"Guna memastikan keamanan dan kesehatan hewan, kami meningkatkan pengawasan lalu lintas hewan di lapangan," kata Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalsel, Suparmi.
Fokus pengawasan, hewan kurban yang dipasok dari luar daerah harus dipastikan aman dan bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK) dan lainnya.
"Kalau sudah dipastikan bebas penyakit, baru kami beri izin masuk Kalsel," ujarnya.
Disebutkannya, kebutuhan hewan kurban Kalsel dipasok dari berbagai daerah, seperti Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Timur.
Sementara itu, dokter hewan di Disbunnak Kalsel, Susanti Srirejeki mengatakan, hewan ternak yang datang dari luar provinsi akan dikarantina selama dua pekan.
"Ini untuk menghindari penyebaran penyakit," ujarnya.
Selain penyakit, ia menuturkan, ada hal lain yang perlu diperhatikan dari hewan kurban.
Seperti kondisi kulit, berat badan dan usia hewan."Nanti ada pengawasan pemotongan hewan kurban di setiap wilayah terkait kesehatan ini," paparnya.
Disbunnak Kalsel sendiri telah menghitung keperluan hewan kurban di Banua.
Kasi Pemasaran dan Promosi pada Disbunnak Kalsel, Heri Porwanto mengatakan, keperluan hewan kurban tahun ini kemungkinan mencapai 15 ribu ekor lebih.
"Sedangkan tahun lalu hanya sembilan ribuan," sebutnya.
Ia menyebut, keperluan hewan kurban meningkat, karena Iduladha tahun ini sudah memasuki masa endemi. "Beda dengan tahun lalu ketika masih pandemi," terangnya.
Untuk menutupi keperluan tahun ini, Disbunnak telah memetakan ketersediaan hewan kurban di Banua.
"Ketersediaan hewan kurban kemungkinan mencapai 18.153 ekor, tersebar di sejumlah peternakan di Kalsel," ucapnya.
Heri merincikan, belasan ribu ekor hewan kurban itu terdiri dari 12.956 sapi, 289 kerbau, 2.620 kambing dan 8 ekor domba.
"Tapi hewan-hewan ini sebagian ada yang perlu didatangkan dari luar pulau," pungkasnya. (ris/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi