TANJUNG - Kecintaan warga Kabupaten Tabalong dan sebagian warga luar daerah terhadap almarhum Syekh Muhammad Nafis Bin Idris Al Banjari sangat besar. Itu dibuktikan kehadiran mereka dalam jumlah ribuan di acara haul ke 18 ulama pengarang kitab Ad Durun Nafis di Desa Binturu Kecamatan Kelua, Minggu (14/1/18) kemarin.
Kedatangan mereka mengenakan pakaian muslim pun disertai keluarga dan kerabat terdekatnya. Sehingga, nuansa keagamaan sangat melekat dalam acara tersebut. Terlebih, kehadiran Habib Umar Bin Ahmad Bafaqih asal Jogjakarta dan KH Asmuni atau yang dikenal Guru Danau, serta Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tabalong H Ahmad Rasyidi Amin di tengah-tengah haulan.
Bupati Tabalong H Anang Syakhfiani, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tabalong H Darwin Awi, Kapolres Tabalong AKBP Hardiono menyertai hadir. Berikut, sejumlah pejabat-pejabat Pemkab Tabalong yang turut memeriahkan.
Haul ke 18 ini memang tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Acara diawali dengan alunan salawat kepada Nabi Muhammad SAW diiringi alunan kesenian habsyi. Kemudian, membaca Surah Yasin, tahlil dan zikir. Terakhir diisi dengan ceramah agama dari Habib Umar.
Bupati Tabalong turut diberi kesempatan menyampaikan sambutannya, yang diawali ungkapan terima kasih kepada seluruh kehadiran. Termasuk kepada para ulama.
"Meski sudah kami bangun, tapi suasananya tetap macet," cetus bupati, menggambarkan banyaknya warga yang berdatangan untuk berhaul, usai menceritakan sejumlah pembangunan di areal makam. Diantaranya, memindahkan musola, jalan dan meluaskan areal parkir.
Setidaknya, dana anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) tahun 2017 lalu sudah dikucurkan sebesar Rp2,5 miliar. Dan ditargetkan di tahun mendatang kembali akan dikucurkan dana rehabilitasi.
"Kami membangun ini supaya memberi kenyamanan dan kemudahan bagi penziarah yang datang," imbuhnya.
Habib Umar dalam tausiyahnya mengingatkan bagaimana seharusnya masyarakat menghormati ulama, meski sudah meninggal dunia. Sebagaimana, Syekh Muhammad Nafis.
"Haul itu bentuk penghormatan kita terhadap ulama. Ulama itu pewaris Nabi SAW. Yang ada pada didirinya adalah kepasrahan hanya kepada Allah SWT, sehingga patut untuk ditauladani," katanya.
Lebih utama, dia menambahkan, agar umat Islam mencintai dan melaksanakan perintah dan akhlak Nabi Muhammad SAW. Salah satunya sesama muslim harus saling mengucap salam. Baik bertemu maupun berpisah.
Dijelaskan Ketua MUI Kabupaten Tabalong, Syekh Muhammad Nafis adalah ulama besar yang lahir tahun 1735 masehi di Martapura, Kabupaten Banjar. Keluarganya merupakan bangsawan Kesultanan Banjar, dengan garis keturunannya dari Sultan Suriansyah.
"Syekh Nafis sejak kecil sudah menunjukan kecerdasannya yang tinggi. Itulah mengapa membuat Sultan Suriansyah mengirimnya mendalami ilmu agama ke Makkah, Arab Saudi," ujarnya.
Dalam buruan menuntut ilmu, sang syekh banyak mempelajari berbagai ilmu Islam. Diantaranya, yang membuatnya terkenal adalah ilmu tasawuf atau ilmu kedekatan dengan Allah SWT.
"Dari keilmuan yang didapatnya, dia (Syekh Muhammad Nafis) akhirnya mengarang dua kitab berbahasa arab. Satu kitab berjudul Ad Durun Nafis atau Permata Yang Indah jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia," imbuhnya. (ibn/ema)
Editor : Muhammad Helmi