Mandi Air Sembilan atau Mandi Sembilan kerap terdengar di telinga masyarakat Kalsel. Tahulah Pian? Mandi Sembilan salah satu tradisi yang dijalankan masyarakat Banjar. Sedari dulu hingga kini tradisi ini masih lestari.
Dihimpun dari berbagai sumber, mandi sembilan biasanya dilakukan bagi mereka yang sedang mengalami sakit keras. Ketika berbagai upaya pengobatan sudah dilakukan, belum kunjung membuahkan hasil. Bisa pula saat kemungkinan untuk sembuh sangatlah tipis.
Orang tua terdahulu meyakini mandi sembilan adalah salah satu bentuk ikhtiar dan keikhlasan menuju takdir Tuhan. Mandi sembilan adalah perlambang puncak kepasrahan setelah berbagai pengobatan tidak membuahkan hasil. Dengan harapan, ketika masih ada jatah umur atau sembuh, mohon disembuhkan. Apabila sudah sampai waktunya agar kiranya ditutup umur dalam keadaan ikhlas dan nyaman.
Mandi sembilan untuk orang sakit biasanya dilakukan atas keinginan sendiri. Memandikannya adalah pihak keluarga.
Di sisi lain, mandi sembilan juga kerap dilaksanakan warga yang tidak jatuh sakit alias sehat. Dalam hal ini, mandi sembilan diyakini bisa memberikan banyak manfaat atau khasiat. Salah satu di antaranya menambah kewibawaan seseorang.
Umumnya, bagi laki-laki mandi sembilan dikerjakan sebelum handak menunaikan salat Jumat. Sedangkan bagi perempuan, bisa dilakukan kapan saja.
Lalu, bagaimana tata cara mandi sembilan? Mandilah seperti mandi biasa. Setelah itu, berwudulah. Seusai berwudu, ambil lah segayung air. Sembari menahan napas, bacakan air itu dengan kalimat Ya Allah sebanyak tiga kali. Kemudian, tiupkan air melalui hidung. Setelah ditiupkan, siramkan air tadi ke kepala.
Selanjutnya, ambil lagi segayung air. Sembari menahan napas, bacakan air itu dengan kalimat Ya Rahman sebanyak tiga kali. Kemudian tiupkan air melalui hidung. Setelah ditiupkan, siramkan air tadi ke bahu kanan.
Sesudah itu, ambil lagi segayung air. Sembari menahan napas, bacakan air itu dengan kalimat Ya Rahim sebanyak tiga kali. Kemudian tiupkan air melalui hidung. Setelah ditiupkan, siramkan air tadi ke bahu kiri.
Lakukan tata cara tadi sampai tiga kali berturut-turut. Dimulai dengan mengguyur air ke kepala, bahu kanan dan bahu kiri. Tentu dengan mengulang bacaannya.
Ketika sudah selesai dilakukan, maka tutuplah dengan siraman air terakhir ke seluruh badan dengan membaca kalimat: Laa haula wala kuwwata illa billahilaliyilaziim.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief