Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Leluhur Orang Afrika adalah Urang Banjar

M. Syarifuddin • Kamis, 14 April 2022 | 15:52 WIB
PERNAH DI SINI: Gedung DPRD Kota Banjarmasin di Jalan Lambung Mangkurat pernah difungsikan sebagai Gedung Balai Kota Banjarmasin. | FOTO: REPRO MANSYUR FOR RADAR BANJARMASIN
PERNAH DI SINI: Gedung DPRD Kota Banjarmasin di Jalan Lambung Mangkurat pernah difungsikan sebagai Gedung Balai Kota Banjarmasin. | FOTO: REPRO MANSYUR FOR RADAR BANJARMASIN
Pada awal milenium kedua, sebelum orang Eropa datang ke Afrika Timur, orang Banjar dari Borneo Tenggara berlayar 7.000 kilometer menyeberangi Samudera Hindia dan mengkolonisasi Kepulauan Komoro dan Madagaskar.

Mereka ikut pelayaran yang dipimpin kerajaan-kerjaan Hindu-Buddha, seperti Sriwijaya (abad ke-6 hingga 13). Suku Melayu ini berniaga ke tempat yang jauh sampai ke Afrika Timur. Sriwijaya mendirikan pos dagang di Kalimantan Tenggara dan orang-orangnya bercampur dengan orang asli Borneo, Ma'anyan, yang menjadi leluhur orang Banjar.

Jejaring perniagaan orang Melayu selama milenium pertama memicu proses protoglobalisasi paling awal, dan membawa populasi Asia Tenggara ke Afrika Timur.

Sejarawan terkemuka Jared Diamond menyebutnya “fakta tunggal paling memukau dari geografi manusia” - bahwa pulau-pulau di Afrika Timur, Kepulauan Komoro dan Madagaskar, memiliki pengaruh kebudayaan Asia dan Afrika.

Para ilmuwan telah lama berdebat mengenai asal usul orang Madagaskar yang memiliki leluhur dari Asia dan Afrika. Usaha sebelumnya untuk menentukan lokasi asal orang Madagaskar di Asia menunjuk pada Kalimantan secara umum.

Riset kolaboratif internasional yang berlangsung empat tahun, termasuk dengan tim Profesor Herawati Sudoyo di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman mengidentifikasi orang Banjar sebagai populasi sumber dari migrasi yang menakjubkan ini.

Penelitik menganalisis genom 3.000 orang dari 190 populasi dari sekitar wilayah Samudera Hindia, termasuk 30 populasi dari Indonesia, Madagaskar, dan Komoro. Penelitian menggabungkan data dan hipotesis dari riset linguistik, arkeologis, dan genetik tentang masyarakat Komoro dan Madagaskar.

Ahli linguistik telah lama menemukan bahwa, meski dekat dengan Afrika, kosakata bahasa Malagasy secara menakjubkan sebagian besar berasal dari sebuah bahasa yang dulu dituturkan sepanjang lembah Sungai Barito di Kalimantan Tenggara.

Sekitar 90% kosakata Malagasy berasal dari bahasa Ma’anyan, suku asli di pedalaman Kalimantan Tenggara yang berjumlah sekitar 70.000 orang. Kurang dari 10% kosakata bahasa Malagasy berasal dari bahasa Afrika (utamanya bahasa Sabaki, cabang dari bahasa Bantu).

Di sisi lain, ahli arkeologi menemukan bukti kultural — termasuk teknik pembuatan besi, perahu layar, instrumen musik seperti xilofon, dan budi daya padi dan umbi-umbian (“makanan tropis”). Semua ini mendukung adanya hubungan yang kuat dengan Asia. Studi genetika juga secara umum mengkonfirmasi asal usul populasi Madagaskar dan Komoro yang berasal dari Afrika dan Asia.

Menggunakan pendekatan statistik yang mutakhir, peneliti menemukan bahwa orang Banjar dan orang Afrika Timur (komunitas Swahili) bercampur pertama kali di Kepulauan Komoro sekitar abad ke-9 dan selanjutnya di Madagaskar sekitar abad ke-11.

Yang menarik adalah dinamika percampuran berbeda di antara dua wilayah tersebut. Di Madagaskar persentase keturunan Banjar berkisar sekitar 37% hingga 64% di Madagaskar dan hanya 20% di Komoro. Ini mungkin disebabkan kedatangan komunitas Swahili di Komoro sebelum kedatangan kaum Austronesia.

Peneliti menentukan tanggal arus genetika (perpindahan) selama 2000 tahun ke belakang di antara 190 populasi di sekitar Samudra Hindia. Riset menunjukkan bahwa perpindahan manusia berkorelasi dengan volume dagang (yang diperkirakan dari rekaman sejarah).

Selama 2000 tahun terakhir, volume dagang di sekitar pesisir Samudra Hindia naik turun. Ilmuwan telah menentukan empat fase perdagangan dalam jaringan niaga Samudra Hindia.

Fase pertama dimulai dengan berkembangnya rute Jalur Sutra (abad ke-1 hingga 5) yang membawa barang dagangan dan ide-ide antara Cina, Eurasia, dan Asia Selatan. Fase kedua menyusul pada abad ke-6 hingga 10 dengan menyebarnya Islam dan pedagang dari Arab. Fase ketiga datang dengan munculnya rute maritim yang dimulai pada abad ke-11 hingga 15. Fase keempat dimulai dengan kedatangan orang Eropa pada abad ke-16, yang secara drastis mengubah jaringan perniagaan dunia hingga saat ini.

Percampuran antara orang Banjar dan orang Afrika Timur di Komoro terjadi ketika puncak fase kedua. Sementara, perpindahan orang Banjar ke Madagaskar terjadi pada puncak fase ketiga. Perpindahan orang-orang Asia ke Madagaskar dan Komoro merepresentasikan perpindahan paling jauh yang pernah terjadi dalam sejarah migrsi.(theconversation/by/ran) Editor : Arief
#Sejarah Banua