Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sejarah Tamban dari Masa ke Masa

M. Syarifuddin • Kamis, 27 Juli 2023 | 09:12 WIB
HITAM PUTIH: Potret tempo dulu Sungai Barito. Ketika jamban apung masih eksis | FOTO: TROPENMUSEUM
HITAM PUTIH: Potret tempo dulu Sungai Barito. Ketika jamban apung masih eksis | FOTO: TROPENMUSEUM
TAMBAN merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Barito Kuala. Berdekatan dengan Banjarmasin, hanya dipisahkan Sungai Barito.

Dalam catatan sejarah, nama Tamban pertama kali disebut dalam Hikayat Banjar yang ditulis pada abad ke-17.

Sejarawan muda Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur mengutip De Kroniek van Bandjermasin (1928). Di sana diceritakan, Tamban bersama Balandean merupakan tempat persembunyian Raden Samudera--setelah masuk Islam berganti nama menjadi Sultan Suriansyah.

"Dari tulisan sejarawan Banjar Idwar Saleh (1982), dikemukakan bahwa penduduk Balandean, Jelapat, Barangas, Balitung, dan Tamban berasal dari orang Ngaju," terang Mansyur, Senin (24/7).

Sementara perkampungan di Bandarmasih (Banjarmasin) dihuni oleh orang Melayu.
Selain sumber-sumber di atas, nama Tamban jarang sekali disebut. Hingga abad ke-19, dalam pemetaan pemerintah Hindia Belanda, nama Tamban kembali muncul.

Dalam peta olahan Solomon Muller tahun 1845, diterakan Pulau Tamban. Hingga tahun 1890, secara administratif Tamban masih masuk dalam distrik Banjarmasin.

Distrik ini mencakup 32 kampung. Untuk menyebut beberapa seperti Kertak Baru, Telawang, Tabunganen, Aluh-Aluh, Tamban, Teluk Dalam, Antasan Besar, Pasar Lama atau Kampung Parit, Mantuil, dan Sungai Jingah.

Dalam Zeemansgids voor den Oost-Indischen Archipel edisi 1916-1922, dipaparkan bahwa Pulau Tamban berada di muara Sungai Martapura. Wilayahnya masih asri dengan jalur air selebar 400 meter.

Lalu, koran De locomotief edisi 16 Januari 1929 mewartakan penawaran aset milik almarhum Said Mohammad bin Abdullah Alhabsie. Tanah seluas 253 meter persegi yang berada di antara Sungai Tamban dan Sungai Jingah itu disewakan 63 gulden per tahun.

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah ini menambahkan, Tamban mulanya berstatus kawedanan. Hutan gambutnya kurang dimanfaatkan, hingga pada 1937-1938 digelar transmigrasi.

"Sebanyak 115 kepala keluarga yang berasal dari Jawa Timur dipindahkan Belanda ke Tamban," sebut Mansyur.

Bukan hanya petani, Belanda juga menempatkan korps tentara cadangannya di situ.
Indonesia merdeka, pemerintah melanjutkan program itu. Kanal di Anjir Serapat digali dan Sungai Tamban direhab. Petani-petani dari Jawa juga kembali didatangkan untuk mengolah lahan di Tamban.

Lahan gambut di Tamban dibuka dengan membuat kanal yang menghubungkan Sungai Kapuas dengan Sungai Barito di wilayah Anjir sekarang.



Sebelum pemekaran tahun 1960, Tamban dan Marabahan masuk dalam wilayah Kabupaten Banjar. Tamban kala itu dikenal sebagai sentra penghasil kelapa.

"Nah, pada transmigrasi tahun 1957, kembali ditambahkan 1.065 jiwa di Purwosari (Tamban)," jelasnya.

"Di sini juga dibangun Rumah Perawatan Sakit Jiwa dengan kapasitas 100 pasien," tambahnya.

"Lahan gambut di Tamban kemudian dikerjakan secara besar-besaran pada 1969-1970 lewat Proyek Pembukaan Persawahan Pasang Surut (P4S)," tukas Mansyur.

Tahun 80-an, wajah Tamban berubah. Lebih dikenal karena industri kayu lapisnya. "Ada enam perusahaan kayu lapis yang beroperasi di sepanjang Sungai Barito. Industri ini berjaya sampai pertengahan tahun 2005," pungkasnya. (lan/gr/fud) Editor : Arief
#Sejarah Kalsel #Sejarah Banua