Nasirun, sebagaimana kebanyakan pribumi di Dukuh Jenggala, tidak bisa hidup tanpa mengisap tike. Ia sungguh tak menyayangkan jika sebagian pendapatannya yang diperoleh dari Mandor Goedman akan habis di bilik opium milik Mak Ling. Lima sen akan ia tukarkan dengan satu gelintir tike yang sudah dioplos dengan rajangan daun awar-awar. Ia akan mengisapnya menggunakan bedutan, yakni batang daun pepaya yang sudah disulap sedemikian rupa menyerupai pipa isap. Atau, ia juga bisa mengoplosnya dengan tembakau, lalu dilinting menggunakan daun jagung—orang biasa menyebutnya klobot—sehingga menyerupai rokok. Namun, ia tetap lebih suka mengisap dengan cara yang pertama.
Dalam sehari, Nasirun bisa tiga sampai enam kali mengisap tike. Padahal, pendapatannya dari merawat kebun tebu hanya berkisar tiga puluh hingga lima puluh sen per hari. Itu upah paling umum yang diterima para pribumi kala itu. Karenanya, ia kerap kasbon kepada Mak Ling.
Ibunya, Mbok Srimpen, belum tahu kalau Nasirun telah masuk dalam jeratan candu. Namun, ia kerap menaruh curiga pada anak bontotnya itu lantaran uang hasil kerjanya kerap habis tak berjejak.
“Dua tahun kerja, kok ya ndak seperak pun yang kelihatan hasilnya?” demikian ibunya kerap bertanya dengan nada curiga dan wajah memelas. Lalu Nasirun salalunya hanya akan menyampaikan alasan yang sama.
“Ditabung, Bu. Buat beli wedus.”
“Sudah dua tahun, harusnya sudah bisa beli pedet.”
Sebagaimana para pemadat di Dukuh Jenggala lainnya, Nasirun bukannya tak ingin berhenti mengisap tike. Tak kurang puluhan kali ia mencoba untuk tidak menyambangi bilik saudagar Tionghoa itu. Namun sebanyak ia mencoba, sebanyak itu pula ia gagal menunaikan hajatnya. Tubuhnya seperti diseret oleh kekuatan luar biasa untuk bisa menemukan barang itu, di mana pun dan dengan cara apa pun.
Pernah sekali waktu, sambil terhuyung-huyung, dengan mata sayu dan pipi memerah, ia berjalan menyambangi bilik opium Mak Ling. Itu karena seharian ia belum mengisap tike. Meski tak membawa sesen pun—lantaran hari itu upah dari Mandor Goedman urung dibayarkan—tapi Mak Ling tetaplah merasa kasihan. Maka dengan kasbon, ia memberikan barang itu pada Nasirun.
Beberapa waktu lalu, tepat sepekan setelah Dukuh Jenggala dibuat geger lantaran salah seorang warganya hilang diculik werek landa [1], Nasirun kembali mengalami kejadian serupa. Dengan gejala yang tidak jauh berbeda: badan menggigil, mata sayu, pipi memerah, dan napas terengah-engah, Nasirun membuat ibunya kelimpungan. Siapa pun tentu tak akan mengira bahwa beberapa puluh tahun mendatang, gejala semacam itu akan disebut dengan sakau.
Mbok Srimpen berpikir bahwa si bontot hanya menderita demam biasa. Maka hanya berbekal jahe dan daun sambilata, ia sudah yakin Nasirun akan sembuh seperti sediakala. Tentu saja ia salah. Satu-satunya yang bisa menyembuhkannya adalah tike. Dan ia hanya bisa mendapatkannya di bilik opium Mak Ling yang berjarak setengah kilo dari rumahnya.
Malam harinya, saat ibunya mulai larut pada mimpi-mimpi, Nasirun jempalitan tak karuan di dalam sekat kamarnya. Di atas ranjang bambu yang beralaskan tikar daun pandan, ia tampak seperti ikan yang baru dimentaskan dari air. Tubuhnya seolah menuntut agar ia segera menemukan barang itu.
Namun, Nasirun segera teringat bahwa hari itu Mandor Goedman tidak datang ke kebun. Alhasil upahnya pun urung dibayarkan. Ia juga menyadari bahwa di bilik opium Mak Ling masih tersisa beberapa kasbon yang belum dilunaskan. Meski demikian, tubuhnya tetap tidak bisa diajak berkompromi.
Maka tercetuslah gagasan di kepalanya untuk menggasak celengan sang ibu. Nasirun tahu di mana ibunya menyimpan celengan yang terbuat dari bambu petung itu: kolong ranjang. Dan tak butuh waktu lama—dengan tubuh yang sudah teramat ringkih itu—mengendap-endaplah ia ke sekat kamar ibunya seperti maling kelas kakap. Ia lantas merayap di kolong ranjang layaknya prajurit di medan perang. Di atas ranjang, Mbok Srimpen tetaplah mendengkur dengan keras, menandakan bahwa tidurnya terlampau nyenyak untuk diusik. Dan sebentar kemudian, celengan itu sudah ada di dekapannya.
Nasirun tentu tak peduli bahwa di dalam celengan bambu petung itu, ada setumpuk harapan yang tengah dipupuk oleh ibunya. Harapan untuk menukarkan koin-koin logam yang telah terkumpul dengan seekor kambing pada hari raya kurban mendatang. Sekarang, harapan itu dikandaskan oleh anak bontotnya sendiri.
Lantaran tubuhnya kadung tak kuasa menahan sakit, Nasirun membawa celengan itu tanpa sempat membukanya terlebih dahulu. Keluarlah ia dari gubuk rumahnya dengan setengah berlari—dan tentu saja sambil sempoyongan. Ia sempat ragu, apakah matanya yang kian kabur itu mampu menangkap jalan setapak yang remang tanpa penerangan. Namun karena sudah amat terbiasa, maka cukuplah ia mengandalkan instingnya dan ia bisa sampai di tujuan dengan segera.
Manakala tiba di bilik opium, tanpa uluk salam dan permisi, Nasirun langsung merangsek masuk, lalu menyerahkan celengan itu pada Mak Ling.
“Cepat ambilkan tike!” seraya menyodorkan celengan.
Para pemadat yang hadir di bilik itu pun sontak terkejut. Sebagian bahkan merasa terganggu. Mereka yang tengah asyik dengan isapannya—atau dengan alam bawah sadarnya—tak kuasa melayangkan pandangan ke arah Nasirun.
“Kutu kupret! Bikin kaget saja kau ini,” kata Mak Ling seraya meraih celengan. “Sebentar, aku buka dulu celengannya,” ia bergegas mengambil gergaji, lalu mengeluarkan seluruh koin di dalam celengan dan menghitungnya dengan cermat. Sialnya, isi celengan itu ternyata belum terlalu banyak.
“Cuma seratus sen. Kasbonmu saja di sini masih seratus dua puluh. Tak ada tike!” jawaban Mak Ling membuat mata Nasirun kian sayu.
“Tolonglah, Mak.”
“Lunasi dulu, baru saya kasih.”
“Mak, ayolah.”
Nasirun tampak kepayahan. Ia tahu, jalan untuk mendapatkan barang itu semakin terjal. Sementara tubuhnya kian tak bisa dikendalikan, menuntut agar bibirnya segera menjepit bedutan. Di saat itulah, seseorang dari arah belakang tiba-tiba menyahut, seakan hendak ikut masuk dalam pembicaraan.
“Kasih dia tike, saya yang bayar!”
Sontak Nasirun terkejut. Saat ia menengok ke belakang, bola matanya mulai menangkap sosok tinggi besar, berambut pirang, dan mata biru; perawakan khas orang-orang Nordik. Di bibirnya terselip sebuah cerutu. Dari aksennya, Nasirun segera tahu bahwa ia bukanlah pribumi. Ia seorang meneer, pikirnya.
“Termasuk utang-utangnya,” tandasnya sekali lagi.
Kalimat itu adalah dewi penyelamat bagi Nasirun. Mak Ling, yang amat begitu menaruh hormat pada orang-orang meneer seketika menuruti instruksinya. Segera ia mengambil kotak kecil berisi tike, rajangan daun awar-awar, dan sebuah teplok.
Meneer itu lantas menuntun Nasirun ke balai pengisap—orang biasa menyebutnya lincak. Raut wajahnya memancarkan rasa iba. Seumur hidup, baru kali ini Nasirun menjumpai meneer dengan wajah macam ini: ramah dan murah senyum.
“Tubuhmu sudah sangat kepayahan.”
“Terima kasih, Tuan.”
Bibir Nasirun kian bergetar dan pucat wajahnya menyerupai mayat yang tengah dikafani. Sebentar kemudian, Mak Ling datang dengan membawa apa yang selama seharian ini ia cari: tike.
“Tanganmu buyutan, biar aku saja yang meracik,” meneer meraih tike dari tangan Mak Ling. Candu dengan harga paling murah itu ia masukan ke dalam wajan kecil, lalu dijerang di atas teplok, sebelum dicampur dengan rajangan daun awar-awar. Setelah itu, campuran dua bahan itu digelintir menjadi bola-bola kecil untuk kemudian diletakkan di atas mangkuk isap. Selanjutnya, Nasirun hanya tinggal mengisap menggunakan bedutan.
Mereka berdua telah menciptakan sebuah pemandangan yang amat jarang dijumpai: seorang meneer melayani pribumi. Pemandangan yang teramat ganjil, mengingat kedudukan orang-orang macam Nasirun itu tak lebih dari jongos bagi orang-orang berkulit putih. Namun, malam ini, di bilik opium yang terpencil, pemandangan semacam itu nyata adanya. Mak Ling dan beberapa pemadat tentu melihatnya dengan terheran.
“Mengapa meneer sedemikian baik kepada saya?”
“Saya Grigor, baru pindah dari Buitenzorg. Kawan dekat Goedman.”
“Ah, Mandor Goedman. Dia majikan saya.”
“Ya, lusa saya melihatmu di kebun tebu. Goedman bilang, kau sangat rajin dan cekatan. Tidak disangka saya menjumpaimu di sini.”
Meski dengan aksen khas orang-orang meneer, tapi meneer Grigor ini terbilang mahir berbahasa Melayu. Bahkan, sedikit-sedikit bisa berbahasa Jawa. Maka, obrolan di atas lincak itu pun tampak lebih gayeng.
“Kudengar, ada orang sini yang hilang?” meneer Grigor mengganti topik.
“Ya, itu kawanku. Sukonto. Katanya diculik werek.”
“Werek? Ah, kalian dibohongi. Tak ada werek di Dukuh Jenggala.”
“Entahlah.”
“Kau mau kuajak bertemu kawanmu itu?”
Itu pertanyaan yang membuat Nasirun terkejut, hingga membuatnya terbatuk; asap yang dikeluarkan dari mulutnya jadi tak beraturan. Mata sayunya seketika menembakkan diri ke mata Tuan Grigor.
“Tuan tahu di mana Sukonto?”
Keduanya saling tatap beberapa saat, tapi mulut meneer Grigor terlihat komat-kamit seperti dukun yang tengah merapalkan mantra. Dan hanya dalam hitungan kurang dari semenit, yap, satu orang pribumi yang lugu nan tolol tapi dikenal ulet itu telah masuk dalam perangkap.
Selanjutnya, Nasirun tampak seperti anjing yang tunduk pada tuannya; seperti merpati yang giring pada pasangannya. Apa-apa yang dikatakan oleh meneer Grigor diturutinya begitu saja. Termasuk saat ia mengajaknya untuk segera meninggalkan bilik opium, meski tiga gelintir tike yang tersisa urung diisap.
“Ayo, saya akan mengantarmu menemui Sukonto.” Nasirun dengan patuh mengikuti dan membuntuti meneer Grigor; meninggalkan bilik opium Mak Ling, naik ke atas mobil, meninggalkan Dukuh Jenggala, meninggalkan ibunya.
Awalnya, meneer Grigor membawa hasil buruannya itu ke sebuah kamp tak jauh dari Poerbolinggo. Di kamp itu, Nasirun dipertemukan dengan orang-orang yang bernasib sama. Keesokan harinya barulah mereka dibawa ke Batavia, menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Sepanjang perjalanan, baik Nasirun atau para pribumi lainnya, tetaplah bertingkah layaknya anjing yang tunduk pada tuannya.
Sekarang di sinilah ia berada. Di kapal seluas kebun yang ia garap di Dukuh Jenggala. Dengan nanar ia menatap wajah-wajah murung para jongos yang hendak dikirim entah ke mana. Para meneer itu hanya menyebutnya negeri seberang. Entah seberang yang mana, ia tak tahu.
Pening di kepala Nasirun belum sepenuhnya hilang saat kapal itu perlahan melaju mendekati Selat Sunda, ketika seseorang yang tak dikenalnya tiba-tiba mendekat seraya menawarkan minuman.
“Minumlah. Kau baru saja terkena sirep.”
“Sirep?”
“Ya, begitulah cara werek menculik kita. Sirep ini hanya akan berguna saat kaki kita masih menginjak tanah jawa.”
“Lalu, kita akan dibawa ke mana?”
“Seberang.”
“Seberang?’
Ah, dua jongos itu tentu tak akan mengira bahwa seberang yang dimaksud, entah berapa puluh tahun lagi, akan dikenal sebagai sebuah negeri bernama Suriname. (*)
Purbalingga, 2023-2025
[1] calo kerja pada masa Hindia-Belanda.
******
Tentang Penulis:
Ikrom Rifa’i lahir di Purbalingga, tahun 2000. Cerpennya tersiar di sejumlah media seperti Media Indonesia, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Radar Banyumas, Radar Bromo, Radar Banyuwangi, dan Harian Bhirawa. Saat ini tengah menyiapkan buku kumpulan cerpen perdananya.
Editor : Arief