Gempuran pandemi Covid-19 membuat sejumlah usaha bangkrut. Namun, hal ini tidak berlaku bagi para penjual perlengkapan kematian. Semakin tinggi kasus virus corona, omzet mereka justru tambah meningkat.
-- Oleh: SUTRISNO, Banjarmasin
Radar Banjarmasin, kemarin (12/8) sengaja mendatangi sejumlah penjual perlengkapan kematian di Pasar Lama, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin untuk mengetahui bagaimana usaha mereka di tengah meningkatnya kasus kematian akibat Covid-19 di Kalsel.
Cukup banyak toko penjual alat-alat kematian atau perlengkapan mayat di Pasar Lama Banjarmasin. Mereka menandai toko dengan memasang spanduk atau papan kayu bertuliskan "jual alat kematian selengkapnya".
Salah satunya Toko Irsyad. Tempat ini menjual alat kematian lengkap dan dijual dengan sistem paketan. Mulai dari bunga tabur, nisan, kain kafan, sabun, minyak wangi, kapur barus, kapas, kendi, kemenyan dan lain-lain.
Saat ditemui wartawan koran ini, pemilik toko: Irsyad bersedia untuk diwawancarai terkait perkembangan penjualan peralatan kematian di tengah pandemi Covid-19.
Irsyad mengatakan, penjualan perlengkapan mayat saat ini meningkat cukup signifikan. Dari yang sebelumnya hanya terjual dua paket sehari, sekarang bisa sampai empat paket. "Mulai kelihatan naik signifikan pada akhir Juni tahun ini," katanya.
Saking banyaknya pembeli, dia mengungkapkan, tokonya sampai sempat kehabisan kain kafan. "Karena kiriman dari Jawa telat, sementara yang beli banyak jadi stoknya sempat habis," ungkapnya.
Selain di Toko Irsyad, kenaikan penjualan perlengkapan mayat di Pasar Lama juga dirasakan Toko H Amid. "Lumayan naik, sekitar 50 persen," beber Amid, pemilik toko.
Karena penjualan meningkat, dia menyebut saat ini harga perlengkapan mayat mengalami kenaikan. "Sebelumnya kami menjual Rp400 ribuan, sekarang Rp450 ribu per paket," sebutnya.
Penjualan alat-alat kematian sendiri kata dia sejak dulu memang tidak pernah sepi. Setiap hari selalu ada yang membeli. "Sebelum pandemi, sehari rata-rata terjual dua paket. Sekarang bisa sampai empat paket," pungkasnya.
Melihat prospek yang menguntungkan dari bisnis ini, beberapa pebisnis juga mulai mempertimbangkan untuk berbisnis alat kematian. Arul, salah seorang wirausahawan di Liang Anggang mengatakan dia sedang mencoba-coba untuk memulai. "Tapi saya di rumah saja bisnisnya, jadi pesannya melalui telepon," ucapnya.
Dia mengatakan tak punya uang untuk menyewa toko. "Lagipula kita tidak tahu bagaimana nanti bisnisnya, sampai kapan akan melonjak?". (ris/ran/ema)
Editor : Muhammad Helmi