Awalnya, Masjid Jami Sungai Jingah Banjarmasin berlokasi sekitar 200 meter di pinggir Sungai Martapura. Namun, karena tanah tempat berdirinya masjid tersebut tergerus abrasi sungai, warga setempat sepakat memindahkan Masjid Jami ke kawasan yang lebih aman.
Menurut sejarah, Masjid Jami didirikan pada Hari Sabtu tanggal 17 Syawal 1195 Hijriah atau bertepatan pada 1777 masehi. Pembangunan Masjid Jami dilakukan pada masa pemerintahan Pangeran Tamjidillah.
“Catatan sejarah pembangunan Masjid Jami diabadikan dalam sebuah prasasti yang ditulis dalam huruf Arab Melayu dan kini dipasang di samping mimbar. Ada dua peninggalan dari Masjid Jami di pinggir sungai yang dibawa ke masjid di lokasi saat ini, yakni mimbar dan dauh (beduk),” ujar H Radiansyah, salah satu pengurus inti Masjid Jami Sungai Jingah Banjarmasin, kepada Radar Banjarmasin, belum lama tadi.
Dituturkan H Radiansyah, abrasi Sungai Martapura membuat warga sekitar khawatir Masjid Jami bakal roboh. “Pada tahun 1934 dimulailah pekerjaan pemindahan Masjid Jami dari pinggir Sungai Martapura ke lokasi yang sekarang ini. Pemindahan dan pembangunan masjid ini dilakukan secara swadaya oleh masyarakat sekitar, dipimpin oleh Mufti H Ahmad Kusasi,” tuturnya.
Penamaan Masjid Jami sendiri berarti mengumpulkan masjid-masjid dan langgar-langgar kecil yang ada di sekitar kawasan tersebut. “Ini sebagai upaya menyatukan masyarakat muslim untuk beribadah bersama di satu mesjid besar, yakni di Masjid Jami Sungai Jingah. Pembangunan masjid ini benar-benar disambut antusias oleh masyarakat Kota Banjarmasin. Bahkan, pasir urukan Masjid Jami diambil dari Pulau Kembang dengan menggunakan kelotok lewat jalur sungai. Warga bergantian hilir mudik mengambil pasir dari Pulau Kembang. Material bahan bangunan juga merupakan sumbangan masyarakat,” tambahnya.
Secara arsitektural, Masjid Jami Sungai Jingah Banjarmasin merupakan gabungan antara bangunan khas Banjar dan bangunan kolonial Belanda. Dominasi warna hijau dan bahan dasar berupa Kayu Ulin jadi ciri khas tersendiri Masjid Jami Sungai Jingah. “Masjid ini sudah sering direnovasi, namun hanya untuk mengganti bagian yang rusak saja tanpa mengubah bentuk utama. Dulu, patok-patok ulin di bawah masjid sudah sangat rapuh dimakan rayap, maka diganti dengan ulin berkualitas terbaik. Lantai juga sempat bergelombang, karena urukan pasir terhentak. Sekarang sudah diganti dengan lantai marmer,” sambungnya.
Di dalam bangunan utama masjid ini sarat makna Tauhid. Yakni, ditopang 17 tiang berbahan dasar Kayu Ulin berukuran besar. Ini melambangkan 17 rakaat salat dalam sehari semalam. Kemudian, bagian kubah atap masjid berjenjang lima yang merepresentasikan jumlah salat lima waktu yang wajib dilakukan oleh setiap muslim. “Luas ruang induk Masjid Jami Sungai Jingah adalah 1600 meter persegi yang mampu menampung hingga lima ribu jemaah,” tuturnya.
H Radiansyah menceritakan walaupun renovasi dilakukan secara terus menerus dan menelan biaya yang luar biasa, kas Masjid Jami Sungai Jingah tak pernah kekurangan. “Misalnya, kami pernah menghabiskan dana hingga hampir satu miliar Rupiah untuk memasang lantai baru di area depan masjid. Namun, tak seberapa lama, dana tersebut ada lagi dan kami anggarkan untuk renovasi bagian yang lain. Begitu seterusnya, dana yang kami gunakan untuk merenovasi masjid, selalu kembali bahkan melebihi dana yang telah digunakan. Ini berkah dari Allah Subhanahuwata Ala dan kami patut bersyukur,” paparnya.
Sebagai salah satu pusat syiar Islam di Kota Banjarmasin, Masjid Jami Sungai Jingah Banjarmasin padat akan kegiatan keagamaan. “Pengajian hampir tiap hari, baik subuh, siang, atau malam hari. Kemudian, pada setiap bulan Ramadan kami menyelenggarakan kegiatan takmir. Antara lain, salat tarawih berjemaah, buka puasa bersama, tadarus Al Quran, dan kegiatan ibadah lainnya,” sambungnya.
Selama pandemi Covid-19, diakui H Radiansyah kegiatan di Masjid Jami Sungai Jingah sempat diperketat. Akibatnya, mesjid ini jadi sepi dan hanya boleh diakses oleh kalangan tertentu. “Namun, untuk tahun ini, Alhamdulillah pemerintah sudah memberikan kelonggaran, termasuk untuk kegiatan ibadah di masjid-masjid. Sehingga, kegiatan takmir Ramadan di Masjid Jami Sungai Jingah tetap semarak, namun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) sesuai anjuran pemerintah,” tandasnya.(oza/by/ran) Editor : Arief