Sebelum menjadi masjid, dahulu hanya sebuah musala. Kemudian pindah lokasi dan dibangun ulang--menjadi seperti sekarang.
Warga memaknai masjid ini sebagai wadah berkumpulnya orang-orang yang berbahagia.
Konon, empat tiang utama masjid diambil dari dalam tanah. Cerita ini dikisahkan turun temurun oleh masyarakat di sana.
"Jadi ada orang bermimpi, disuruh mengambil tiang ulin dari dalam tanah. Warga sekampung yang menggali dan menemukannya sudah jadi berbentuk tiang," kata Masnah, warga setempat.
Sampai saat ini tiang itu masih kokoh. Tak pernah berganti. Hanya bagian kaki-kakinya yang disemen agar lebih mantap.
Tidak diketahui pasti kapan masjid ini mulai dibangun. Beberapa sumber menyebutkan bahwa masjid ini sudah ada 120 tahun yang lalu.
Ditandai oleh mimbar pertama masjid yang tidak pernah tergantikan. Mimbar dari ulin itu tetap utuh sejak awal pembangunan masjid.
Tidak berubah sedikit pun, termasuk ornamennya. Kecuali dicat ulang agar tidak terlihat kusam.
Pilihan warnanya dijaga. Sejak dulu hingga kini tetap dominan putih dan hijau. Dikasih sedikit sentuhan warna merah.
Perancang mimbar tua itu bernama Tuan Guru Haji Muhammad Basyiri bin Haji Muhammad Nur. Meninggal dunia pada tanggal 7 Rabiul Akhir, 90 tahun silam di tanah Deli, Sumatera Utara.
HM Basyiri sempat menimba ilmu di tanah suci Mekkah selama 7 tahun. Kemudian hijrah ke Deli.
Diketahui HM Basyiri sempat membangun masjid di Tamiang, daerah pedalaman Kabupaten Kotabaru. Di mimbarnya terukir tanggal Shafar 1327 Hijriah (sekitar Februari 1909).
Konon rancang bangun mimbar Masjid Jami Tamiang di Kotabaru itu sama dengan mimbar Masjid Su'ada.
Semasa hidup di Deli, HM Basyiri menjadi penasihat spiritual Sultan Deli dan bermakam di Kompleks Pemakaman Keturunan Raja-Raja Siak belang di Masjid Al Abrar Titipapan Medan. (mal/gr/fud) Editor : Arief