CERPEN oleh: Sahari Nor Wakhid
Tidak semua yang disebut gratis benar-benar tanpa harga. Di hadapan anak-anak yang sedang menyuap nasi dengan wajah polos, Bu Devi justru merasakan kegelisahan yang tidak bisa ia telan bersama makanan itu.
Sendok-sendok kecil berdenting pelan, bercampur tawa yang tertahan dan bisik-bisik ringan. Aroma kotak makan memenuhi ruang kelas, membentuk suasana akrab yang nyaris menenangkan. Kotak-kotak makan itu sudah di hadapan anak-anak.
Hari itu, seperti beberapa hari terakhir, sekolah membagikan makan bergizi. Salah satu program prioritas dari pemerintah yang turun hingga ke SMP Sederhana di Kutai Timur. Anak-anak menyambutnya dengan gembira, sebuah jeda kecil dari rutinitas pelajaran yang padat.
Bu Devi berdiri di antara barisan bangku, melangkah perlahan. Matanya mengamati setiap wajah kecil yang sedang tumbuh. Namun di balik itu, pikirannya berkelindan oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah benar-benar mendapat jawaban.
Betapa ia masih teringat pagi tadi. Saat bel pagi berdering dengan suara yang agak serak, seolah lelah mengulang panggilan yang sama dari hari ke hari. Di bangku baris kedua, Yuli duduk rapi dengan jilbab putih. Di pangkuannya, sebuah buku cerita terbuka. Namun, matanya tidak sepenuhnya tenggelam pada huruf-huruf di halaman itu. Ia menunggu.
Bu Devi bukanlah guru yang gemar berbicara panjang tanpa arah. Setiap kalimat yang diucapkannya penuh pertimbangan, seperti ingin memastikan bahwa makna tidak jatuh sia-sia.
“Anak-anak, Ibu ingin bercerita sedikit,” ucap Bu Devi membuka kelas dengan penuh perhatian.
Kursi-kursi berderit pelan saat anak-anak menyesuaikan posisi duduk. Yuli menutup bukunya, meletakkannya perlahan, lalu menatap Bu Devi dengan mata penuh rasa ingin tahu.
“Tubuh kita,” lanjut Bu Devi, “memerlukan makanan agar kuat. Tapi, otak kita juga membutuhkan gizi agar bisa berpikir jernih, membaca dengan fokus, dan memahami dunia dengan lebih baik.”
Ia menggambar sebuah lingkaran kecil di papan tulis, lalu menuliskan kata ‘pikiran’. Di sampingnya, ia menambahkan gambar buku dan pensil.
“Ketika kalian membaca, otak bekerja. Ketika kalian bertanya, otak bekerja. Semua itu perlu energi yang baik.”
Yuli membayangkan kata-kata dalam bukunya bergerak lebih cepat, seperti ikan kecil yang berenang lincah di kolam bening. Namun, Bu Devi tidak berhenti di sana.
“Program makan bergizi gratis ini memang membantu,”katanya, suaranya sedikit lebih pelan, seperti sedang mengajak anak-anak masuk ke ruang pemikiran yang lebih dalam. “Tapi kalian tahu, tidak ada sesuatu yang benar-benar datang tanpa perhitungan.”
Beberapa anak saling menatap, bingung. Yuli mengerutkan kening.
“Uang yang dipakai untuk program apa pun harus dibagi-bagi,” lanjut Bu Devi. “Kalau satu bagian membesar, bagian lain bisa mengecil. Itu sebabnya kita perlu berpikir bijak. Yang sering terlupa, bukan hanya soal makanan atau buku, melainkan tentang manusia yang mengelolanya.”
Yuli mendongak sedikit lebih tinggi. Kata manusia terasa berat sekaligus hangat.
“Guru dan pendamping menjaga agar belajar tetap bermakna. Mereka adalah sumber daya yang perlu dirawat,” lanjut Bu Devi. “Kalau perhatian pada mereka berkurang, kualitas belajar bisa ikut melemah meskipun program terlihat berjalan.”
Kelas menjadi hening. Bukan sunyi yang menakutkan, melainkan sunyi yang penuh perhatian.
Bu Devi melanjutkan dengan menggambar taman kecil di papan tulis. Ada bunga, ada pohon, dan ada sosok kecil seperti tukang kebun.
“Bayangkan pikiran kalian seperti taman,” katanya sambil tersenyum tipis. “Makanan adalah pupuk. Tapi, taman juga butuh perawat. Kalau perawatnya kurang diperhatikan, taman bisa tetap hidup, tapi tidak tumbuh seindah seharusnya.”
Yuli menyukai gambaran itu. Ia membayangkan otaknya penuh bunga kata-kata, tetapi tanpa cukup orang yang merawat, bunga-bunga itu mungkin layu sebelum sempat mekar.
“Jadi,” Bu Devi melanjutkan, “ketika kita bicara tentang gizi, kita juga bicara tentang waktu, perhatian, cara mengajar, dan cara mendampingi. Semua itu bagian dari gizi untuk pikiran.”
Anak-anak mengangguk, sebagian mungkin belum sepenuhnya memahami, tetapi benih pemikiran telah jatuh di tanah yang tepat.
Kini, anak-anak sedang bersantap makan bergizi gratis, kelas kembali ramai oleh suara sendok dan tawa kecil. Yuli membuka kotaknya, menghirup aroma makanan yang menenangkan. Ia makan perlahan, seolah ingin memberi waktu bagi pikirannya.
Di sela kunyahan, matanya kembali melirik buku di meja. Ia merasa ada hubungan baru antara rasa makanan dan keinginan membaca. Bukan sekadar kenyang, melainkan siap untuk berpikir.
Bu Devi berjalan pelan di antara bangku, memastikan semua anak mendapat bagian yang cukup. Matanya sesekali berhenti pada wajah-wajah kecil yang sedang tumbuh. Di balik senyumnya, tersimpan kekhawatiran yang tidak ia ucapkan lantang. Kekhawatiran tentang bagaimana pendidikan sering dilihat sebagai angka dan laporan, bukan sebagai manusia yang hidup dan berkembang.
Ia percaya, jika pengelolaan manusia diabaikan, pelan-pelan semangat belajar akan memudar. Bukan karena anak-anak tidak mau, melainkan karena mereka tidak cukup dipandu.
Setelah makan selesai, Bu Devi meminta anak-anak membuka buku bacaan. Hari itu mereka akan membaca cerita pendek dan mendiskusikannya.
Yuli membaca dengan lebih fokus dari biasanya. Kata-kata terasa lebih terang dan lebih dekat. Ia mengangkat tangan ketika Bu Devi bertanya tentang isi cerita.
“Menurut Yuli,” katanya pelan penuh keyakinan, “tokohnya bisa berubah karena ada orang yang membimbingnya, bukan cuma karena dia punya bekal.”
Bu Devi tersenyum lebar. Di matanya, kalimat sederhana itu seperti cahaya kecil yang menegaskan bahwa pesan pagi tadi telah sampai.
“Benar sekali. Manusia tumbuh karena manusia lain,” ”jawab Bu Devi.
Diskusi berlangsung hangat. Anak-anak saling berbagi pendapat, belajar mendengar, dan belajar menyusun pikiran.
Di ruang kelas yang sederhana itu, tidak ada teknologi canggih, tidak ada panggung megah. Hanya kata-kata, perhatian, dan kesabaran. Namun, justru di sanalah masa depan perlahan dibentuk.
Ketika bel pulang berbunyi, anak-anak berkemas. Yuli memasukkan bukunya ke dalam tas, lalu menoleh ke arah Bu Devi.
“Bu,” katanya ragu, “kalau orang-orang yang mengajar dan membimbing tidak cukup diperhatikan, apa yang bisa kita lakukan?”
Bu Devi terdiam sejenak. Pertanyaan itu bukan pertanyaan kecil. Ia menatap Yuli dengan mata lembut.
“Kalian bisa belajar dengan sungguh-sungguh,” jawabnya. “Menghargai ilmu, saling membantu, dan kelak, ketika kalian besar, kalian bisa ikut menjaga agar manusia selalu menjadi prioritas.”
Yuli mengangguk. Ia tidak sepenuhnya mengerti bagaimana caranya kelak, tetapi ia merasakan tanggung jawab kecil tumbuh di dadanya.
Dalam perjalanan keluar kelas, Yuli melirik papan tulis yang masih menyisakan gambar taman. Ia tersenyum tipis. Di dalam hatinya, ia berbisik, Makan bergizi tidak pernah benar-benar gratis. Tapi, merawat pikiran jauh lebih mahal jika kita lupa manusia di dalamnya.
Langkah kecilnya meninggalkan kelas. Namun, benih kesadaran itu tinggal, tumbuh perlahan, menunggu waktu untuk mekar.
***
Sahari Nor Wakhid, Guru SMP Negeri 5 Sangatta Utara, Kutai Timur. Mulai menekuni dunia kepenulisan sejak tahun 2020. Telah menerbitkan 10 buku solo dan 55 antologi bersama. Buku paling mutakhirnya adalah Liburan di HutanWehea (Cerita Anak Dwibahasa Kutai-Indonesia, 2025). Bisa dikontak melalui Instagram @saharienwe