Oleh: Dody Widianto
Masih kutempelkan jemari tangan kiriku pada benda bening di depanku ketika detik-detik terus berjatuhan, meluncur ke bawah pada benda licin nan dingin. Aku masih sempat melihat benda kuning yang melingkari jari manisku, lalu ia bersuara, “Lihat, kau tak seperti dulu. Gadis ceria yang saban hari dipaksa makan sayur dan dikepang dua oleh ibu. Rambutmu yang lurus legam selalu beliau sisir saat tempias senja jatuh di pelataran dan menyelinap ke teras halaman. Matamu serupa daun pisang kering yang layu sekarang. Padahal, waktu akan terus berjalan sebagaimana mestinya. Tak akan pernah berhenti. Adakah rahasia yang kau simpan dariku?”
Benda di depanku diam saja. Bisu. Enggan menjawab. Padahal aku butuh penjelasan untuk apa aku sekarang ada, dan untuk apa kulalui waktu? Seolah jika benda bening di depanku menjelaskan definisi waktu yang telah berlalu adalah hal sia-sia. Bukankah semua yang ada di dunia ini akan berakhir dalam ketiadaan? Dulu tak ada, lalu ada, lalu kemudian tak ada. Lalu, untuk apa menjelaskan hal yang nanti juga bakal tidak ada?
“Aku sudah kenyang Ibu”.
“Haha. Ibu lihat kau bersembunyi di pagar itu dan sedikit memuntahkan makananmu bukan? Makan sayur sedikit saja Nak. Agar kamu sehat. Ibu tak suka kamu sering makan jajan Chiki di warung itu. Kamu batuk terus dari kemarin. Itu banyak pengawet dan tambahan perasa”.
Beliau selalu bilang jika sehat mahal harganya. Telah kudengar balita sekarang banyak yang sudah cuci darah. Ada juga yang obesitas di umurnya yang masih belia. Itu pesan ibu demi kesehatanku. Mungkin besar nanti aku bisa membeli tanah, beli rumah, beli mobil, beli iPhone seri terbaru, tetapi tidak dengan kesehatanku. Bahkan jika waktu telah menua digerogoti senja usia, aku akan tertatih, merasakan tulang-tulang linu setiap hari. Makan tak begitu enak seperti dulu. Kepala sering pusing, dan aku akan paham betapa waktu yang telah berlalu tak akan pernah bisa diulang.
Lalu, ketika dingin benda itu meresap ke dalam syaraf lalu menuju aliran darah dan berjalan cepat ke arah kepala, aku masih ingat kapan terakhir kali aku hampir lulus SMA. Aku bertanya, ibu menjawab. Kenapa waktu begitu lambat saat kita kecil, tetapi saat dewasa semua seolah begitu cepat dan hari cepat berlalu?
“Ketika kita masih kecil, otak butuh energi yang banyak untuk pertumbuhan yang kontinyu dan berkelanjutan. Ia butuh penyesuaian lama demi adaptasi dalam mempelajari hal sekitar. Saat kita dewasa, otak kita lebih efisien dalam memproses segala informasi, sehingga waktu berlalu begitu cepat. Teknologi juga telah mengubahnya. Dunia serupa daun, dan dengan jemarimu kau bisa berjalan ke tepi dan tengahnya dengan mudah. Kau bisa menelepon tantemu di Eropa, dan kau bisa melihat wajahnya. Kau bisa melacak keberadaan rumah seseorang lewat GPS, dan kau akan temukan dengan benar rumah itu saat kau berusaha mengunjunginya. Kau juga bisa belajar memasak dari genggaman dengan menonton video demo di konten sosial media. Manusia dimudahkan dalam segala hal, dan waktu akan berjalan begitu cepat. Kesibukan kadang melupakan segalanya. Termasuk dalam mengingat Tuhan. Kamu pikir, dunia ini ada begitu saja tanpa penciptanya? Ia yang mencipta ruang dan waktu. Ia yang menggerakkan semua benda-benda di angkasa dalam ketentuan tertentu. Namun, satu kali kau pasti akan mengalami bagaimana waktu begitu lambat merambat. Bukankah kau pernah belajar relativitas, dan kau menghafal rumus dilatasi waktu? Ketika kau dipertemukan bahagia, waktu seolah cepat berlalu. Seperti baru kemarin saja. Ketika kau mengalami duka, waktu tak kunjung beranjak”.
Semua penjelasan ibu memang bisa dipahami. Dan saat ini, memang benar waktu terasa lambat bagiku. Seolah detik yang berlalu tetap diam di tempat dan enggan bergegas. Waktu hanyalah sebutan belaka sebagai pembeda garis siang dan malam. Apalagi ketika aku telah mendengar dari tetangga dan teman-temanku kemarin. Kukira mereka akan memberiku semangat atau segala hal yang bisa menguatkanku. Nyatanya, tidak ada. Suamiku pun telah berusaha sebisa mungkin menenangkanku, dan berusaha masa bodoh dengan ucapan itu. Suamiku bisa, aku tidak bisa. Ucapan itu serupa pokok pohon yang masih tertinggal di kepala. Sewaktu-waktu dengan akarnya bisa saja ia bertunas, memekarkan daun, lalu jadi pohon besar yang mungkin malah menumbangkanku ketika pohon itu diterpa angin kencang.
Dulu, aku mengejar karir di saat teman-teman perempuanku banyak yang sudah menikah dan menimang bayi. Lucu memang. Aku sering melihat postingannya di Instagram. Namun, di saat yang lain sering mengeluh kerepotan dengan ekonomi, mengeluh cicilan mobil, belum bayar kontrakan, atas nama kerja keras aku dan suami, hingga detik ini, tak pernah aku merasa kekurangan. Rumah yang bagus. Kolam renang pribadi di sebelah kamar. Mobil dua. Ponsel terbaru dengan kamera boba super bening di belakangnya. Deretan ruko milik suami yang dikontrakkan. Lalu kosanku yang juga disewakan untuk para mahasiswa yang menuntut ilmu di sini. Itu belum dengan perawatanku setiap minggu ke salon, dan suami setia mengantar sambil kadang sering telepon dengan teman sesama bisnis propertinya.
Tuhan selalu melebihkan di satu sisi, lalu mengurangkan di sisi lainnya. Kata suamiku, itulah cara keadilan semesta bekerja. Lalu apa ada yang salah? Bahkan kekalutanku sekarang, rasa kurangku yang sekarang, aku yakin atas hak prerogatif-Nya. Suka-suka Tuhan mau memberi atau tidak. Termasuk dalam kelimpahan rezeki ini. Teman-temanku di Mesengger kadang inbox dan bilang mau utang. Kadang wajar, kadang tak kira-kira. Seratus juta aku transfer. Dua ratus, tiga ratus, oke. Satu miliar? Nanti dulu. Aku pilih-pilih yang mau kupinjami. Apalagi jika tahu temanku itu punya perangai buruk dilihat dari status Facebook-nya. Bisa saja uang itu disalahgunakan untuk pasang judi online. Mau jadi apa keluarganya. Judi merusak semuanya. Cuma orang bodoh yang mengharap kaya dari judi. Yang foya-foya tentu saja bandarnya.
Setidaknya aku masih beruntung di balik kekuranganku yang sering digunjingkan orang, aku selalu bersyukur telah diberi suami sabar, hobi bercanda, tak pernah marah, loyal, penyayang, dan yang pasti aku suka perut gemoy-nya. Itu paling utama untuk sandaran kepala jika aku sedang bersedih, atau aku kedingingan dan berusaha menghangatkan diri memeluk tubuhnya. Ia sudah periksa bulan kemarin, bersamaku, dan spermanya sehat. Atas rayuan dan keinginanku, aku pun sudah mengecek segala hal yang berkaitan dengan organ reproduksi ke dokter kandungan. Saluran rahimku sehat, dan tak ada benda atau hal lain yang menghalangi masuknya benih suamiku.
“Tidak aku temukan apa-apa setelah USG. Tidak ada penghambat di saluran tuba falopi. Kalian berdua benar-benar sehat. Mungkin Mbak-nya hanya stres saja. Mohon untuk selalu bahagia dan hidup sehat. Suami Mbak-nya bagus terus memberi semangat. Kurma muda, kerang, kacang, daging, telur, memang bagus untuk itu. Tinggal Mas-nya mungkin agak diet sedikit. Tak usah berlebihan. Kudengar kalian pernah mencoba safron. Itu juga bagus untuk sperma. Namun, manusia sebatas berusaha. Bukankah takdir ini adalah mutlak milik Tuhan. Lagi pula, coba perlahan-lahan resapi keinginan kalian ini untuk apa? Apa hanya karena ingin pamer di media sosial? Suami ingin disebut gagah? Atau biar rumah kalian tidak sepi? Tidak sesederhana itu. Ia titipan yang berat. Kalian harus janji dengan pemberian itu untuk memberinya pendidikan dan kesehatan yang layak. Memberinya ilmu agar ia berguna bagi negara, orang tuanya, dan tentu saja sebagai aset akhirat yang nanti pasti diminta tanggung jawabnya oleh Tuhan. Banyak juga orang tua yang malah kerepotan setelah dititipi makhluk berharga itu. Tak pandai merawat dan malah mencelakai orang tuanya. Abaikanlah orang-orang yang menggunjingmu. Belum tentu ia bahagia dengan keadaannya sekarang. Bukankah ukuran kebahagiaan relatif? Belum tentu setelah ia ada, kalian akan bahagia. Bagaimana jika kehadirannya malah menambah kerepotanmu, menggerus kebahagiaanmu. Mohon maaf, aku sudah menangani banyak kasus kelainan, dan itu sangat merepotkan orang tuanya dalam hal biaya. Jadi, ini bukan lomba. Siapa yang cepat, dia yang hebat. Yang di atas selalu punya hikmah dari ini semua. Ia selalu memilih siapa saja yang berhak menerimanya. Tuhan punya rahasia sendiri yang kalian tak akan pernah mengerti”.
Seorang perempuan dengan stetoskop melingkar di leher itu pernah menasihatiku. Ucapannya melebihi khotbah ustazah atau pendeta. Sejenak, hati dan pikiranku merasa dingin dan meredam. Sungguh, kesejukan ini yang kadang ingin aku dengar setiap hari selain dari suamiku sendiri. Beliau benar, di balik kekurangan yang lain, Tuhan selalu melebihkan di sisi lainnya. Tak terhitung sudah berapa kali suamiku mengajak jalan-jalan di akhir pekan. Ketika itu mobil kami terhenti, dan melihat seorang suami menyuapi anaknya di dalam gerobak di pinggir jalan. Kami melihat kotak kayu beroda usang yang hanya tertutup terpal robek di atasnya. Aku kaget saat istrinya muncul dari dalam, dan ia masih tertawa. Mengelus anaknya. Aku meminta berhenti, dan bertanya pada mereka, kenapa tak berteduh atau pulang ke rumah. Bukankah sekarang gerimis? Aku melihat rambut anaknya bagai ditabur gula pasir. Ada jawaban yang membuat hatiku teriris-iris tipis serupa bawang cacah. Ini rumah kami. Gerobak ini tempat kami pulang. Begitu jawabnya seolah tak ada duka dalam hatinya.
Selesai masuk ke dalam mobil, suamiku memelukku. Mengecup keningku berulang-ulang. Bertanya apakah aku sudah memberikan sesuatu untuk mereka? Sekadar jajan atau makanan? Aku mengangguk. Lebih banyak dari biasanya. Pipiku basah sedari tadi. Tersamar dengan rintik hujan. Mobil lalu melaju perlahan, dan aku masih ingat, kemarin pun suamiku selalu membawaku ke tempat-tempat di mana aku bisa pandai bersyukur. Namun, jika kadang tak sengaja aku membaca pesan sensitif entah di WA atau media sosial, ingin rasanya aku menghentikan waktu. Seolah tak ada kesempurnaan yang kubanggakan sebagai seorang wanita ketika dokter itu menghubungi pribadi via telepon, dan bilang aku punya rahim ganda. Dua uterus yang terpisah. Bisa hamil, tetapi kemungkinannya sangat-sangat kecil. Ia tak mau jujur di depan suamiku.
***
Detik yang berlalu kemudian bersembunyi, menelusup di balik selimut putih tebal seolah menahan kekalutan. Di depan cermin, ketika pantulan nyala televisi menyiarkan berita bayi yang dibuang di tong sampah, telah cepat berganti lagi menjadi berita kriminal. Seorang anak tega membunuh ibu kandungnya, karena tak dibelikan ponsel seri terbaru. Lalu berganti lagi berita seorang anak perwira polisi kedapatan membawa narkoba di sekolah. Berlanjut ke berita anak kiai ternama menghamili santrinya. Lalu jeda iklan.
Tak jauh dari televisi, di antara kaki-kaki ranjang di sebelah raga yang lemah tak berdaya, waktu masih merahasiakan dirinya dan merayap serupa ular, lalu mengendus sesosok tubuh yang terkulai lemas di lantai dengan noda merah pekat tercecer dari pergelangan tangan terciprat ke segala arah. Di atas ranjang, bantal dan guling berpelukan dalam ketakutan ketika delapan belas panggilan ponsel dari nama “Sayang” di atas meja lampu terus berdering dan tak terjawab. Ketika waktu masih terus merahasiakan dirinya, ada satu pop-up yang muncul sebelumnya di bilah atas. Di sana, ada satu kata terselip dalam deret kalimat yang agak panjang. Satu kata yang singkat, padat, lalu kata itu menjelma pisau yang membunuh: mandul
Editor : Arief