetahuinya, "Untuk memastikan, tentu harus ada komunikasi antara pemerintah Indonesia atau Pemprov Kalsel dengan museum Belanda."

Andaikan nanti dipulangkan, apakah pemprov siap menyimpannya?

"Tentu harus ada kemananan yang memadai di museum. Jangan sampai justru tak pandai merawat. Kami akan antisipasi dan menyiapkan diri untuk mampu menjaga warisan budaya itu," jaminnya. (ris/war/gr/fud) Editor : Arief
#Sejarah Kalsel #COVER STORY #Sejarah Banua