Nama Sarang Halang sendiri sudah sangat dikenal oleh masyarakat Bumi Tuntung Pandang. Namun, orang banyak belum tahu kapan dan kejadian apa yang melatarbelakangi wilayah itu disebut Sarang Halang.
Warga Pelaihari, Surya menceritakan Sarang Halang dulunya adalah sebuah tempat perdagangan kayu ulin. Pada masa lalu, Tala memang dikenal sebagai lokasi menggiurkan untuk usaha perkayuan, khususnya kayu ulin. Namun, belum ada tempat yang tepat untuk melakukan jual beli kayu. Lokasi transaksi kayu akhirnya dipilih di bawah-bawah pohon besar yang tumbuh di Kelurahan Sarang Halang.
"Selain bertransaksi di bawah pohon kayu, kayu ulin yang diperjualbelikan juga ditumpuk di bawah pohon tersebut. Supaya memudahkan bertransaksi," ujarnya.
Pohon-pohon yang tinggi dan besar tersebut juga menjadi tempat perlindungan bagi binatang. Salah satunya burung elang. Burung elang menyukai tempat yang tinggi dan rimbun. Mereka menjadikannya sebagai sarang.
"Aktivitas jual beli ulin di bawah pohon tersebut tidak mengganggu keberadaan kawanan burung elang. Bahkan masyarakat yang melakukan transaksi jual beli kayu ulin setiap saat bisa melihat aktivitas burung elang tersebut," ungkapnya.
Pada akhirnya masyarakat yang datang terbiasa menyebutkan tempat transaksinya di bawah pohon Sarang Halang. Sarang adalah tempat berkembang biak. Sedangkan Halang adalah bahasa Banjar untuk menyebut burung elang.
Hingga kini, masih banyak warga Sarang Halang berjualan kayu. Namun, kayu yang dijual tak hanya ulin saja. Berbagai jenis dan ukuran. Warga berdagang kayu dapat dilihat di sepanjang Jalan Nasional Ahmad Yani ketika hendak bepergian ke Tanah Bumbu atau Kotabaru.(sal/gr/dye) Editor : Arief