Itu penggalan mantra orang Mandar. Wuuus... mantra diembuskan, pujaan hati terpikat. Tak bisa lepas lagi.
Dan tahulah Pian? Salah satu suku terbesar di Pulau Laut, Kabupaten Kotabaru adalah suku Mandar. Suku yang masih serumpun dengan Bugis ini mayoritas menghuni sisi selatan dan barat pulau.
Zaman bahuela, selain karena keberaniannya, orang Mandar juga dikenal sakti. Salah satunya soal ilmu pengasihan.
Era 1990-an ke bawah, bukan hal aneh remaja Mandar di sana saling bertukar ilmu pelet. Ada yang iseng, ada juga yang serius karena sakit hati ditolak berkali-kali.
Mendekati pergantian milenium, semakin jarang. Walau masih ditemukan dari sekian ratus remaja, satu dua mampu merapalkan dengan syahdu mantra-mantra itu.
Dia lalu jadi dukun muda. Tempat rekan-rekannya belajar malam hari. Dukun muda ini pun kebanjiran rezeki. Ditraktir makan di kantin sekolah, sampai dikasih rokok saat pulang sekolah.
Bagaimana tidak jadi tuan guru? Wajahnya pas-pasan saja, tapi cewek yang naksir cantik-cantik.
Bahkan ada yang sampai jatuh demam karena menanggung rindu, membuat orang tua si cewek harus turun tangan.
Apa sesungguhnya isi mantra pengasihan orang Mandar yang sudah melegenda itu? Sederhana. Serupa doa yang dikemas bentuk puisi.
"Tambako tuo di lita, tuo leppang. Iyyau na porannu na pobalisa cicci pandeng mawarraq, nasengaq nasalili dilalang tindona. Barakkaq kumpayakum."
Artinya mungkin membuat pembaca kaget, karena tidak seperti yang dibayangkan.
Makna mantra itu, "Sesungguhnya yang melata di bumi hanyalah mampir, maka hanya akulah yang jadi harapan dan keresahan si Cicci yang jelita, jadi rindu dendam dalam tidurnya, kunfayakun."
Bukankah mantra itu umpama puisi? Kemudian diberi penekanan tentang tiada yang muskil di dunia ini jika Tuhan sudah berkehendak.
Mengapa kesaktian pengasih Mandar yang begitu melegenda itu ternyata teramat sederhana? Pudding, tokoh masyarakat di Pulau Laut Tanjung Selayar mengungkap rahasianya.
Sebelum membahas dalam, dia bilang kalau ilmu pengasihan Mandar ada dua jenis: hitam dan putih. Yang di atas tadi putih. Hitam pakai perantara jin, putih lewat kehendak Tuhan.
"Kita bicara yang putih saja. Hitam ini satu dua orang saja pakai, itupun zaman dulu, biasanya karena sakit hati, dendam," ujarnya.
Mantra-mantra pengasihan putih jelasnya, memang berupa kalimat sastra. Dan kebanyakan mengutip beberapa potongan ayat di kitab suci yang terkenal. Seperti "kunfayakun".
"Kalimat itu sebenarnya hanya perantara. Latihan sesungguhnya adalah penyucian dan pengendalian diri. Olah batin," bebernya.
Penyucian diri itu yang paling sulit. Salah satunya yakin dengan kuasa Tuhan tanpa keraguan setipis benang pun. Makanya, kenapa banyak yang hafal mantra tapi tidak manjur, karena di dalam hatinya masih ada keraguan--walau sekecil atom.
Contoh. Ah, tampangku pas-pasan, tak mungkin si Cicci (si Aluh, perempuan) suka padaku. Walau alasan itu logis, tapi kata Pudding itu sudah jadi syarat gagalnya jampi-jampi. Karena ragu si Cicci akan naksir beneran.
Ditegaskan Pudding, ilmu orang Mandar bermuara pada penyucian hati. Lalu berujung pada kedalaman laut keyakinan kunfayakun... jadilah maka terjadilah. (zal/gr/fud) Editor : Arief