Terletak di Jalan Veteran Kecamatan Marabahan atau Lebu Bentok, Kubah Datu H Abdussamad tidak luput dari penziarah. Tidak hanya dari Marabahan saja, tetapi juga dari Kabupaten lainnya.
Datu H Abdussamad bagi warga Marabahan sudah tidak asing. Beliau merupakan penyebar agama Islam ke berbagai pelosok daerah. Terutama di Marabahan.
Datu H Abdussamad merupakan cucu dari syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kalampayan. Anak dari Mufti H Jamaluddin. Dilahirkan di Kampung Panghulu Bakumpai pada malam Ahad 24 Zulqidah 1237 Hijriyah (12 Agustus 1822).
Untuk mengetahui cerita Datu H Abdussamad bisa kita dengar langsung dengan keturunan beliau. Rumahnya tidak jauh dari kubah atau makam Datu H Abdussamad. Namanya H Muhammad Syafii. Dia merupakan keturunan ke-4 dari Datu H Abdussamad. Sembari mengeluarkan beberapa lembar kertas manaqib Datu H Abdussamad, dirinya mulai bercerita.
Suatu waktu, disampaikan Syekh Yahya dari Madinah, dia melihat cahaya yang bersinar dari jauh. Saat tiba di Indonesia, dirinya tidak menemukan cahaya itu di Jakarta, namun ternyata di Marabahan. Persis di makam Datu H Abdussamad. Dan dia berziarah ke sana. Saat berziarah, dia berwasiat. Wasiat itu bisa dilihat di makam Datu H Abdussamad. Ada sebuah tulisan yang tergantung di pagar makam.
"Bila ke makam, ada kami letakan wasiat Syekh Yahya, beliau mengatakan barang siapa yang berziarah ke makam Datu H Abdussamad hendaklah iya membaca; Surah Al-Ikhlas 13 kali, sholawat 14 kali, dan masing masing-masing satu kali Surah Al-fatihah, Al-Falaq, dan Surah An-Nas," ceritanya.
Sementara itu untuk cerita semasa hidup, Datu H Abdussamad semenjak menginjak dewasa, dikirim ke Dalam Pagar Martapura untuk mengaji ilmu-ilmu agama. Dimana guru-guru beliau tidak lain hanyalah orang tua dan paman-paman beliau.
Setelah beberapa tahun lamanya di Martapura, beliau kembali ke Marabahan. Mengemban misi dakwah dan menyebarkan ajaran agama Islam ke berbagai pelosok daerah sekitarnya. Dan saat sekembalinya dari Martapura itu, beliau (Datu H Abdussamad) dikawinkan dengan seorang perempuan bernama Sitti Adawiyah Binti Buris. Dan dikaruniai empat orang anak.
Meski sudah berkeluarga dan mempunyai anak, Datu H Abdussamad tetap mengejar ilmu agama. Hasrat dan keinginan besar menuntut ilmu agama, Datu H Abdussamad pergi ke tanah suci Mekkah. Beliau ditemani sang anak yang bernama Abdurrazak. Keduanya menjalankan ibadah haji sekaligus menetap di Mekkah untuk memperdalam ilmu agama.
Setiba di Mekkah, Datu H Abdussamad bertemu dengan keponakannya. Namanya Mufti H. Jamaluddin yang telah bermukim sejak 20 tahun di Mekkah sebelum kedatangan beliau. "Maka saat itu mengajilah beliau dengan guru-guru dan ulama di tanah suci," ujar H Muhammad Syafii.
Setelah kurang lebih 8 tahun menurut ilmu di Mekkah, Datu H Abdussamad diizinkan dan disuruh guru-gurunya untuk pulang kembali ke tanah air. Atas izin itu, Datu H Abdussamad kembali ke tanah air. Sebelum itu, beliau menyampaikan niatnya itu kepada sang keponakan Mufti H. Jamaluddin. Sang keponakan langsung terkejut. Dikarenakan pemikiran hematnya, sang Paman belum lama belajar di Mekkah.
"Disinilah karomah Datu H Abdussamad pertama kali diketahui. Menurut riwayat, setelah melakukan diskusi berama sang keponakan terkait berbagai bidang ilmu, keduanya melakukan salat berjamaah. Saat mengucapkan 'Allahu Akbar' dalam takbiratul ihramnya, Datu H Abdussamad hilang. Sang keponakan Mufti H. Jamaluddin, tidak melihat jasad Datu H Abdussamad. Namun sesaat menjelang salam, Datu H Abdussamad tampak kembali terlihat," ujar H Muhammad Syafii sembari mengatakan Mufti H. Jamaluddin kaget dan takjub melihat hal itu.(bar/by/ran)
Editor : Arief