Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sungai Jingah, Kampungnya Para Saudagar

Muhammad Helmi • Jumat, 29 Juli 2022 | 16:09 WIB
KAMPUNG TUA: Rumah jadul bergaya abad 19 di Kampung Sungai Jingah. FOTO: MUHAMMAD SYARAFUDDIN/RADAR BANJARMASIN
KAMPUNG TUA: Rumah jadul bergaya abad 19 di Kampung Sungai Jingah. FOTO: MUHAMMAD SYARAFUDDIN/RADAR BANJARMASIN
ORANG Banjarmasin tentu tak asing dengan Sungai Jingah, sebuah kampung tua di Banjarmasin Utara. Namun, mengapa diberi nama Sungai Jingah?

Menukil sejarawan Banua, Wajidi, pada masa Hindia Belanda, Sungai Jingah merupakan perkampungan yang luas.

Membentang dari Teluk Masjid (bekas lokasi Masjid Jami) sampai Kampung Kenanga (lokasi Museum Wasaka sekarang).

Seiring waktu, kian menyempit. Hanya menjadi sebuah nama jalan yang terbelah menjadi Kelurahan Sungai Jingah dan Kelurahan Surgi Mufti.

Jingah sendiri merupakan nama pohon. Jingah adalah vegetasi khas rawa yang tumbuh di Banjarmasin. Pohon jingah banyak tumbuh di sepanjang sungai kecil di perkampungan ini.

"Sungai ini sebenarnya sebuah handil atau semacam saluran yang bermuara ke sungai atau anjir dan antasan. Sungai Jingah mengalir menuju Sungai Andai dan bermuara di Sungai Pangeran," ujarnya.

Di kampung ini, dulu banyak tinggal saudagar kaya. Salah satunya Haji Muhammad Saif Nafis.

Dia saudagar tembakau yang tinggal di dekat Kubah Surgi Mufti. Tepatnya di sisi barat makam.

Bergaya Eropa, rumah panggung ini dibangun dari kayu ulin. Tapi sayang, rumah itu sudah dirobohkan ahli warisnya. "Beliau biasanya dipanggil Thaib Nafis," tutur warga Sungai Jingah, Irham.

Sebagai orang kaya, Thaib Nafis memiliki banyak perkakas memasak berukuran besar seperti bogol (tempat memasak daging) dan ceper (dari bahan kuningan).

"Ketika masyarakat kampung ada hajatan, misalkan hendak menikahkan anaknya, biasanya meminjam ke beliau," tambahnya.

Di Kampung Sungai Jingah, memang banyak terdapat rumah panggung bergaya lama. Tua-tua, dibangun pada awal sampai pertengahan abad 19. Pada eranya, dianggap rumah mewah.

Di Sungai Jingah, perahu masih dipakai. Tapi lalu lintasnya kerap terganggu jembatan yang terlalu rendah.

Menyulitkan perahu besar untuk melintas saat permukaan sungai sedang pasang.

Selain itu, di sini juga ada galangan pembuatan kapal-kapal berukuran sedang. Dok itu milik Haji Kutui.

Anggota tim ahli cagar budaya Banjarmasin, Mansyur menjelaskan, Kampung Sungai Jingah masuk dalam pendataan pemerintah Hindia Belanda.

Didata oleh G Stemler pada Desember 1886. Dibukukan dalam Jaarboek van het mijnwezen in Nederlandsch Oost-Indie, volume 22 tahun 1893. 

"Di situ, nama Kampung Sungai Jingah ditulis dengan ejaan Soengei Djingga," ujarnya.

Kemudian dalam laporan South Coast of Kalimantan from Tanjung Puting to Selat Laut, Sailing Directions for Celebes, Southeast Borneo, Java (except from Java Head to Batavia) and Islands East of Java yang dirilis Hydrographic Office, juga disebut informasi penting tentang Sungai Jingah.

Pada laporan yang terbit tahun 1935 itu ditulis, dibangun suar (lampu petunjuk) untuk kapal-kapal yang berlayar di Sungai Martapura. Salah satunya dibangun di muara Sungai Jingah.

Diletakkan di atas pelat besi, tingginya lima meter. Berdiri di sisi sungai, sekitar tiga mil dari Tanjung Telan. Dalam laporan itu juga disebutkan rumah adat Banjar berwarna putih yang megah. (gmp/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi
#Tahulah Pian