Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Haul Datu Abulung Dipadati Ribuan Jemaah

Muhammad Helmi • Senin, 3 Juli 2023 | 15:17 WIB
KHUSYUK: Bupati Banjar H Saidi Mansyur, bersama wakilnya, Habib Idrus Al Habsyie saat menghadiri haul Syekh Abdul Hamid Abulung, Sabtu (1/7) pagi.
KHUSYUK: Bupati Banjar H Saidi Mansyur, bersama wakilnya, Habib Idrus Al Habsyie saat menghadiri haul Syekh Abdul Hamid Abulung, Sabtu (1/7) pagi.
Bupati Banjar H Saidi Mansyur, bersama Wakil Bupati Habib Idrus Al Habsyie menghadiri haul Syekh Abdul Hamid Abulung, Sabtu (1/7) pagi. Bertempat di Masjid Jami Syekh Abdul Hamid Abulung, Desa Sungai Batang, Kecamatan Martapura Barat, acara itu juga dihadiri para habaib, ulama dan ribuan jemaah.

Pelaksanaan haul diawali dengan pembacaan Maulid Habsyi oleh grup maulid guru Fahmi Sekumpul Martapura. Dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh ustaz
Ahmadi, serta ditutup dengan surat Yasin, tahlil dan doa. Saidi Mansyur mengatakan, pelaksanaan haul para aulia Allah merupakan tradisi yang harus dilestarikan dan dijaga oleh masyarakat sehingga daerah dijauhkan dari bala dan
musibah.

”Seperti haul Datu Abulung ini yang dapat mengumpulkan ribuan masyarakat untuk mengenang dan mengambil hikmah dari sejarah perjalanan beliau, sehingga bisa dicintai umat seperti sekarang,” pesannya.

Kedatangan ribuan jemaah ini lanjutnya, merupakan bukti mahabbah jemaah akan
seorang sosok wali Allah, dimana yang menghadiri haulnya dapat mendatangkan
keberkahan hidup. Sebagai pimpinan daerah Saidi juga tak lupa mengucapkan selamat hari raya Iduladha 1444 H untuk memohon maaf lahir dan batin. Sementara itu dalam tausyiahnya, Habib Segaf bin Hasan Baharun asal Jawa Timur mengajak jemaah untuk mengambil intisari dari perjalanan hidup Syekh Abdul Hamid Abulung.

Dijelaskannya, ilmu Datu Abulung merupakan ilmu hakikat yang tidak sembarang orang
bisa mempelajarinya. Ia mengungkapkan, seperti kisah pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir, yang mana Nabi Musa dengan ilmu syariatnya dapat mengambil pelajaran dari Nabi Khidir dengan ilmu hakikatnya.

Itu menunjukkan ada ilmu yang lebih tinggi lagi dari qih yaitu tasawuf, yang mempelajarinya harus dengan bimbingan ulama yang juga mahir di bidangnya.

”Tugas kita sekarang adalah melanjutkan estafet ilmu yang diwariskannya, serta menghasilkan anak-anak didik
yang cinta terhadap Rasulullah, zuriyat dan
alim ulama,” tutupnya. (ris/ij/ram) Editor : Muhammad Helmi
#Pemkab Banjar