Terletak di bundaran yang sibuk, tak banyak yang menyadari bahwa tugu itu bukan dihiasi oleh pesawat tiruan, tetapi benar-benar pesawat asli!
Itu adalah pesawat MiG-17 buatan Mikoyan-Gurevich Rusia yang berkode NATO: Fresco. Fresco adalah pesawat tempur jet Uni Sovyet yang aktif sejak tahun 1952. Pesawat ini menrupakan pengembangan lebih lanjut dari MiG-15. Tercatat Indonesia pernah memiliki pesawat jenis ini pada era 1960-an. Pesawat ini umumnya digunakan di negara-negara Pakta Warsawa, Afrika, dan Asia.
Dalam catatan yang dihimpun redaksi, pesawat ini ikut andil dalam Operasi Jaya Wijaya-Trikora pada tahun 1962. Operasi ini dalam rangka merebut Irian Barat dari Belanda.
Padaa 12 Januari 1962, pemerintah republik membuat Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Untuk dukungan militernya, disiapkan armada pesawat Mig-17 yang ada di Skuadron Udara 11 Pangkalan TNI-AU Abdul Rachman Saleh, Malang.
Dua tahun kemudian, pecah konfrontasi "Ganyang Malaysia". Konflik ini berdampak besar di seluruh wilayah Nusantara, khususnya Kalimantan Selatan. Di kampung-kampung disiagakan pasukan perlawanan rakyat. Orasi-orasi dan latihan militer Pertahanan Sipil ditingkatkan dengan efektif. Suasana perang benar-benar disimulasikan.
Pada wilayah Kalimantan Selatan, digelar kegiatan gabungan antara kekuatan militer dan rakyat diwujudkan dalam Manuver Mandau Telabang Kalimantan selama 2 (dua) minggu. Pesawat ini digunakan militer untuk beroperasi di wilayah perbatasan Kalimantan.
Setelah agenda Manuver Mandau Telabang Kalimantan, pesawat dikembalikan ke markas di Madiun dari pangkalan Oelin Banjarbaru. Saat akan kembali ke markas, pesawat MiG-17 mengalami kerusakan mesin dan tidak bisa diperbaiki lagi.
Banyaknya jasa pesawat ini saat Operasi Trikora dan Dwikora, pemerintah akhirnya memutuskan menjadikannya sebuah monumen yang bisa dikenang di Landasan Ulin. Monumen Dirgantara diresmikan oleh Gubernur Kalsel, Ir. H.M. Said pada 9 April 1988.(int/by/ran) Editor : Arief