Nama desa ini unik. Kupang.
Bukan kota di NTT. Tapi, sebuah desa di tepi Sungai Batang Balangan. Di Kecamatan Lampihong. Rumah-rumah warganya membentang sejajar dengan jalan raya.
Nama itu bukan asal tempel. Ada akar sejarah. Ada filosofi hidup di baliknya.
Tahun 1980-an, desa ini baru mekar. Lepas dari induknya.
Warga berkumpul. Musyawarah. Memilih nama apa yang cocok? Akhirnya dipilih: Kupang. “Nama Kupang dipilih melalui musyawarah warga saat itu. Mereka sepakat menamakan desa ini berdasarkan keberadaan pohon kupang yang tumbuh subur di wilayah tersebut,” ungkap Pamong Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balangan, Halianur.
Kupang di sini juga bukan hewan laut. Tapi pohon berbatang besar. Tinggi bisa 45 meter. Daunnya mirip petai. Nama lainnya juga kedawung.
Pohon ini istimewa. Biji buahnya jadi obat. Mengatasi sakit perut. Mengatasi diare.
Rantingnya jadi rumah lebah. Hutannya jadi sumber madu. Karena itu warga tidak pernah menebang pohon ini. Mereka jaga. Mereka rawat. Pohon kupang jadi penopang hidup.
"Pohon ini memberi banyak manfaat. Selain obat, juga sumber madu. Maka wajar kalau warga tidak menebangnya, dan terus menjaga kelestariannya," tambah Halianur.
Penamaan ini menjadi pengingat bahwa sebuah desa bukan hanya dibangun dari fisik dan administrasi semata, tetapi juga dari warisan nilai yang diwariskan secara turun-temurun. "Nama adalah identitas budaya. Maka penting bagi generasi muda untuk memahami sejarah desanya agar tidak tercerabut dari akar asalnya," pesan Halianur.
Kini, Desa Kupang tak hanya dikenal dari kisah pohonnya. Namun, juga dari semangat warganya yang terus menjaga nilai-nilai lokal sebagai bagian dari jati diri mereka.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief