“?Saat itu ‘kan Covid, pengadaannya sedari awal ada kerja sama dengan Bank Kalsel,” kata Wakil Ketua Komisi II DPRD Banjarbaru, Syamsuri.
Legislator Gerindra itu menuturkan, pengadaan tapping box itu sendiri bukan rencana baru. Terlebih sudah ada Perwali Banjarbaru yang menjadi payum hukumnya.
Tujuannya, ia katakan, untuk meningkatkan penerimaan pendapatan asli daerah
Syamsuri katakan, PAD Banjarbaru saat ini memang sudah baik. Namun, dengan tapping box, diharapkan lebih maksimal.
“Kami mendukung pemasangan tapping box, untuk memonitor transaksi objek pajak yang ada,” sebutnya.
Di lapangan juga ia katakan ada kendala. Yakni, tempat-tempat yang dipasang tapping box tidak menginput transaksi.
“Karena tempatnya, sedang ramai. Jadi tidak sempat menginput. Saat sudah sepi, baru dimasukkan,” ujarnya.
Kepala BPPRD Banjarbaru, Kemas Akhmad Rudi Indrajaya mengatakan, terdapat 300 alat yang sudah pihaknya anggarkan, dan 300 lain dibantu oleh Bank Kalsel.
“Selama ini, hanya ada 80 tapping box yang terpasang di restoran, kafe, hotel, guest house, dan tempat hiburan yang ada di Banjarbaru,” kata Rudi.
Penentuan objek pajak sendiri, ia katakan, berdasar pada tingkat keramaian pembeli. Ini berpengaruh pada potensi pemasukan restoran yang pajaknya bisa ditarik sebesar 10 persen.
“Lihat Warung Usup. Walau pun masih skala warung, tapi di sana pembelinya banyak,” sebutnya.
Selain itu, pihaknya berencana membuat undian dari pembayaran pelanggan di beberapa objek pajak yang ada di Banjarbaru.
“Jadi, struknya jangan dibuang. Nanti kita bakal undi,” imbuhnya.
Sebagai informasi, PAD Banjarbaru di tahun 2022 melampaui target. Yakni, 104,28 persen atau Rp150,8 miliar pertanggal 14 Desember 2022 lalu. (rvn/ij/ran) Editor : Muhammad Helmi