Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Saranjana Kerajaan Halimun

Jumain Radar Banjarmasin • Kamis, 2 November 2023 | 08:23 WIB
BERCERITA: H Muhyar Budayawan Kotabaru saat bercerita tentang Saranjana yang erat kaitannya dengan Kerajaan Halimun.
BERCERITA: H Muhyar Budayawan Kotabaru saat bercerita tentang Saranjana yang erat kaitannya dengan Kerajaan Halimun.

Ketika mendengar Saranjana, kebanyakan orang langsung terlintas di pikiran tentang kota gaib yang ada di Kotabaru. Baru-baru ini, kisah itu booming di Indonesia setelah sebagian dari kisah Saranjana ini dijadikan film bergenre horor.

Apa sih sebenarnya di balik kisah Saranjana ini? Salah satu Budayawan Kotabaru, H Muhyar menjelaskan bahwa Saranjana memang cerita tentang kota gaib di Pulau Laut ini. “Namanya adalah Kerajaan Halimun yang bisa diartikan kerajaan yang tertutup di tenggaranya Pulau Kalimantan,” ujarnya, Selasa (1/10).

Kerajaan Halimun terletak di Pulau Laut, atau sekarang dikenal dengan Kotabaru. Dulu penghuninya semua adalah orang gaib. Nama pemimpinnya Raja Pakurindang. Ia memiliki dua anak yang sering bertengkar. Namanya, Sambu Batung dan Sambu Ranjana.

Kedua kakak beradik tersebut memiliki sifat yang saling bertolak belakang. Sambu Batung memiliki sifat mudah bergaul, lincah, dan terbuka. Sedangkan Sambu Ranjana adalah tipe yang suka dengan kesunyian dan ketentraman. Tidak suka keramaian.

Di bawah kepemimpinan Raja Pakurindang, rakyat Kerajaan Halimun hidup rukun, makmur, dan aman. Masyarakat di Kerajaan Halimun tidak pernah berinteraksi dengan penduduk pulau lainnya. Tidak pernah ada penduduk dari pulau lain yang datang ke pulau itu. Mengingat kerajaan itu tidak tampak dan diselimuti kabut.

Suatu ketika, Raja Pakurindang memerintahkan seluruh bawahannya kumpul di istana. Ia akan menyampaikan hal penting. Saat itu, raja menyampaikan hendak bertapa di gunung yang Bamega (berkabut awan). Saat itu, Sambu Batung diperintahkan untuk menjalankan pemerintahan dengan bantuan bawahannya.

Sebelum bertapa, raja memberitahu akan tetap memantau kerajaan ini dari atas gunung. Di situ raja berpesan kepada Sambu Batung agar menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana, dan selalu rukun dengan saudaranya Sambu Ranjana.

Mendengar itu Sambu Batung mengangguk, tanda mengiyakan dengan bahasa isyarat. Hari besok telah tiba, seluruh bawahan Kerajaan Halimun melepas keberangkatan Raja Pakurindang. Setelah tiga hari tiga malam bertapa, pohon-pohon yang ada dalam jarak tiga meter di sekitar Raja Pakurindang menunduk ke arahnya.

Sambu Batung terus memimpin kerajaan. Suasana tetap tentram, damai, aman, dan makmur. Sebagai pendamping hidup, ia menikahi Putri Perak. Beberapa tahun kemudian, terjadi peristiwa genting. Di sidang istana yang dihadiri seluruh aparat kerajaan, terjadi pertengkaran sengit antara Sambu Batung dan Sambu Ranjana.

Aparat kerajaan mencoba menengahi. Sambu Ranjana ngotot sambil berteriak agar Sambu Batung bertanggung jawab atas permasalahan ini. Melihat keadaan kian genting, peserta sidang mulai berdiri satu per satu, terpecah menjadi dua kelompok. Satu kelompok mendukung Sambu Batung, lainnya memihak Sambu Ranjana.

Sambu Batung dicurigai Sambu Ranjana hendak menjual negeri ini kepada orang asing, dengan membuka diri pada kerajaan lain. Mendengar perkataan itu, Sambu Batung tak mampu lagi menahan amarah. Ia mendatangi Sambu Ranjana dengan melompat. Namun ketika hendak membuka mulut, semua masyarakat kerajaan dikejutkan oleh suara gemuruh.

Berikutnya terjadi guncangan keras, dan suasana menjadi kacau balau. Setelah guncangan selesai, masyarakat berdesakan memasuki balai sidang. Sambil menangis, mereka melapor bahwa hewan ternaknya mati mendadak. Tanaman, pepohonan, sawah, ladang dan kebun menjadi kering. Karena kesaktiannya, Kerajaan Banjar ternyata mampu membuka kerajaan gaib tersebut.

Sambu Batung mau ketika diajak masuk Islam. Sedangkan Sambu Ranjana tidak mau beserta pengikutnya. Sambu Batung dan pengikutnya menetap di Pulau Laut ini. Sambu Ranjana tinggal di Pulau Laut Kepulauan.“Saranjana memang erat kaitannya dengan hal yang gaib,” jelasnya.

Menurut cerita Muhyar, dahulu ada teman yang pernah terjebak dalam Saranjana selama tiga hari tidak bisa pulang. Saat itu, ia kerja di Tanjung Seloka. “Saat itu katanya jalan tertutup. Ia tinggal di sana. Kondisinya makmur, kotanya sangat mewah. Tidak ada sama sekali bandingannya dengan alam nyata,” jelasnya.

Muhyar juga pernah mendengar hal yang aneh pada zaman Bupati M Husen era 80-an. Bupati Husen diberitahu ada orang pesan alat berat di Kotabaru. Pengantarnya sudah datang dari Jawa. Spontan dijawab bupati tidak ada yang pesan di Kotabaru. Apalagi jumlahnya 15 buah. “Ceritanya saya dapat dari staf beliau. Ada orang datang seperti yang dikisahkan tadi,” jelasnya.

Perlu diketahui, kisah Saranjana di Kotabaru bukan sesuatu hal yang baru. Cerita alam gaib ini bukan hanya dibicarakan di era sekarang. Sudah dari cerita nenek moyang.(jum/gr/dye)

Editor : Arief
#Kotabaru #horror #saranjana #Sejarah