Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Bapandung: Seni Teater Monolog Tradisional Khas Banjar, Diakui Resmi Sebagai Warisan Budaya

Rasidi Fadli • Rabu, 28 Januari 2026 | 09:12 WIB
TEATER MONOLOG: Kesenian Bapandung saat dipentaskan oleh seorang penutur yang disebut Pamandungan.
TEATER MONOLOG: Kesenian Bapandung saat dipentaskan oleh seorang penutur yang disebut Pamandungan.

TAHULAH Pian. Jauh sebelum panggung modern dan hiburan digital merambah kehidupan masyarakat Banjar, sebuah seni tutur telah hidup dan mengakar di Desa Pariuk, Kecamatan Candi Laras Utara, Kabupaten Tapin.

Seni itu bernama Bapandung. Teater monolog khas Banjar yang diperkirakan lahir sejak abad ke-19. Menjadi saksi perjalanan sosial dan budaya masyarakatnya. Dari mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi berikutnya, Bapandung hadir sebagai hiburan sekaligus media penyampai pesan kehidupan.

Dalam tradisi Bajagaan Pangantin, seni ini dulu dipentaskan semalaman suntuk, menemani hajatan warga dengan kisah jenaka yang sarat makna.

Kini, setelah melewati perjalanan panjang dan sempat berada di ambang kepunahan, Bapandung mendapat pengakuan nasional. Seni teater tutur tersebut, resmi tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Tapin, Riza Fahlevie, menyebut pengakuan ini sebagai momentum penting bagi pelestarian identitas budaya Banjar. “Bapandung bukan sekadar hiburan. Ia adalah warisan intelektual masyarakat Banjar yang memuat nilai budaya, moral, dan sosial yang masih relevan hingga hari ini,” ujarnya.

Secara tradisi, Bapandung merupakan teater monolog yang dibawakan oleh seorang penutur yang disebut Pamandungan. Dalam satu pementasan, Pamandungan berperan sebagai narator sekaligus memerankan berbagai tokoh hanya dengan kekuatan tutur, mimik wajah, perubahan suara, serta gerak tubuh.

Nama Bapandung sendiri berasal dari kata pandung yang berarti meniru tingkah laku. Dalam makna yang lebih dalam, Pamandungan seolah “menggendong” cerita agar tetap hidup di ingatan kolektif masyarakat Banjar.

Struktur pertunjukannya pun khas. Dimulai dengan pantun pembuka, dilanjutkan babakan cerita, lalu ditutup dengan pesan penegas. Humor menjadi senjata utama. Dihadirkan melalui teknik korban, kontras, hingga penyelarasan peristiwa yang membuat penonton terhibur sekaligus merenung.

“Kelucuannya itu pintu masuk. Tapi di balik tawa, selalu ada pesan tentang etika, norma, dan sikap hidup bermasyarakat,” terang Riza.

Pada masanya, Bapandung berdiri sejajar dengan kesenian Banjar lain seperti Mamanda, Wayang Gong, dan Basyair. Namun, perubahan zaman membuat kesenian ini kian jarang dipentaskan. Upaya pelestarian terus dilakukan. Kini, Bapandung kembali hadir dalam berbagai acara terbuka, mulai dari pagelaran budaya, pameran daerah, hingga peringatan hari besar.

Dalam pementasan, Pamandungan mengenakan busana khas Banjar seperti taluk balanga, kupiah, dan tapih rajung, dengan iringan gendang sebagai satu-satunya alat musik. Properti sederhana digunakan secara spontan, menciptakan suasana akrab dan komunikatif dengan penonton.

“Pengakuan sebagai WBTB ini menjadi motivasi besar bagi kami untuk mendorong regenerasi Pamandungan, agar Bapandung tetap hidup dan dikenal generasi muda,” tutupnya. 

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#seni #Budaya #khas #Banjar #Tapin #teater