Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Buaya Banjarmasin dalam Sejarah

M. Syarifuddin • Senin, 18 September 2023 | 11:29 WIB
DITANGKAP: Urang Banjar yang menangkap buaya di Borneo pada tahun 1930.
DITANGKAP: Urang Banjar yang menangkap buaya di Borneo pada tahun 1930.
BANJARMASIN – Banjarmasin berjuluk Kota Seribu Sungai. Sungai-sungai yang mengalir sejak dulu memang menawan. Tenang. Riak-riak airnya seakan menawarkan kedamaian.

Jukung dan perahu dagang pun hilir mudik. Tapi jangan salah, air sungai yang mengalir tenang, ternyata bersembunyi sosok monster menakutkan.

Kemunculannya dapat menimbulkan bencana. Bahkan, membuat warga Banjarmasin di sekitar sungai waswas. Kehidupan sungai yang tadinya tenang, bila ada yang melihat penampakannya akan berubah menjadi mencekam.

Setidaknya itulah yang terekam dalam beberapa catatan orang-orang Belanda yang pernah berdiam di Banjarmasin sejak 160 tahun lalu. Antara tahun 1858 hingga tahun 1940-an.

Monster air itu adalah buaya. Buaya memang dikenal sebagai predator yang sangat ganas. Pemilik rahang terkuat di sungai. Tercatat sejak tahun 1858, gangguan buaya sungai di Banjarmasin dan sekitarnya sangat mematikan.

Wajar bila Boomgard, salah seorang professor sejarah dan ekonomi Asia Tenggara menuliskan bahwa buaya menjadi penyebab kecelakaan yang sering mematikan di Borneo bagian Selatan (Kalsel). Buaya kerap memangsa manusia, ternak, hingga hewan peliharaan.

Sejarawan Kalsel, Mansyur menjelaskan wabah buaya ini sempat memusingkan Pemerintah Hindia Belanda di Banjarmasin. Bagaimana cara mengatasi persoalan ini? Pada tahun 1858, Pemerintah Hindia Belanda mulai memberlakukan premi. Semacam hadiah untuk orang yang bisa menangkap dan membunuh buaya, serta menyerahkan telur buaya untuk dimusnahkan.

“Sayangnya, program "pemberian hadiah" ini tidak sukses. Hanya sedikit orang yang memburu hadiah dibalik penangkapan buaya. Buaya dianggap sakral oleh masyarakat Banjar maupun masyarakat Dayak,” katanya.



Namun, kesakralan ini juga perlahan mulai tergerus sejak meningkatnya harga kulit buaya sekitar tahun 1925. Perburuan buaya pun meningkat dengan pesat. Perburuan kala itu makin ramai setelah naiknya harga kulit buaya, disertai misi ‘balas dendam’.

“Seakan jadi motivasi Urang banjar, mulai berburu buaya di Barito, termasuk sungai Martapura, dan anak sungainya,” jelas Mansyur.

Orang Belanda seakan benci dengan makhluk air ini. Dalam Koran Bataviaasch Nieuwsblad (edisi 7 Februari 1906), diberitakan bahwa Mr Arnold menembak buaya di sungai kecil pada kawasan Wil-helmina Weg (sekarang Jalan Belitung) di Banjarmasin. Buaya ini cukup besar, sepanjang tiga meter. Sebelumnya, buaya tersebut sudah memangsa seekor ayam dan bebek.

Mansyur juga menceritakan derita terus berlanjut ketika pada tahun 1910. Pada Sabtu malam, penduduk lokal Banjar yang tinggal di sungai di sebelah alun-alun di Banjarmasin saat itu mandi di batang, lalu diserang buaya.

“Sehingga mengalami luka parah sampai ke kepala dan ke pipi. Luka yang cukup serius. Beberapa orang yang melihat bergegas berteriak minta tolong. Untung berhasil diselamatkan oleh warga kampung. Kalau tidak, dia pasti diseret ke dalam air oleh monster itu,” cerita Mansyur seperti yang ditulis Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, edisi 15 Januari 1910 silam.(bir/gr/dye) Editor : Arief
#Hewan Liar #Sejarah Banua