CERPEN oleh: Muhamad Yusuf
Pengajar Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Banjarmasin
Hujan turun sejak subuh, bukan hujan yang garang, melainkan hujan yang sabar. Ia jatuh perlahan, satu per satu, seolah sedang menghitung kesalahan manusia. Dari beranda rumah kayu yang sudah mulai lapuk, Haji Samad memandang sungai di depan matanya, sungai yang dulu ia kenal lebih baik daripada garis-garis di telapak tangannya sendiri.
Air sungai itu kini berwarna cokelat pekat, diam, dan berbau lumpur basi. Tak ada lagi riak kecil yang dulu suka bermain di lambung jukungnya. Tak ada lagi ikan kecil yang meloncat sekadar menyapa pagi. Sungai itu seperti tubuh tua yang kelelahan, terbaring tanpa daya, menunggu sesuatu, entah apa.
Pelan-pelan, air mulai naik. Menyentuh kaki tangga rumah. Menjilat papan lantai yang telah berpuluh tahun menjadi saksi hidupnya.
“Datang lagi,” gumam Haji Samad lirih.
Ia tak marah. Tak juga terkejut. Banjir sudah menjadi tamu tahunan. Bahkan kini, banjir terlalu sering datang tanpa diundang.
Haji Samad lahir dan besar di bantaran Sungai Andai. Semasa mudanya, ia berprofesi sebagai juru taksi kelotok. Sungai adalah sekolah pertama baginya. Di sanalah ia belajar membaca arus, menakar cuaca, dan memahami bahwa air punya ingatan panjang.
Dulu, sungai itu lebar. Dua kelotok bisa berpapasan tanpa saling menyentuh. Airnya jernih sehingga rumput-rumput air terlihat jelas. Di sore hari, anak-anak melompat dari titian, tertawa, berenang, berlomba siapa yang paling lama menahan napas.
Kini, semua itu tinggal cerita. Di seberang rumah Haji Samad, berdiri deretan ruko bertingkat, kokoh, bercat mencolok. Fondasinya menjorok ke sungai. Sebagian bahkan menutup alur lama yang dulu menjadi jalur jukung dan kelotok.
Air terus naik. Pukul delapan pagi, sudah setinggi betis. Haji Samad mengangkat kursi kayu, menaruhnya di atas meja. Ia melakukan semua itu tanpa tergesa, seperti ritual yang telah ia hafal di luar kepala.
Cucunya, Laila, berlari kecil dari dalam rumah.
“Kakek, airnya masuk kamar,” katanya panik.
“Biarkan dulu,” jawab Samad lembut. “Air ini bukan mau berkelahi. Ia hanya mau lewat.”
Laila memandang sungai dengan mata bingung. Ia lahir ketika sungai sudah seperti ini. Sempit, dangkal, dan kotor. Ia tak pernah mengenal sungai sebagai sahabat.
“Kata Mama, banjir ini karena hujan besar,” ujar Laila.
Haji Samad tersenyum pahit. Ia duduk, memandang air yang merambat ke ruang tamu.
“Hujan cuma mengetuk,” katanya pelan. “Yang membuka pintu itu manusia.”
Menjelang siang, air setinggi lutut. Warga mulai sibuk. Ada yang mengungsi. Ada yang mengangkat barang. Ada pula yang hanya duduk termenung, pasrah, menunggu air berhenti naik.
Dari kejauhan, suara mesin pompa terdengar. Pemerintah datang dengan bantuan seadanya. Karung pasir disusun. Spanduk peringatan dipasang.
Namun ruko-ruko di seberang tetap berdiri angkuh. Lantainya tinggi. Tak tersentuh air. Seolah banjir hanya milik rumah-rumah kayu yang renta.
Haji Samad memandang bangunan itu lama.
Dulu, di tempat ruko paling ujung berdiri, ada tikungan sungai. Arusnya kuat, tapi bersih. Banyak ikan berkumpul di sana. Kini, tikungan itu hilang, ditimbun tanah dan beton. Sungai kehilangan jalannya.
Malam turun bersama air yang tak kunjung surut. Lampu-lampu rumah redup, memantul di permukaan air seperti kunang-kunang yang kelelahan.
Laila tertidur di pangkuan Samad. Nafasnya teratur. Di luar, hujan kembali turun, kali ini lebih deras. Samad menutup mata. Ingatannya mengalir ke masa lalu.
Ia teringat kata-kata istrinya, yang selalu terngiang, “Jangan serakah terhadap sungai.”
Dulu, orang-orang tahu batas. Rumah dibangun mengikuti alur air, bukan memaksanya berbelok. Sungai dihormati. Dipelihara. Dijadikan bagian hidup, bukan korban pembangunan.
Kini, sungai dicekik pelan-pelan. Disempitkan. Didangkalkan. Ditimbun. Ketika ia tak lagi mampu menahan air, ia meluap. Bukan sebagai balas dendam, melainkan jeritan yang terlambat didengar.
Pagi berikutnya, banjir mencapai puncaknya. Air setinggi pinggang orang dewasa. Beberapa perabot rumah mengapung. Titian kayu hanyut.
Haji Samad berdiri di depan rumah, air setinggi perutnya. Ia memandang sungai yang kini tak lagi jelas batasnya dengan daratan.
“Kasihan kau,” bisiknya pada sungai. “Kau disalahkan, padahal kau yang paling terluka.”
Seorang pemuda lewat dengan perahu karet, menawarkan evakuasi.
“Kakek, ayo pindah. Bahaya.”
Haji Samad menggeleng.
“Kalau aku pergi,” katanya pelan, “Siapa yang menemani sungai ini?”
Pemuda itu terdiam, lalu berlalu.
Banjir surut tiga hari kemudian. Lumpur tertinggal di mana-mana. Bau busuk menyengat. Warga membersihkan rumah dengan wajah letih.
Ruko-ruko tetap berdiri, bersih, kering, dan seolah tak terjadi apa-apa.
Haji Samad duduk di beranda, menatap sungai yang kembali diam. Tapi diamnya kini lebih dalam. Lebih luka.
Ia tahu, banjir ini akan datang lagi. Mungkin bulan depan, atau bahkan lebih cepat. Selama sungai tetap diperlakukan sebagai ruang sisa, bukan nadi kehidupan.
Laila duduk di sampingnya.
“Kakek,” tanyanya polos, “Apa sungai bisa sembuh?”
Haji Samad menghela napas panjang.
“Bisa,” katanya. “Kalau manusia mau berhenti melukainya.”
Laila memandang sungai lama. Untuk pertama kalinya, ia merasa sungai itu bukan sekadar air kotor yang sering masuk rumah, melainkan sesuatu yang hidup dan sedang sakit.
Di kejauhan, matahari sore muncul malu-malu. Cahaya keemasannya memantul di air sungai yang keruh, seolah memberi harapan kecil yang rapuh.
Sungai itu masih ada. Masih bernapas, meski sesak. Selama masih ada orang yang mau mendengarnya, barangkali suatu hari nanti, sungai itu akan kembali mengalir dengan lega.
***
Tepat dugaan Haji Samad. Hujan tak perlu lama-lama turun. Langit hanya menumpahkan airnya sebentar, seolah sekadar memberi isyarat. Selebihnya, sungai sendiri yang bergerak. Pasang besar datang dari hulu dan muara, bertemu di tubuh sungai yang sudah sempit dan dangkal. Air naik tanpa ampun, meluber ke jalan, ke rumah, ke lorong-lorong sempit yang tak pernah lagi mengenal tanah kering.
Warga tak sempat bertanya apa sebabnya. Mereka sudah hafal jawabannya. Ketika air sungai pasang dan hujan turun sedikit saja, Banjarmasin langsung tenggelam. Sungai yang dulu menjadi penyangga kini berubah menjadi pintu masuk bencana.
Air mengalir pelan tapi pasti, membawa sisa lumpur banjir sebelumnya. Bekas-bekas luka belum kering, namun genangan baru sudah datang menindihnya. Ruko-ruko di tepi sungai kembali berdiri kaku, memantulkan bayangan air pasang di dinding beton mereka. Tak satu pun bergeser. Tak satu pun mengalah.
Di bantaran, rumah-rumah kayu kembali bersiap. Tempat tidur diangkat. Perabot dipindah. Anak-anak mengungsi dengan wajah yang terlalu muda untuk terbiasa dengan bencana, tapi terlalu sering mengalaminya.
Sungai tak lagi menunggu hujan besar untuk meluap. Ia hanya mengikuti hukum alamnya yang telah dirusak. Ketika ruangnya dirampas, ia akan mencari jalan sendiri.
Banjarmasin, sekali lagi, terdiam di bawah air. Menyadari bahwa banjir bukan sekadar kiriman langit, melainkan akibat dari sungai yang tak diberi tempat untuk bernapas.
Ketika air telah surut setinggi mata kaki, meninggalkan sampah di mana-mana. Plastik, potongan kayu, kasur rusak, bahkan lembaran seng tersangkut di tikungan sungai. Tempat arus selalu melambat sebelum berbelok. Di situlah Haji Samad berdiri, membawa galah bambu dan karung goni tua.
Ia datang tanpa diminta. Seperti biasa.
“Kalau dibiarkan,” gumamnya pelan, “Sungai makin sesak.”
Ia mendorong sampah-sampah itu ke tepi, satu per satu, meski tangannya gemetar dan napasnya pendek. Air sungai mengalir pelan, seolah lelah setelah mengamuk berhari-hari. Di permukaannya, bayangan Haji Samad terpecah oleh riak kecil: tua, kurus, dan semakin rapuh.
Tiba-tiba dadanya nyeri. Seperti diremas dari dalam. Haji Samad terhenti. Galah bambu terlepas dari genggaman. Ia mencoba melangkah ke tepi, tapi kakinya tak lagi patuh. Nafasnya tertahan di tenggorokan. Ia memegang dada, matanya terpejam, bibirnya bergerak tanpa suara.
Tubuhnya oleng. Ia jatuh ke sungai dengan bunyi lirih, hampir tak terdengar. Air menelannya perlahan, tanpa percikan besar, tanpa jerit. Arus yang tenang membawa tubuhnya menjauh dari tikungan semula, mengayunkannya seperti daun tua yang akhirnya lepas dari ranting.
Tak ada yang melihat. Sungai menerima tubuh itu dengan sunyi. Seolah sedang memeluk seseorang yang terlalu lama menjaganya.
Hingga sore tiba, orang-orang baru menyadari Haji Samad tak pulang. Galah bambu ditemukan tersangkut di semak. Karung goni mengapung kosong. Sungai tetap diam, menyimpan rahasia di kedalamannya yang keruh.
Ketika tubuh Samad akhirnya ditemukan keesokan harinya, wajahnya tenang. Seperti orang yang tertidur. Tak ada luka, tak ada tanda perlawanan. Hanya dadanya yang tampak menipis. Ia meninggal menjaga sungai yang tak pernah sempat ia selamatkan.
Sejak hari itu, tikungan sungai itu terasa lebih sunyi. Air tetap mengalir pelan, membawa sampah, membawa luka, membawa ingatan tentang seorang lelaki tua yang memilih membersihkan sungai, meski sungai tak lagi mampu membersihkan dirinya sendiri.
***
Sejak kepergian Haji Samad, sungai itu berubah. Airnya tetap mengalir, tetapi lebih pelan dari biasanya, seolah menahan sesuatu di dadanya. Di tikungan tempat Samad terakhir berdiri, arus sering berputar kecil, membentuk lingkaran sunyi. Sampah masih datang, lumpur masih menumpuk, namun sungai seperti enggan menolaknya. Seperti orang berduka yang kehilangan tenaga untuk melawan.
Setiap sore, cahaya matahari jatuh miring ke permukaan air, memantulkan warna keemasan yang redup. Riaknya tak lagi ramai. Burung-burung jarang singgah. Bahkan angin pun lewat dengan hati-hati, seakan tak ingin mengusik kesedihan yang mengendap.
Sungai itu berkabung tanpa kain hitam, tanpa doa-doa keras. Ia hanya diam, menyimpan tubuh seorang lelaki tua yang pernah menjaganya ketika manusia lain sibuk melukainya. Dalam diamnya, sungai mengingat tangan-tangan renta yang dulu membersihkan tubuhnya dari sampah, meski tahu usianya sendiri tak panjang.
Tak ada tugu peringatan di sana. Tak ada nama yang dipahat di batu. Hanya tikungan sunyi, arus yang melambat, dan air yang seolah lebih berat mengalir ke hilir. Dan mungkin, selama sungai belum diberi ruang untuk bernapas kembali, duka itu akan terus menguap, mengalir bersama air, menunggu manusia belajar bahwa sungai bukan tempat membuang, melainkan tempat menjaga kehidupan. (*)
Editor : Arief