Tahulah pian, sejarah Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Divisi IV (A) Pertahanan Kalimantan Selatan? Ini adalah organisasi perlawanan bersenjata terhadap imperialis Belanda pada masa menegakkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Ada buku yang menjelaskan hal itu. Berjudul “Lintas Revolusi Fisik Tahun 1945-1949 Daerah Kalimantan Selatan di Hulu Sungai Selatan” yang disusun oleh Djarani E.M dan Burhanuddin Soebely. Bisa dibaca di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) HSS.
Di buku edisi cetakan pertama Mei 2001 itu, disebutkan dalam kiprah perjuangannya ALRI D IV Pertahanan Kalimantan mengalami berbagai perubahan organisasi. Selain karena tuntutan situasi dan kondisi di daerah perjuangan, perubahan tersebut muncul juga akibat imbas dari berbagai keadaan yang diarungi Pemerintah RI dalam menegakkan kemerdekaan bangsa dan negara secara de facto maupun de jure. Imbas tersebut secara langsung memengaruhi perjuangan rakyat Kalimantan. Terutama setelah berlakunya Perjanjian Linggarjati yang menyebabkan Provinsi Kalimantan dihapus. Kalimantan tidak lagi dianggap termasuk dalam wilayah kedaulatan Negara Kesatuan RI.
Pejuang-pejuang di Kalimantan harus berjuang sendiri. Balangsar dada menghadapi keberingasan Belanda untuk menyatukan kembali "si anak terbuang" ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Kondisi semacam itu menempatkan Kalimantan ke dalam situasi khusus. Ada pasukan gerilya yang bergerak di darat. Membuka kancah pertempuran mulai dari kerimbunan hutan-hutan sampai ke jalan-jalan kawasan perkotaan, namun merupakan kesatuan ALRI.
Kesatuan ALRI D IV dinyatakan Belanda sebagai ekstremis. Sebaliknya, Pemerintah RI tidak pula menganggap mereka sebagai tentara resmi. Kendati ALRI Divisi IV mengaku sebagai bagian dari Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI).
Situasi khusus tersebut menyebabkan ALRI D IV berubah dengan tujuan ganda. Selain mengusir Belanda dari tanah Kalimantan agar menjadi wilayah RI secara de facto dan de jure, juga ingin memperoleh pengakuan Pemerintah RI bahwa mereka adalah bagian dari APRI. Di dalam upaya meraih tujuan ganda itulah berbagai perubahan organisasi mutlak harus dilakukan.
Tim Ekspedisi ALRI D IV dari Jawa yang terdiri dari Letnan II Asli Zuchri dan Letnan Muda Mursjid Seman berhasil menembus blokade laut Belanda. Mereka mendarat di Tabanio, untuk kemudian sampai ke Banjarmasin. Setelah mengetahui bahwa Hassan Basry sebagai pimpinan Laskar Syaifullah berada di sekitar Kandangan, Letnan Muda Mursjid Seman diperintahkan ke Kandangan. Sementara Letnan II Asli Zuchri bertahan di Banjarmasin.
Walaupun Kandangan merupakan tanah kelahiran Letnan Muda Mursjid Seman, dan telah menyebut dirinya sebagai utusan ALRI D IV, ternyata bukan hal gambang untuk menemui Hassan Basry.
Pengalaman cerai-berainya Laskar Syaifullah, berkeliarannya patroli militer dan polisi, tersebarnya spion-spion dalam berbagai samaran, memang mengharuskan Hassan Basry bersikap ekstra hati-hati. Tak sembarang orang dapat menemuinya. Meskipun orang tersebut mengaku utusan tentara dari Jawa yang kedatangannya memang diharapkan.
****
Untunglah Letnan Muda Mursjid Seman bertemu dengan Hasnan Basuki, tokoh Banteng Indonesia. Organisasi yang juga dipimpin Hassan Basry. Lewat perantaraan Hasnan Basuki, Letnan Muda Mursjid Seman akhirnya dapat bertemu dengan Hassan Basry pada tanggal 11 November 1946 di Tabihi. Jalan untuk menyukseskan misi yang diemban pun mulai terbuka.
Tanggal 15 November 1946, berlangsunglah pertemuan resmi antara Letnan II Asli Zuchri sebagai Wakil Markas Besar ALRI D IV Tuban dengan Hassan Basry sebagai Pimpinan Banteng Indonesia.
Pertemuan juga dihadiri oleh tokoh Banteng Indonesia lainnya yaitu Hasnan Basuki, HM Rusli, dan Abdul Muti. Kata akhirnya bulat mufakat membentuk satu batalyon ALRI D IV di Kalimantan Selatan, dan melebur Banteng Indonesia ke dalamnya.
Karena batalyon tersebut secara taktis operasional bersifat rahasia, ditasmiahilah dengan nama Batalyon “A” ALRI Divisi IV Kalimantan Selatan. Selanjutnya disebut Batalyon (R) “A” ALRI D IV.
Di Tabat - Haruyan pada 18 November 1946, Letnan II Asli Zuchri atas nama Panglima ALRI D IV meresmikan berdirinya Batalyon (R) "A" ALRI D IV, dan melantik Hassan Basry sebagai Komandan Batalyon.
Tugas yang diembankan kepadanya adalah menumbuhkembangkan Batalyon (R) "A" ALRI D IV guna menyambut kedatangan pasukan ALRI dari Jawa, menyatukan organisasi-organisasi perjuangan yang ada di Kalimantan Selatan ke dalam ALRI D IV.
Kedudukan resmi Batalyon (R) "A" ALRI D IV adalah Kandangan. Sebab di Kandangan lah sentra pemerintahan Belanda untuk daerah Hulu Sungai.
Dokumen pelantikan itu juga ditandatangani oleh HM Rusli sebagai petugas yang akan menghimpun kekuatan politik, dan oleh Baseri alias Hasnan Basuki sebagai penghubung.
Ketika melantik, Letnan II Asli Zuchri menyerahkan sepucuk pistol kepada Hassan Basry. Tanda pelantikan berupa sepucuk pistol itu lebih bermakna sebagai amanat agar kelangsungan kemerdekaan RI di wilayah Kalimantan Selatan terus dipertahankan sampai senjata tak lagi mampu diangkat lantaran denyut nadi telah terhenti.
Setelah pelantikan itu, Letnan II Asli Zuchri menyerahkan sepenuhnya kebijakan perjuangan kepada Hassan Basry. Bulan Desember 1946, tim ekspedisi kembali ke Jawa. Dua hari setelah pelantikan, Batalyon (R) "A" ALRI D IV mengayun langkah pertama dengan melaksanakan musyawarah di Tabihi. Tujuan musyawarah adalah membuat dan menetapkan jabatan yang dianggap perlu dalam upaya menumbuhkembangkan batalyon.
Personalia Pimpinan Batalyon (R) "A" ALRI D IV antara lain Pimpinan Umum/Komandan Hassan Basry, Tata Usaha/Keuangan HM Rusli, Sekretariat/Perhubungan Hasnan Basuki, Penyelidik/Sekuriti Baderi, Persenjataan Mugni, Sabotase Setia Budi, Pasukan/Latihan Ma'rufi Utir.
Rapat-rapat selanjutnya membuahkan program operasional, termasuk di dalamnya pembentukan kompi-kompi pasukan. Program itu antara lain menarik sebanyak mungkin simpati dan partisipasi rakyat untuk melanjutkan perjuangan membela dan menegakkan Negara RI. Berikutnya, menempa anggota-anggota pasukan melalui latihan kemiliteran. Kemudian menempatkannya pada kompi-kompi yang akan dibentuk.
Pasukan yang telah memiliki kemantapan fisik dan mental ditugaskan untuk berusaha melakukan pencegatan terhadap kendaraan militer dan polisi Belanda, atau menyerang pos-pos terpencil untuk memperoleh senjata.
Membentuk 7 kompi pasukan dengan penempatannya disesuaikan rencana pembangunan basis kekuatan pertahanan di wilayah Hulu Sungai. Kompi daerah Padang Batung dengan komandan Lasmuni. Kompi daerah Kandangan Hulu dengan komandan Muchtar (Mukhtar). Kompi daerah Tabihi dengan komandan Maru'fi Utir. Kompi daerah Negara Selatan dengan komandan Abdul Hamid Rizal. Kompi daerah Negara Utara dengan komandan Hamberan Ahmadi. Kompi daerah Haruyan dengan komandan Arifin Hamzah. Kompi daerah Amuntai dengan komandan Abdul Kudusi.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief