Tahulah Pian, Pelaihari dikenal sebagai kota penghasil minuman tayuk. Minuman jenis arak ini sangat khas, dan hanya dapat ditemukan di Pelaihari, tepatnya daerah perkampungan Cina Parit.
Dahulu orang-orang tirai bambu yang datang ke perkampungan parit adalah para pekerja tambang. Tayuk menjadi minuman yang sangat berguna bagi kelancaran pekerjaan mereka.
Pada saat mereka menetap di perkampungan Cina Parit, mereka menambang emas dengan sistem tabangan. Sistem ini banyak memanfaatkan penggunaan air, sehingga para pekerja yang selesai bekerja akan merasakan kedinginan, dan kulit tangan mereka mengerut.
Untuk mengurangi rasa dingin dan menghilangkan kerut-kerut pada kulit, para pekerja tambang ini menengak minuman yang mereka ramu sendiri. “Ramuan itu mereka sebut dengan tayuk,” ungkap Ismail Fahmi, warga Pelaihari.
Tayuk juga digunakan oleh orang-orang Cina sebagai minuman pada saat merayakan hari-hari besarnya. “Minuman tersebut dihasilkan dari berbagai ramuan nabati dan bahan-bahan lain dari alam. Dari hasil pencampuran berbagai ramuan tersebut menghasilkan sebuah minuman yang multifungsi, bisa dijadikan sebagai minuman penghangat badan, atau bisa juga sebagai obat gosok penghilang kerutan kulit. Bahkan digunakan juga untuk obat gosok atau obat urut,” ujarnya.
Dari hasil pencampuran tersebut menghasilkan fermentasi alkohol. Jika terlalu banyak meminum tayuk maka akan mengakibatkan hilangnya kesadaran. “Biasanya orang-orang Cina Parit dahulu, setelah selesai bekerja ditambang mereka meminum tayuk dengan ditemani sepotong kue, yang biasa disebut kue keranjang,” ceritanya.
Namun sekarang tayuk yang asli sudah sangat sulit ditemukan. Tayuk yang benar-benar sesuai dengan racikan awal pada saat orang Cina datang pertama kali ke Pelaihari.
Minuman ini dahulu hanya dikonsumsi terbatas oleh kalangan mereka. Sekarang sudah dikonsumsi bukan saja dari orang-orang Cina Perkampungan Parit, tetapi juga oleh orang-orang dari luar.
Seperti halnya lem, zenith (obat tulang) dan alkohol, tayuk juga banyak disalahgunakan oknum dengan mengonsumsinya secara berlebihan. “Tayuk digunakan sebagai alat untuk mabuk-mabukan,” ujarnya.
Berhubung terjadi pergeseran fungsi tayuk tersebut, sebut Fahmi, membuat tayuk yang dulu bukan lagi tayuk seperti sekarang.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief