Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sangka yang Mendinding, Dosa Besar yang Paling Besar

admin • Jumat, 27 Maret 2026 | 09:01 WIB

H. Muhammad Tambrin
H. Muhammad Tambrin

           Oleh: H. Muhammad Tambrin 
           Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

       ***

“Tidaklah mendinding akan engkau dari pada Allah adanya sesuatu beserta Allah, karena tidak ada sesuatu beserta Allah. Dan tetapi yang mendinding engkau daripada Allah adanya sangkaan ada sesuatu beserta Allah Swt.”

Hikmah yang ke-134 Al Hikam Al Atha’iyyah, Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah

   ***

Disyarahkan oleh Al- Mukarram Al- Allamah Al- Arif Billah KH. Muhammad Bakhiet tidaklah menegah akan engkau, daripada musyahadah dengan mata hati engkau, oleh adanya sesuatu beserta Allah. Karena tidak ada beserta Allah itu sesuatu. Sesuatu yang tidak ada, tidak akan bisa menjadi dinding. 

Rasulullah Saw. menyatakan: “Ada-Nya Allah tidak ada beserta Allah sesuatu.” Pengertian lafaz ‘beserta’ itu menunjukan arti tandingan, persamaan, tersendiri dan itu mustahil dengan dalil naqli dan akal.

Adapun yang mencegah kita dari musyahadah kepada Allah dengan mata hati itu hanyalah adanya sangkaan ada sesuatu beserta Allah Swt. Sangkaan kita sendirilah yang mencegah. Padahal kenyataannya tidak ada yang menghalangi itu, tetapi mengapa bisa tercegah? Karena sangkaan kita bahwa ada sesuatu beserta Allah, padahal tidak ada.

Bermula yang ada pada alam ini, seperti bumi, gunung, laut dan langit, semuanya maujudun billah, ada dengan diadakan oleh Allah. Bukan maujudun maallah, adanya beserta Allah. Sesuatu yang ada dengan diciptakan oleh Allah, maka semestinya tidak mencegah untuk mengingat Allah dan tidak menghalangi hati kita untuk melihat kebesaran-Nya. Bahkan semua yang diciptakan Allah menjadi dalil yang jelas atas keberadaan Allah Swt.

Contoh, seorang laki-laki bangun di malam hari ingin buang hajat, maka dia mendengar suara dan disangkanya itu suara serigala. Ketika pagi datang, tidak ada serigalanya. Maka yang menyebabkan dia tidak jadi keluar rumah untuk buang air besar bukan ada serigala, tapi sangkaan dia bahwa ada serigala.

Ini contohnya, orang yang lupa Allah karena dia menyangka ada sesuatu beserta Allah, padahal tidak ada, maka sangkaan inilah yang membuat dia tidak bisa menyaksikan kebesaran Allah Swt.

Lebih jelasnya lagi, contoh orang yang menyangka bahwa makhluk bisa memberi manfaat, kenikmatan dan kebahagiaan. Akibat sangkaan itu dia tercegah ingat Allah, syukur dan memuji Allah. Bahkan dia senantiasa ingat, mensyukuri dan memuji, bahkan mengutamakan dan menggantungkan harapan kepada makhluk ini, akibat dia menyangka makhluk bisa memberi manfaat.

Orang yang menyangka bahwa makhluk bisa memberi manfaat, secara otomatis dia lupa kepada Allah, terdinding daripada Allah karena sangkaannya.

Padahal jika dia berpikir bahwa makhluk itu ada karena diadakan Allah, maka makhluk itu tidak ada daya dan upaya, maka tidak bisa makhluk itu memberi manfaat. Sebenarnya pemberi manfaat itu hanya Allah. Jika demikian pikirannya, niscaya dia selalu ingat, syukur, memuji, mengutamakan dan berharap hanya kepada Allah Swt.

Lantas mengapa bisa muncul sangkaan pada hati bahwa makhluk bisa memberi manfaat? Ternyata karena ketiadaan berfikir, tafakur. Seandainya berpikir dan meneliti, baik secara naqli Alquran dan Hadits maupun dalil aqli. Maka tidak akan muncul sangkaan bahwa makhluk dapat memberikan manfaat. Sebab ketiadaan berpikir adalah karena sibuknya hati dengan dunia dan mencintainya.

Hati sudah penuh dengan pemikiran-pemikiran dunia, akibatnya tidak bisa lagi diisi dengan tafakur. Membaca Alquran saja tidak bisa lagi apalagi mendalami dan mendalaminya karena pikiran hati sudah sibuk dengan kehidupan dunia ini.

Membaca Alquran sebulan khatam pun tidak berpengaruh. Kenapa? Sebab tidak mendalami makna dan tidak memikirkannya. Mengapa? Karena hatinya penuh dengan pikiran duniawi, ini pangkal sebabnya. Inilah sebab yang menghalangi musyahadah dan menghalangi perjalanan kita menuju hadrat Allah Swt.

Hati ini hanya satu, Allah tidak menciptakan dua hati dalam tubuh seseorang. Apabila satu hati ini sudah dipenuhi dengan pikiran duniawi, maka tidak ada lagi hati yang berpikir untuk mencari dan mendalami tentang kejadian alam semesta ini, dan akibatnya maka muncul sangkaan tadi.

Rasulullah Saw. Bersabda: Artinya: “Dosa besar yang paling besar itu adalah mencintai kehidupan duniawi ini.” Kenapa sebabnya? Dijelaskan Nabi Saw. Lagi, Artinya: “Sebab cinta dunia ini adalah pokok dasar segala macam dosa dan kesalahan.”

Kenapa banyak di antara kita banyak putus silaturahmi? Karena urusan duniawi. Kenapa ada perang? Urusan duniawi umumnya. Kenapa kita lalai salat? Karena kesibukan dunia. Kenapa kita melanggar hukum Allah? Karena dia cinta dunia. Kenapa suka korupsi? Karena cinta dunia.

Maka mencintai dunia ini adalah pokok segala dosa, kalau  kita bisa mengurangi cinta dunia berkurang juga dosa kita, karena dari situlah sumbernya. (*)

Editor : Arief
#Tarbiyah