BANJARMASIN - Marning banyak dijumpai di Hulu Sungai. Terutama di Barabai. Camilan ini biasanya dijual di pasar malam dan pasar tradisional.
Cara mengolahnya sederhana. Singkong yang telah dikupas dan dibersihkan kemudian diserut.
"Marning identik dengan bentuknya yang kecil-kecil. Biasanya memakai serutan keju atau sejenisnya," ujar Rihani, pebisnis camilan asal Hulu Sungai Tengah.
Setelah diserut, singkong direndam pada air kapur sirih selama 30 menit. Kemudian dibilas dan ditiriskan.
"Direndam dengan air kapur sirih agar singkongnya lebih renyah," tambah Hani, sapaannya.
Singkong serut tadi kemudian digoreng hingga kering dan berwarna kekuningan. Sementara gorengan keripik ditiriskan, siapkan olahan bumbunya.
Marning identik dengan cita rasa yang gurih, manis dan pedas. Selain itu, aroma bumbunya juga nikmat.
Bumbu dasar marning adalah bawang putih, gula, garam, penyedap dan cabai yang dilumatkan. Bahan-bahan bumbu ini ditumis hingga wangi.
Setelahnya, masukkan marning singkong ke wajan berisi bumbu. Aduk hingga bumbu tercampur rata, maka camilan ini siap disantap.
Jajanan ini juga dijual dengan harga yang murah. Di pasar tradisional, marning biasa dijual per takaran mangkuk kecil. "Berkisar antara Rp3.000-Rp5.000 per takar," sebut Hani.
Kini, camilan ini lebih mudah dijumpai berkat adanya marketplace. Dijual dengan harga Rp8.000 per 100 gram dan Rp65.000 per kilogram.
"Camilan ini biasa dikonsumsi saat bersantai. Biasanya untuk menemani kopi atau teh. Saat ngobrol atau pun nonton televisi," tuntasnya. (tia/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi